
Kevin mendorong Putri untuk masuk ke dalam ruang ganti, dan menunggu Putri di dalam ruangan itu.
"Vin.. keluar sana" pinta Putri.
Kevin menggeleng
Sementara Ajin, segera melepas jasnya, dan menutup bagian paha Vena yang terbuka, kebetulan baju yang ia suka, ada di sebelahnya, langsung diambil,
"kau coba ini saja." suara Ajin sangat pelan, hanya mereka berdua yang bisa mendengarkan suara Ajin itu.
Vena nampak bingung, dan jalan kembali menuju ruang ganti pakaian dan mencoba pakaian yang Ajin maksud.
"Not bad" ucap Vena.
Begitu lihat harganya..
"What.. mahal sekali. Untuk baju seperti ini, harus menghabiskan 850 ribu."
Vena mengeluarkan kepalanya, Ajin sedang melihat baju lainnya, sesekali ia melirik ke arah ruang ganti yang tidak jauh dari tempat ia berdiri.
"Pak.. Pak Sekretaris" Vena melambaikan tangannya.
Ajin tersadar, akan lambaian itu.
Vena keluar dengan malu-malu, Dress itu cukup panjang, sampai ke mata kaki, tetapi menampilkan keanggunan yang dia inginkan. Hanya pundaknya tampak terlihat sedikit, karena model pundak terbuka. Warna baju peach itu sangat cantik dipadu padankan dengan warna kulit Vena yang putih.
Ajin tidak mengedipkan matanya.
Sampai akhirnya, Vena kembali masuk dan mengganti pakaiannya.
Vena keluar dan menyerahkan pakaian itu kepada Ajin.
Tak lama, Putri dan Kevin keluar,
"Lama sekali kau di sana" ucap Vena.
__ADS_1
"Kau lihat, aku harus mencoba baju-baju ini semua. Kelakuan Kevin." ucap Putri sambil senyum-senyum sendiri.
"Sayang, aku ingin punya baju yang sama dengan Vena, kalian pilihkan baju untuk kami ya, aku lelah" ucap Putri kemudian duduk.
"Ayo, Jin, bantu aku memilih baju untuk mereka" ajak Kevin.
Lama mereka muter-muter tempat itu, dan akhirnya menjatuhkan ke satu baju pilihan, Baju model tunik.
"Apa-apaan itu" ucap Putri.
"Tidak, aku tidak suka. Sudahlah, nanti biar kami yang cari sendiri" lanjutnya.
"Tapi dengan syarat, tidak yang sexi, aku tidak mau laki-laki melirik dengan nafsu padamu" ucap Kevin.
Putri hanya menggelengkan kepalanya, dan Vena yang tersenyum berjalan menjauhi Kevin dan Ajin.
Putri dan Vena sangat asik memilih baju yang sesuai dengan syarat yang diberikan oleh Kevin. Mereka kadang suka tertawa dengan pakaian yang dipilih.
"Bagaimana kalau baju ini" ucap Putri.
"Itu terlalu mahal, Put. Yang lain saja, bisa habis gajiku" Vena beralih ke tempat lain.
Putri dan Vena terus memilih baju, dan sama-sama memegang baju yang sama.
Lalu mereka tertawa bersama.
Kaos couple, bergambar Micky mouse.
"Nah, kau juga harus memakainya. Bagaimana kalau weekend ini kita ke puncak. Kita bisa pakai ini sama-sama. Aku juga akan mengajak Putra. Bagaimana?" tanya Putri.
"Baiklah, kau pilihkan untuk putra juga. Ok" pinta Kevin.
Setelah mereka selesai memilih baju, dan membayarnya, mereka berpisah.
"Kau antarkan Vena pulang ya, Putri kelelahan. Kau tidak apa kan Ven, kalau diantar Ajin?" tanya Kevin.
__ADS_1
"Aku bisa naik bis kok. Serius" jawab Vena.
"Tidak, ada laki-laki ini, manfaatkan dulu dia, ajak dia untuk makan dulu ya, Jin." pinta Kevin lagi.
"Kau antar dia sampai rumah, jadilah laki-laki bertanggung jawab" Kevin menepuk pundak Ajin.
"Aku duluan ya, Ven, badanku lelah sekali." ucap Putri meminta maaf karena tidak bisa berlama-lama lagi.
Ajin dan Vena jalan berjauhan, Vena di depan Ajin, mereka menuju parkiran mobil. Dan membukakan pintu mobil untuk Vena.
"What, laki-laki dingin ini bis berbuat seperti ini" gumamnya dalam hati.
"Silahkan" ucap Ajin yang menyadarkan Vena yang sedang terlihat diam menatap Ajin.
Mereka keluar dari parkiran itu, tanpa ada sepatah kata keluar dari mulut keduanya, sampai akhirnya, mobil Ajin parkir tepat di depan kos-kosan Vena.
"Terima kasih, kau telah mengantarkan aku pulang." ucap Vena.
Ajin menoleh ke belakang dan mengambil papper bag, ia menyerahkan kepada Vena.
"Untukmu" ucap Ajin kaku, dan meletakkan di atas paha Vena.
"untukku?" tanya Vena.
"Ya, karena kau telah memilihkan aku baju tadi"
Vena tertawa lebar.
"Itu kan semua Putri yang bayar, aku tidak diperbolehkan Putri untuk bayar baju itu."
"tetap sama saja." ucap Ajin tetap kaku memandang lurus ke depan.
"Baiklah, terima kasih atas tumpangannya" Vena turun dan langsung masuk ke dalam rumah itu.
Ajin memeriksa mobil itu, apakah ada barang Vena yang tertinggal lagi, karena, kalau ada, ia tidak bisa tidur lagi memikirkan barang milik Vena.
__ADS_1