
Malam terakhir Vena dan Ajin sangatlah indah. Mereka menghabiskan waktu dengan saling mencurahkan cinta. Sampai mereka tidak sadar, matahari pagi sudah menunjukkan wajahnya.
Vena bangun dari tidurnya, ia menatap laki-laki yang sudah mengambil keperawannya itu. Muka Ajin yang tampak serius sangat berbeda saat ia tidur.
"Yang, kau sudah bangun?" tanya Ajin, membuka matanya.
"Sejak kapan kau bangun?" tanya Vena lagi.
"Sejak kau bangun. Kan kita harus siap-siap pulang ke Jakarta." Tapi, Ajin menarik tubuh Vena kembali.
"Yang, kita harus siap-siap," Vena sebenarnya nyaman berada dalam pelukan Ajin, tubuh Ajin yang hangat, membuat ia ingin sekali kembali melanjutkan tidurnya,
"Yang, terakhir di Bali, kan?" bisik Ajin.
Vena mengangguk, dan Ajin melancarkan maksudnya.
Dasar pengantin baru. Gelora bercintanya masih sangat menggebu-gebu.
Setelah mereka, mengatur nafas masing-masing, Vena bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Ia sangat malu, ketika cahaya menyaksikan pertempuran mereka.
"Yang, aku udah mandi. Sana mandi, kita harus siap-siap" Vena keluar dengan wajah berseri-seri.
Tapi saat yang bersamaan ia menghentikan langkahnya, melihat ke arah Ajin, yang kembali tertidur. Vena menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Yang. Yang bangun. Mas Ajin, nanti kita ketinggalan pesawat" Vena menggoyangkan tubuh Ajin.
"Give me one Kiss" ucap Ajin.
Vena menggelengkan kepalanya.
Dan mencium bibir Ajin, kemudian ia meninggalkan Ajin yang sudah membuka matanya.
Vena sudah duduk di depan meja rias, dan mengeringkan rambutnya,
"Hm.. cantik sekali istriku," Ajin menggombal dan mencium rambut Vena, yang masih basah.
"Sana, mandiii" Vena mendorong tubuh Ajin.
**Akhirnya pasangan pengantin baru itu sudah tiba di Jakarta. Mereka dijemput oleh sopir kantor. Kevin yang sudah merencanakan semua. Sesuai permintaan Ajin, sopir membawa mereka ke kosan Vena terlebih dahulu.
"Ambil secukupnya aja dulu, yang. Nanti kita kesini lagi. Aku harus bertemu Kevin dulu," sambil ikut merapikan barang-barang yang akan dibawa ke rumah Ajin.
Vena mengikuti apa yang diminta Ajin.
Sampai di rumah Ajin, tidak ada yang berubah, semua tetap sama. Tapi saat masuk kamar Ajin, sesuatu berbeda.
"Apa kau suka?" tanya Putri ke Vena.
"Hei, sejak kapan kau ada di sini?" Vena memeluk sahabatnya itu.
__ADS_1
"Selamat datang di Jakarta lagi, nyonya Ajin." Putri mencubit pipi sahabatnya itu.
"Dapat kunci dari mana?" Ajin masih tampak bingung.
"Hei, kau lupa? Aku punya kunci rumahmu." Kevin menunjukkan sebuah kunci di tangannya.
"Kau meletakkan di mobilku" lanjut Kevin.
Lalu mereka tertawa.
Setelah meletakkan semua barang-barang milik Ajin dan Vena, mereka makan bersama, Putri sudah membawa makanan untuk mereka makan siang bersama.
"Yang, aku akan ikut bos ke kantor ya, karena si bos akan berangkat ke UK, malam ini." Ajin meminta izin kepada Vena.
"Apa kau tidak keberatan, aku langsung kerja?" tanya Ajin memegang tangan Vena.
"Aku tidak akan lama, hanya melihat pekerjaan yang lama aku tinggalkan saja. Sebentar saja."
Vena sebenarnya belum paham dengan rumah itu. Ia tidak tau seluk beluk rumah itu.
Tapi, ia sudah sadar, menikah dengan orang yang gila kerja. Dan ia sadar, Ajin adalah tangan kanan Kevin. Jadi, mau tidak mau, ia sudah menerima konsekuensinya.
"Aku akan menemanimu, sampai sore. Nanti, aku dijemput Kevin pulang." ucap Putri menenangkan sahabatnya itu.
Vena lega akhirnya, ia tidak sendiri di rumah yang baru ia datangi.
__ADS_1