
"Hi, honey. Sedang apa kau" Bu Rani membuka pintu kamar tidurnya dan menghampiri suaminya. Ia memeluknya.
"Do you Miss me?" tanya Rani.
"Off course, i really Miss you, honey" jawab Hary
"Apa yang kau lakukan di sini, honey?"
"Tidak, aku sedang menunggumu. Aku hanya sangat merindukanmu" Suami istri ini, selalu mesra. Mereka sudah bersama selama 30 tahun, dan setiap ada masalah, mereka berdiskusi secara kepala dingin.
"Honey, duduk di sebelahku." ajak Hary.
"Ceritakan kepadaku, apa saja yang kau lakukan hari ini" lanjutnya.
Bu Rani menceritakan ia pergi berbelanja bersama teman-temannya, dan makan bersama temannya.
"Aku membelikanmu topi ini. Kau pasti makin tampan dengan topi ini" Rani kemudian berdiri, kemudian membuka bungkusan yang berisi topi untuk suaminya.
__ADS_1
"Sudah kuduga, kau makin tampan, love you honey" Rani mengecup mesra pipi suaminya itu yang masih duduk di tempat yang sama.
"Terima kasih, honey. Kau sudah sangat baik menemaniku di masa tuaku. Aku tidak tau, bagaimana kalau aku tidak menikah dengan kau. Oh ya honey, tadi aku mengunjungi Kevin dan istrinya. Bahkan aku meminta mereka mengunjungi kita. Bagaimana kalau kita membuat pesta kecil. Kita undang teman-teman kita, dan kita kenalkan istri Kevin ke semua orang. Apa kau tidak keberatan"
Mata Rani langsung melotot.
"Apa?" teriak Rani dalam hati.
"Sebentar lagi, anggota keluarga kita akan bertambah, Putri dan cucu kita" ucap Hary dengan sangat manis.
"Aku, tidak peduli,. siapa dia, dari mana asalnya, yang aku tau dan aku lihat, dia sangat mencintai dan peduli terhadap anak kita."
"Bagaimana kau tau kalau perempuan itu sangat mencintai dan peduli terhadap Kevin?"
tanya Rani
"Aku sudah membuktikannya tadi. Hanya dia terlalu polos, dan apa adanya. Mungkin, Kevin jatuh cinta karena sifat yang dimiliki Putri" jawab Hary dengan tersenyum.
__ADS_1
"Honey, kau sudah memanggil namanya?" Rani sangat kaget, ketika suaminya sudah menyebut nama perempuan itu.
"Ya, aku tau namanya Putri Anindita. Honey, mungkin kau lebih tau duluan tentang identitas Putri. Ya kan?" ucapnya sambil memeluk istrinya itu.
"Kau ingat dulu, ketika aku mengenalmu, saat itu aku lari dari sini, dan menetap di Indonesia. Aku tidak suka keluargaku selalu menjodohkan ku dengan pilihan mereka. Aku mengenalmu dengan kesederhanaanmu. Kau baik terhadapku. Dan aku mencintaimu." Hary mengenang masa mudanya saat ia bertemu dengan Rani.
"Aku rasa, Kevin pun sama sepertiku, ingin memilih pasangan hidupnya sendiri, Sudah berapa banyak perempuan yang kau dekati untuk Kevin, dan semua Kevin tolak, padahal mereka bukan dari keluarga sembarang. Kau ingat honey" tangannya menggenggam tangan Rani yang ia tau kalau istrinya sedang menahan emosi.
Rani hanya terdiam dan mengangguk pelan. Ia tau, suaminya tidak akan berbicara sembarang. Tapi, Ia merasa malu, karena ia sudah berjanji untuk mengenalkan Kevin kepada anak sahabatnya. Bagaimana ia mengatakan kalau Kevin sudah menikah.
"Sudahlah, bagaimana kalau kita mempersiapkan pesta kecil itu. Dan persiapkan beberapa hadiah untuknya, anggap saja sebagai hadiah pernikahan untuknya. Aku akan menemanimu mencari hadiah itu, bagaimana?"
"But, honey.."
"Sudahlah, kau lelah. Istirahatlah, aku juga lelah, seharian menantimu" ucap Hary mencium kening Rani.
"Kita lihat saja nanti, apa kau bertahan dengan Kevin?" kekesalan dalam hati Rani yang masih tidak bisa menerima kehadiran Putri di dalam keluarganya, membuat ia menutup mata.
__ADS_1