
Ajin masuk ke dalam ruangan itu lagi dengan membawa pesanan Kevin. Ia meletakkan jus dan buah-buahan segar di dalam kulkas ruangan itu. Dan cemilan di depan Putri.
"Hei, pak sekretaris, aku ingin ke kamar mandi. Tunjukkan aku dimana letaknya. Aku tidak mau mengganggunya. Aku ingin keluar ruangan ini" pinta Ajin.
Ajin dan Putri mengendap-endap keluar ruangan itu. Kevin masih sibuk dan tidak memperhatikan kalau Putri tidak ada di dalam ruangan itu.
"Apa begitu kelakuan bosmu di kantor?"
tanya Putri.
Ajin hanya diam.
"Ah.. bos dan anak buah sama-sama menyebalkan"
"Amira, hantarkan nyonya ke kamar mandi" perintah Ajin ke asisten sekretarisnya.
Di kantor itu, Kevin mempunyai 2 sekretaris. Karena Ajin selalu menemaninya, Amiralah yang selalu jaga gawang.
"Mari ikuti saya, nyonya"
Sifat kaku mungkin selalu ada di kantor ini. Begitulah pemikiran Putri.
"Amira, jangan sungkan. Aku bukan bosmu" ucap Putri memegang tangan Amira.
"Tapi nyonya.."
"Tidak ada tapi, kita bisa jadi teman. Oke"
Amira mengangguk pelan.
Setelah dari kamar mandi, Putri meminta Amira menemaninya ke ruang dapur. Mereka minum teh sambil bercerita tentang kevn dan kantor itu.
"Jadi, nyonya dan pak Kevin sudah menikah sebelum berangkat ke UK itu?"
__ADS_1
"Ya, gitu. Aku juga bingung kenapa ketika dibawa ke KUA langsung mau aja."
Mereka tertawa bersama, dan tidak menyadari, sepasang mata memperhatikan gerak gerik mereka yang tampak bahagia. Sesekali mereka minum teh buatan Amira.
"Ehem" suara dehaman itu, mengejutkan keduanya.
"Viiin.. kau mengagetkan aku saja" Putri dan Amira langsung terbangun dari duduknya.
"Ada yang bisa saya bantu, pak?" tanya Amira yang terkesan ketakutan dengan kehadiran Kevin.
"Aku ingin minum, tapi kau aku panggil-panggil tidak kunjung datang, ternyata sedang menggosipkan aku dibelakang ku"
Muka Amira makin tegang.
"Maaf, pak" ucap Amira menunduk.
"Sudah, aku sudah memaafkanmu, karena kau berhasil membuat istriku tertawa." Kevin mengambil gelas dan menyeduh tehnya sendiri.
Putri menarik tangan Kevin
"Jangan galak-galak, bos. Aku yang salah, aku yang mengajaknya ngobrol di sini"
"Aku tidak marah, hanya tadi aku kehilanganmu saja, kapan kau keluar pun aku tidak tau." Kevin mengambil gelas teh itu, dan mengajak Putri kembali ke ruangannya.
"Tumben, pak Kevin, ke dapur, biasanya Amira atau pak Ajin yang sibuk mengurusinya" para karyawan bisik-bisik melihat perilaku aneh dari bosnya.
"Istri si bos sederhana sekali, sepertinya bukan dari kalangan atas."
"Kok bisa ya?"
"Apa istimewanya istri pak Kevin itu"
Semua yang melihat Kevin dan putri, pasti membahas pernikahan mereka.
__ADS_1
Ajin datang dari arah yang tidak mereka tau,
"Kerjakan tugas kalian saja, kalau kalian masih ingin bekerja di sini" Ajin berlalu dan mereka langsung membisu.
Di kantor itu, selain Kevin, Ajin juga salah satu orang yang ditakuti.
"Pak Ajin, kenapa di ruangan tidak melepas kacamatanya?" tanya salah satu karyawan magang di sana.
"Heh, diam. Jangan berisik. Sebaiknya kita kembali ke meja masing-masing"
Ajin masuk ke ruangan Kevin, membawa berkas yang harus diperiksa.
"Ada apa dengan matamu? Tidak sopan, buka kacamatamu!" perintah Kevin
"Tapi.." Ajin menghentikan pembicaraan, karena Kevin sudah memperlihatkan wajah tidak suka. Ia membuka kacamatanya.
Kevin tertawa terbahak-bahak.
"Ada apa dengan matamu. Sepertinya kau tidak tidur semalaman."
Putri melihat mata Ajin.
"Kasian sekali, kau harus mengompres matamu"
"Sayang, perhatian sekali kau dengan Ajin"
Kevin menunjukkan rasa cemburunya.
"Kau keluarlah, lakukan saran istriku" ucap Kevin.
Ajin segera keluar, dan meletakkan berkas itu di atas meja Kevin.
"Kau selalu seperti itu. Semua kau curigai" Putri kembali ke sofa dan membuka ponselnya.
__ADS_1