Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
we not me


__ADS_3

Sesekali, Kevin melirik perempuan yang duduk di sampingnya. Putri menutup mukanya. Ia malu. Mengingat kejadian ia mengungkapkan perasaan yang seharusnya ia tutupi.


"Mulai hari ini, aku akan selalu mendampingimu. Tidak ada kontrak itu lagi. Kontrak itu akan aku bakar. Dan ruko itu akan atas namamu. Jangan menutupi mukamu. Aku tidak bisa melihatnya" Kevin menepis tangan yang menutupi muka Putri dan terus melihatnya.


"Sudaaahhh.. aku malu.."


Kevin tertawa lepas.


Sebuah salon ternama, Putri yang takut masuk, ditarik oleh Kevin yang merangkulnya.


"Sudah lama sekali, apa kabarnya tuan Kevin?" Sapa seorang yang di duga pemilik salon itu.


"Baik, aku mau kau mencuci rambut perempuan ini, jadi ia makin cantik," ucap Kevin sambil melirik ponselnya.


Putri diajak masuk ke ruangan,


Kevin membalas email yang masuk.


"Apa ini? Aku harus berangkat lusa? UK? Padahal aku sedang bahagia." ucapnya kesal.


"Jin.. sedang apa kau. Dimana kamu? Aku sedang bersama Putri. Ya.. Besok, aku sudah lihat. Tidak.. Urus semua penerbangan dan tempat tinggal. Ya, aku akan menunggummu. Jangan.. Tunggu perintahku."


Suara Kevin tampak kesal.


Tapi, di sisi sana, Ajin tampak bahagia mendengar bosnya sudah kembali bersama Putri.


"Sebelumnya, urus dulu masalah kemarin yang tertunda." ucap Kevin.

__ADS_1


"Bos... taraaaa.. Bagaimana? Sudah sempurna belum?" tanya pemilik salon itu.


Kevin hanya membuka matanya dan tidak berhenti menatap Putri yang sudah disulap. Rambutnya yang panjang, dipotong sedikit dan dirapikan.


"Cantik sekali. Kau bertemu bidadari dari mana?" tanya Kevin masih duduk dan memandang Putri.


Putri merasa risih dan ia memukul tangan Kevin.


"Terima kasih banyak, aku tau harus kemana kalau urusan begini" Mereka berjalan ke kasir dan berpisah. Kevin menggeraikan rambut Putri.


"Aku suka, dan harumnya.. hmm.. membuat aku mau mencium rambut ini terus." Kevin berjalan merangkul tubuh mungil itu dan mencium aroma rambut Putri.


"Sayang, bantu aku menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa ke UK. Aku harus pergi, ada sedikit masalah di sana."


"Kapan berangkatnya?"


"Aku berpikir, akan pulang kampung."


"Memangnya, libur?"


"Ya, tempat kursus kan butuh liburan juga, jadi 1 tahun kami 3 kali masa liburnya. Walau tidak lama, tapi lumayanlah."


"Berapa lama?"


"Sepekan saja"


"Oh, kau harus ikut aku, setelah pulang dari UK, kita ke kampung halamanmu. Bagaimana? Aku juga butuh kamu untuk mempersiapkan keperluanku"

__ADS_1


"Kan ada sekretaris Ajin."


"Tapi aku lebih menginginkan kamu"


Putri hanya diam. Ia sadar, ia bakal kalah bila berdebat dengan lelaki itu.


Sampai di rumah Kevin, ia mulai menyiapkan pakaian dan peralatan Kevin.


"Berapa lama kau akan di UK?"


"We not me"


"Serius, jangan bercanda" ucap Putri.


"Sure. Kau harus menemaniku. Kau kan nyonya Kevin. Seharusnya kau selalu mendampingiku"


"Kita baru saja menjalani hari ini bersama. Bagaimana aku jadi istrimu" Putri meletakkan baju yang akan dipakai.


"Lihat saja nanti. Kau tau bagaimana aku"


Putri menggelengkan kepalanya. Ia sudah sering mendengar kegilaan laki-laki itu.


"Bagaimana bisa ia berpikir gitu" ucapnya.


"Selesai.." Putri menarik nafas lega.


"Vin, kita ngukur jalan yok. Kita ke alun-alun saja" teriak Putri sambil membuka kulkas.

__ADS_1


"Ya sayang" Suara Kevin mengejutkan Putri sehingga gelas yang ada di tangannya terjatuh pecah menimpa kakinya.


__ADS_2