
Ajin kembali ke posisinya, dan melajukan mobilnya lagi.
Mereka berhenti di pinggir pantai.
Di sana sangat ramai. Karena ini malam Minggu, suasana di pinggir pantai dipenuhi oleh pasangan muda.
"Seandainya ada Putri. Ia sangat senang dengan deburan ombak ini" ucap Vena.
"Nona Putri, pasti sudah bertemu dengan tuan Kevin. Mereka pasti sedang bahagia. Perjalanan panjang ini, semoga tidak ada halangan lagi untuk mereka bahagia. Aku tau, nona Putri orang yang tepat untuk tuan Kevin."
"Ya, kau benar. Kevin memang orang yang baik. Dan aku percaya, cinta mereka tidak akan terpisahkan" ucap Vena.
Suasana malam itu ditemani oleh lampu seadanya, membuat mereka sangat melepaskan kepenatan yang ada. Ajin merasa hampir 2 Minggu ini sangatlah berat. Ia butuh refreshing.
"Bukankah Kevin sahabatmu, pak? Kenapa kau panggil dia tuan?" tanya Vena lugu.
"Karena dia bosku di kantorku. Tidak ada pertanyaan yang lebih sulit apa?" ucap Ajin ketus.
"His.. kenapa kau marah." Vena membalikkan tubuhnya.
"Kau seharusnya, bertanya padaku, siapa perempuan yang aku ceritakan tadi, kenapa kau bertanya yang sudah ada jawabannya." Ajin membalikkan badannya.
"Apa pentingnya, toh itu bukan aku juga" Vena masih memunggungi Ajin.
"Bagaimana seandainya perempuan itu adalah kamu" Ajin mulai duduk kembali memandang air laut yang saling bersautan.
"Kau jangan bercanda. Aku bukan tempat candaan bagimu" Vena masih merasa kesal sekali.
Ajin berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Ia berlutut di depan Vena.
Ia membuka sebuah kotak di depan Vena.
"Apa-apaan ini!" ucap Vena.
"Ah.. bubar kan. Tadinya aku mau bersikap romantis gitu. Udah deh. Ini, ambillah" Ajin kembali ke mobilnya.
Vena membuka kotak kecil itu.
Ia bingung, kenapa isinya sepasang cincin.
Apakah Ajin bermaksud untuk meminta pendapatnya, tentang cincin itu. Apakah cincin itu akan diberikan kepada perempuan yang tadi Ajin ceritakan.
Vena menyusul Ajin ke dalam mobil.
"Ini" ven mengembalikan kotak itu.
"Kau ini" Ajin makin kesal.
"perempuan ini bagaimana sih, ini kan cincin untuk dia. Kenapa dia begitu. Haduh. Bagamana cara menerangkan padanya." Ajin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Ia mengambil minuman yang ia beli tadi, dan meneguknya.
"Ven, aku mau ngomong serius"
ucap Ajin.
Vena tertawa.
__ADS_1
"Memangnya kapan kamu tidak serius, sih pak. Mukamu aja menandakan kau sangat serius"
Ajin menutup mulut Vena.
"Dengarkan aku. Aku bukan orang yang romantis. Tapi ini untuk kamu" Ajin menyerahkan cincin itu ke tangan Vena.
Vena terdiam, terpaku sejenak, terdiam tanpa mengatur nafasnya.
Vena menutup mulutnya yang hampir menganga.
"Jadi, cincin ini? Jadi maksudmu, perempuan yang kau maksud, ah.. jangan bercanda.. Gak lucu." Vena mengembalikan cincin itu ke tangan Ajin lagi.
Ajin makin bingung.
"Vena, aku serius. Entah kapan perasaan ini tumbuh, yang aku tau, aku mulai mengagumiku, aku menyukaimu, dan aku siap untuk menikah denganmu. Apakah kau menerima aku dengan segala kekuranganku?"
Vena masih belum percaya ucapan Ajin.
Walau hatinya berdegup kencang, rasanya jantungnya akan melompat dan berkata "Ya, aku mau", tapi.. ia takut hanya jadi permainan pak sekretaris itu saja.
"Ven, aku bertanya kembali kepadamu." ucap Ajin.
Vena berpikir, ini bukan main-main.
"Jadi ini serius?" tanya Vena.
Ajin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ini kotak kecil, berisi cincin yang akan mengikatmu untukku. Kalau kau mau jadi istriku, pakaikan cincin itu di jariku, tapi kalau tidak silahkan kau pakai"
__ADS_1
Ajin sudah pasrah dengan kelakuan Vena.