Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Hamil lagi?


__ADS_3

"Kau merusak segalanya. Kau sangat egois" Roni tidak pernah marah apalagi membentak Bernika.


"Ron.. Roni.. Roni... jangan tinggalkan aku." teriak Bernika memanggil Roni.


"Aku minta janga tinggalkan ku, demi anakmu ini" pinta Bernika.


Roni menghentikan langkahnya.


Ia paling tidak bisa kalau urusan anak yang ada di dalam kandungan Bernika.


Ia akan melakukan apa saja demi anak itu.


Roni membalikkan badan, dan menuju ke arah Bernika.


"Kau membuat usahaku sia-sia, kau tau itu." Roni sedikit frustasi.


"Maafkan aku. Aku stress berada di sini." Bernika menggaruk kepalanya.


"Ini semua salahmu, sudah aku peringatkan, hentikan semua, tapi kau tidak pernah mendengarkan aku, tidak pernah menganggap aku ada. Sekarang, kau yang menikmati hasilmu. Jangan salahkan aku atas perbuatanmu ini. Yang aku pikirkan sekarang adalah anakku yang berada di perutmu."


"Hei.. Roni.. kurang ajar sekali kau ini." teriak Bernika.


"Terserah kau saja, tapi kalau ada apa-apa dengan anakku, kau akan tau akibatnya. Itu anakku, buka anak Kevin" ucap Roni.


Bernika tertawa.


"Apa kau yakin, anak ini adalah anakmu? Kau kan tau, teman laki-laki yang aku miliki sangat banyak, dan aku bisa bermain di atas ranjang dengan siapa saja" Bernika kembali tertawa.


Roni membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Kau. kau ini" tunjuknya, dan meninggalkan Bernika yang seperti orang gila tertawa di dalam sel itu.


Roni menendang apa saja yang ada di depannya. Dia menghempaskan tubuhnya di jok mobilnya.


"Dasar perempuan tidak tau diri." ucapnya sambil berteriak.


Ia meninggalkan parkiran lapas wanita itu dan kembali ke rumahnya.


Ia terus memikirkan ucapan Bernika.


"Apa betul itu bukan anakku?" tanyanya dalam hati.


Sementara Kevin dan Putri, masih berkeliling kota Jakarta, mereka membicarakan masalah Ajin dan Vena.


"Bagaimana tempat kerjaku, Vin. Aku boleh kembali kerja. Sementara Vena nanti akan sibuk dengan urusan pernikahannya."


"Sayang, bagaimana kalau rukomu dijual saja. Untuk mencari karyawan baru aku yakin mudah, tapi untuk yang bisa kau percaya kan susah" jawab Kevin.


"Kau juga harus fokus mengurusku dan aku kan harus fokus membuat ganti yang hilang" ucap Kevin.


"Maksudmu?" tanya Putri.


"Haduh, kenapa dia ini masih seperti ini saja" batin Kevin sedikit tertawa.


"Ya, kita kan harus buat anak lagi" Kevin menggendong tubuh mungil itu ke dalam kamar mereka.


Hari sudah pagi, ketika mereka menyadari bahwa mereka masih ada di dalam selimut bersama, baju yang tampak berserakan di lantai, karena adegan semalam membuat putri tersenyum malu.


"Ayo bangun, kau akan kesiangan kalau belum juga bangun" ajak Kevin.

__ADS_1


"Mandi sana, aku akan menyiapkan keperluanmu"Putri membalut tubuhnya dengan selimut.


Kevin masih duduk menatap Putri.


"Vin, cepat, sudah siang."


Kevin dengan muka manyun, menatap Putri.


"Mau apa?" tanya Putri.


"Mandiin" ucapnya seperti anak kecil yang meringis meminta sebuah lollipop.


"Kau ini, ayo cepat." Putri menjawab sambil malu-malu.


"Yeay..." teriak Kevin dan bangun dari tempat tidurnya, sambil menggendong Putri.


Ajin sudah berada di rumah Kevin.


Mereka akan menuju tempat meeting, karena jadwal pagi ini harus bertemu client.


"Aku pergi kerja dulu ya, sayang" Kevin mengecup kening Putri dan membelai perut Putri.


Ajin hanya diam. Kemudian dia bertanya.


"Memangnya Putri sudah hamil?"


Kevin tersenyum.


"Doakan saja ya, aku baru semalam menyentuhnya"

__ADS_1


Ajin tertawa, "memangnya sekali sentuh jadi, kau ini ada-ada saja"


Kevin tersenyum, dan mereka berangkat menuju tempat meeting itu.


__ADS_2