
Putri membuka matanya, perutnya terasa perih. Ia membuka pintu kamar, dan terkejut, Kevin dengan muka polos tidur di lantai itu.
"Apa-apaan ini? Kenapa tidur di lantai? Nanti kalau sakit bagaimana?"
Kevin memegang kaki Putri.
"Maafkan aku Put. Maafkan aku." matanya tertutup.
Putri kaget. Ternyata Kevin mengigau.
Putri melepaskan tangan Kevin dengan pelan-pelan, dan ia keluar dari kamar itu. Mencari sesuatu yang bisa di makan.
Dan karena Kevin tidur di depan kamar itu, ia tidak mungkin melangkahi suaminya itu. Terpaksa ia kembali ke kamar mereka. Putri mencari selimut tebal untuk Kevin, dan menyelimutinya. Setelah selesai, ia kembali ke kamar mereka.
Matahari belum lagi muncul dengan sempurna, tapi Kevin sudah teriak-teriak.
"Putri, sayang.. Put.. dimana kau? Putri.. Jangan pergi" Kegaduhan itu membuat semua pegawai yang bekerja di rumah itu geger.
"Maaf den, ada apa?" tanya si mbak.
"Cari istriku, cepat. Ia tidak ada di kamar."
Semua tampak sibuk. Satpam pun dibuat heboh, mengenai hilangnya Putri.
"Nyonya tidak keluar rumah, den." ucap satpam.
__ADS_1
Mereka mencari ke sekeliling rumah itu, berteriak memanggil nama Putri. Kevin sudah kehilangan akal. Ia hendak meminta bantuan polisi untuk mencari istrinya. Ia kembali ke kamar utama. Alangkah kagetnya, ketika ia menemukan Putri yang tidur nyenyak berselimut tebal.
Kevin memeluk istrinya itu, dan menangis.
"Kau tidak pergi kan? Tidak pergi kan?"
Putri bangun karena kaget, Kevin menggoyang-goyangkan tubuhnya, dan berulang kali memeluk tubuhnya.
"Lepaskan aku"ucap Putri.
"Mbaaaaakkkkk" teriak Kevin.
Si mbak lari menuju kamar Kevin.
"Lepaskan aku" ucap Putri lagi.
"Tidak.. aku tidak mau melepaskanmu, sampai kau berjanji tidak akan meninggalkanku"
Putri menggigit dada Kevin, dan Kevin melepaskan pelukan itu karena kesakitan.
"Sayang, sakiit" Kevin merintinh kesakitan.
Putri bangun dan merapikan rambutnya dan segera ke kamar mandi.
Keluar kamar mandi, Kevin masih dengan pandangan matanya ke arah Putri.
__ADS_1
"Menyebalkan" ucap Putri.
"Sayang, maafkan aku. Semua diluar batas ku. Dan aku tidak tau bagaimana semua terjadi. Jangan tinggalin aku"
"Tapi, aku butuh keluargaku" ucap Putri.
"Aku, aku kan suamimu, aku keluargamu" Kevin memelas, meminta pengampunan dari Putri.
"Aku tau, kau suamiku, ayah dari anak yang aku kandung. Tapi biarkan aku menenangkan diriku. Jujur, aku shock. Aku sedih. Aku kecewa. Walau kau bilang semua diluar batas kemampuanmu. Tapi, aku Vin. Aku, tidak bisa seperti ini, mungkin aku terlalu mencintaimu, sehingga aku sangat sakit dengan keadaan kemarin. Aku tidak secantik Bernika, atau teman perempuanmu yang lain. Aku bukan type idaman yang ideal untukmu. Aku sadar, kekuranganku banyak." omongan Putri sudah tidak tau arahnya, dan ia kembali menangis.
Kevin memeluk Putri, walau Putri memukul dadanya, ia tidak melepaskan pelukan itu.
"Tidak, aku yang memilihmu, aku yang menginginkanmu mendampingiku. Aku tidak butuh Bernika, aku tidak butuh perempuan manapun. Yang aku butuhkan hanya kau, Put. Aku cinta kamu. Tidak ada alasan lain." Kevin memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Ia tidak ingin melepaskan apa yang sudah ia miliki.
"aku cuma cinta kamu, Put. Cuma kamu. Aku mohon, jangan tinggalkan aku"
Hati Putri tersentuh dengan pengakuan Kevin.
Ia tidak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya kaku dan tidak bergerak, akhirnya memeluk Kevin.
Putri menangis dalam pelukan Kevin.
Kevin membelai rambut Putri yang basah.
"Terima kasih, sayang." Kevin berbisik di telinga Putri.
__ADS_1