Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Tidak penting


__ADS_3

Pintu ruangan Kevin di ketuk.


Amira masuk untuk menyampaikan sesuatu.


"Pak, ada polisi menunggu di bawah. Bagaimana, pak?"


"Polisi?" raut muka Kevin menampakkan kalau dia sangat terkejut. Ia melirik Ajin.


"Baiklah, kami akan segera menemuinya" ucap Ajin.


"Silahkan, duluan" ucap Ajin mempersilahkan bosnya untuk jalan di depan.


Sampai di lantai bawah, pegawai, sudah diperintah untuk mengajak petugas polisi itu ke ruang tamu.


"Selamat sore, pak Kevin O'Leary. Maaf kami menyita waktu kerja anda" ucap petugas kepolisian itu.


"Tidak. Saya tidak merasa terganggu. Ada keperluan apa, sampai petugas kepolisian datang kemari?" tanya Kevin.


"Berkaitan kasus yang menimpa nona Bernika. Kami meminta kesaksian dari pak Kevin, kami akan bertanya sedikit, tentang kasus ini"


Beberapa pertanyaan, dijawab dengan baik oleh Kevin.


"Baiklah, pak. Terima kasih untuk waktunya" kemudian 2 orang polisi itu keluar dari kantor Kevin.


"Tenang saja, bukti yang kita punya sangat kuat, dan saksi yang kita punya akan membantu kita." ucap Ajin meyakinkan Kevin.


"Bagaimana kondisi Putri?" tanya Ajin.

__ADS_1


"Entah, aku akan segera ke rumah sakit. Kalau tidak ada apa-apa, Putri akan pulang ke rumah sore ini"


"Baiklah, akan aku temani kau ke rumah sakit." ucap Ajin semangat.


Sampai di rumah sakit, Putri sedang berbincang-bincang dengan seorang wanita, tapi membuat jantung Ajin berdegup kencang.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" Kevin menghampiri Putri dan mencium kening wanita itu.


"Semua baik-baik saja. Aku hanya menunggumu untuk pulang ke rumah" ucap Putri.


"Tapi, mukamu saja masih seperti itu, apa tidak sebaiknya kalau kau istirahat di sini saja"


"Tidak, Vin. Aku mau pulang saja." ucap Putri lagi


"Aku akan memanggil dokter Fajar ya." kemudian Kevin menekan nomor dokter Fajar.


"Hei.. ada sesuatu yang membuatku sangat curiga. Kalian... Coba kemari." Kevin meminta mereka mendekati dirinya dan Putri.


"Sayang, kau lihat cincin mereka berdua" bisik Kevin.


Putri tersenyum.


"Apa kau belum tau, kalau mereka akan segera menikah?" tanya Putri yang sudah terlebih dulu mengetahui ceritanya dari Vena.


"Apa? Aku tidak tau. Kau, kenapa tidak cerita padaku. Harusnya berita ini harus aku dulu yang tau. Beraninya kau Ajin!"


Ajin tertawa.

__ADS_1


"Sudahlah, hari ini kita sibuk di kantor. Aku rasa hal ini tidak penting, jadi aku belum menceritakannya padamu"


"Apa? Tidak penting? Menurutmu tidak penting?" suara Vena terlihat kesal.


"Bu. Bu. bukan begitu, maksudku, hari ini memang terlalu sibuk, sampai aku belum berani menceritakan pada Kevin. Kau jangan salah sangka ya" Ajin bersimpuh duduk di depan Vena.


Putri dan Kevin tertawa terbahak-bahak.


"Hai kau Vena. Aku baru ini melihat seorang Ajin duduk bersimpuh di depan orang, terlebih di depan seorang wanita" ucap Kevin dengan masih tertawa.


"Vin.. jangan membuka rahasia pak sekretaris itu." ucap Putri mencubit lengan Kevin.


Kevin masih tertawa, ia memeluk tubuh mungil istrinya itu dan mencium kening Putri.


"Bangun. Jangan membuatku malu." perintah Vena.


"Kau hebat ven, yang hanya bisa memerintah dia, hanya aku dan sekarang kau juga berani memerintah dia. Hahahah. Kau hebat"


"Kevin" suara Putri terdengar sangat pelan.


Kevin menutup mulutnya karena menahan tawanya. Dan terhenti ketika dokter Fajar datang ke kamar itu. Ajin dan Vena keluar ruangan itu.


"Hai brengsek kecil. Kenapa kau panggil aku?" tanya dokter Fajar.


"Apalagi, aku mau mendengar dari mulutmu sendiri, bagaimana kondisi istriku" ucap Kevin kepada dokter yang ia anggap seperti orang tua kedua baginya.


"Secara fisik, istrimu sehat, tapi, kau jangan membuat dia sedih. Dan kau , Putri. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Kalian akan mendapatkan gantinya. Kalian masih muda. Kesempatan itu akan kembali kepada kalian" jelas dokter Fajar.

__ADS_1


__ADS_2