
"Ven... Dari jam berapa di sini?" tanya Putri ketika masuk ke dalam ruko miliknya.
"Baru kok. Duduk, sini" Vena menepuk sofa meminta Putri untuk duduk di sampingnya.
Putri duduk di sebelahnya, sambil melihat sekeliling ruko itu. Ruko yang penuh kenangan.
"Ven.. sepertinya ruko ini harus aku jual. Kau akan segera menikah, dan aku tidak mungkin meneruskan usaha ini" ucap Putri sedih.
"Maafkan aku, put." ucap Vena
"Tidak, ini bukan salahmu. Aku hanya akan merindukan tempat ini. Bagaimanapun, tempat ini banyak berjasa."
Vena memeluk Putri.
"Apakah tidak ada jalan lain?" tanya Vena
"Aku tidak tau ven, untuk saat ini aku tidak bisa berpikir panjang. Yang aku pikirkan bagaimana kecewanya anak-anak itu. Aku tidak yakin kalau mereka akan lapang dada, dengan keputusan ini." Putri menundukkan kepalanya.
"Tapi, seandainya, aku ada pengganti untukku, bagaimana? Lagian, kan tidak selamanya juga tutup. Maksudku, kita harus ada guru lain juga, jadi seandainya kita berhalangan, ada yang mengurus anak-anak. Tapi, aku terserah kau dan Kevin saja. Aku tau, kalian mempunyai keputusan yang terbaik." Vena menepuk pundak Putri.
Putri menatap sahabatnya itu.
"Semoga aku cepat dapat keputusan yang terbaik ya."
Satu persatu siswa datang untuk berlatih.
__ADS_1
Dan mereka sudah sibuk dengan kegiatan sore hari. Hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, semua sudah bersiap untuk kembali ke rumah masing-masing.
Sedangkan, sebuah mobil sudah parkir dari tadi, dan 2 orang lelaki telah menanti kedua guru olah vocal itu.
Ketika sudah sepi, mereka masuk sambil tertawa.
"Dasar saja, tidak punya pendirian. Sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi" ucap Ajin.
Vena dan Putri saling pandang, Kedua lelaki itu seperti tidak pernah kehabisan pembahasan saja. Mereka hanya bisa melihat kedua lelaki itu terbahak-bahak. Sampai akhirnya Ajin tersadar, dan menyenggol lengan Kevin.
"Apa sih kau ini.. jadi gimana dia.."
Kevin belum juga menyadarinya.
Ajin melirikkan matanya, memberi kode, kalau kedua perempuan itu sedang memperhatikan mereka.
"Hai sayang.. " Kevin mendekati Putri yang bersedekap tangan.
"Dia, maksudnya dia siapa? Siapa yang kalian bicarakan?"tanya Putri menaikkan alisnya.
"Entah itu si Ajin, lagi bahas siapa" tunjuk Kevin.
"Hah?" Ajin malah salah tingkah. Sekarang Vena yang meliriknya dan menaikkan sebelah alisnya.
"Udah, udah, udah... Katanya mau makan, ayo sayang, kita makan" Ajin mendorong tubuh Vena keluar ruko, Kevin mematikan lampu, dan menggenggam tangan Putri, dan mengajaknya keluar. Setelah pintu di konci, mereka bergegas menuju mobil dan segera pergi dari sana.
__ADS_1
Double date, mungkin kata itu akan sering dipakai, mereka akan jalan berempat.
Hari kebahagaiaan untuk Vena dan Ajin sudah di depan mata. Persiapan pun sudah siap semua. Ajin sudah mondar mandir ke kamar mandi.
"Mas, gimana ini, nanti tidak rapi"
Kevin mengintip sahabatnya itu.
"Hey,. kau ini kenapa? Santai, bro. Tenangkan dirimu"
"Tapi aku kok takut ya Vin" Ajin menggenggam tangan Kevin.
Mereka layaknya saudara yang tidak terpisah.
"Semua ada di belakangmu. Tenangkan dirimu." Kevin menenangkan Ajin.
Ajin sudah duduk di depan penghulu. Suasana hening, ayat suci sudah dilantunkan.
Saat menegangkan untuk Ajin makin dekat.
"sah" kalimat itu terucap dengan lantang.
Ada rasa haru bercampur bahagia saat Ajin memasangkan cincin ke jari manis kanan Vena.
"Selamat ya bro.. akhirnya hilang sudah status jomblo"
__ADS_1
Kevin memeluk sahabatnya itu.