Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Mas


__ADS_3

"Di coba saja, ven. Toh tidak salah"


suara Ajin mengagetkannya.


"Keluarkan mbak. Biarkan dia mencobanya" perintah Ajin kepada pegawai toko itu.


"Sini, biar aku yang pasangkan"


Ajin mengambil cincin itu, dan memasangkan ke jari manis Vena.


"Pas sekali ya mas, wah, hadiahkan saja untuk istrinya, mas. Sekalian sama yang tadi ya"


Ajin spontan mengedipkan matanya ke pegawai itu.


"aah.. kacau, bisa-bisa buyar semua rencanaku" ia mengisyaratkan untuk pegawai itu menutup mulutnya.


Sang pegawai senyum-senyum sendiri melihat ulah Ajin.


"Tidak.. Nanti saja mbak." Vena melepaskan cincin bermata 1 itu.


Ajin ke kasir dan membayar pesanannya.


Ia mengajak Vena berkeliling kembali, sampai perut mereka berbunyi. Keduanya tertawa.


"Kita makan dulu ya" ucap Ajin membawanya ke sebuah restoran di dalam mall itu.

__ADS_1


Setelah makan singkat itu, karena Ajin masih ada rencana, mereka meninggalkan mall itu dengan belanjaan di tangan mereka.


"Banyak sekali Snack yang kau beli, pak" ucap Vena.


"Kau ini tidak konsekuen. Kadang memanggil nama, kadang memanggilku dengan sebutan pak. Tidak sopan" ucap Ajin.


"Kau itu seharusnya memanggilku dengan sebutan Mas. Umurku kan 3 tahun lebih tua darimu." pinta Ajin.


Vena tertawa.


"Kenapa tertawa?" tanya Ajin masih konsentrasi dengan jalanan.


"Bagaimana aku tidak tertawa, kelakuanmu saja seperti anak-anak, mau dipanggil mas."


"Hey.. kata siapa? Aku pria dewasa yang sudah siap menikah."


Tanpa Vena sadari, ia nyaman bercanda dengan Ajin. Dan tanpa Vena sadari, Ajin sangat menyukai Vena ketika Vena tertawa.


"Ada, tentu saja. Kau lihat saja nanti. Aku akan mengenalkanmu padanya" Ajin dengan bangga mengucapkan itu.


Entah kenapa, Vena sangat kesal mendengar itu. Ia sudah lama tidak dekat dengan laki-laki lagi, setelah 2 taun yang lalu, ia merasa disakiti oleh pacarnya. Dan ia memang tidak mau pacaran lagi. Ada rasa cemburu di hati Vena.


"Ada apa dengan mukamu? Kau cemburu ya?" ledek Ajin.


"Aku ceritakan sedikit tentang dia. Aku tidak sengaja bertemu dengannya. Karena tugasku, aku sering sekali menemuinya. Aku sering sekali membantunya. Dari situ, aku mulai merasakan sesuatu di dalam hatiku. Dia wanita sederhana, cantik, kurus, tinggi. Tapi, sayangnya ia belum tau isi hatiku. Aku takut di tolak olehnya"

__ADS_1


Vena makin kesal, ia mengeraskan volume musik di mobil Ajin. ia tidak mau mendengar celotehan Ajin.


"Ya mama" Vena menerima telepon. Ia mengecilkan volume musik di mobil Ajin lagi.


"Vena sedang bersama teman, ya mama. Tidak ma, teman perempuan kok."


Ajin membelalakkan matanya.


"Ma, Vena gak mau dijodohkan. Vena mau cari sendiri. Ma, Vena gak mau ma. Udah deh ma. Vena tau, kasih Vena waktu untuk berfikir ya ma. Kalau memang orang yang dijodohkan mama itu yang terbaik untuk Vena, Vena akan ikuti. Tapi kalau tidak, jangan begini lagi ya ma. Ya sudah. Vena sedang di jalan, ma. Nanti telepon Vena kembali" Hanya suara itu yang dapat di dengar Ajin.


Yang awalnya Ajin ingin mempermainkan Vena, sekarang ia yang merasa dipermainkan oleh Vena. Ia merasakan sakit. Bagaimana kalau memang benar, Vena akan dijodohkan oleh orang tuanya lagi. Ajin tidak konsentrasi di jalan, sehingga ia hampir saja menabrak seorang di jalan raya, untung Vena mengingatkannya


"Aww" kepala Vena terasa sakit.


"Maaf ven.. maaf" ucap Ajin memegang kepala Vena.


"Kau kenapa sih. Orang lewat seperti itu, tidak terlihat" oceh Vena sambil memegang kepalanya lagi.


Ajin memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Ia turun dan membuka pintu Vena.


Ia merasa bersalah. Ia mengeluarkan kotak P3K, di dalam dashboard yang berada di depan Vena. Sehingga Vena merasa harus memundurkan badannya.


Vena mencium aroma parfum yang sangat soft, dan ia menutup matanya, ia terjebak di sebuah badan dengan wangi yang memikatnya.


"Ven, maaf" Ajin membalurkan minyak kayu putih ke kepala Vena.

__ADS_1


"Sudah enakan?" tanya Ajin.


Vena membuka matanya, dan mengangguk. Entah kenapa, jantung Vena berdegup kencang sekali.


__ADS_2