
Suasana kantor seperti biasa ketika Kevin dan Ajin melangkahkan kaki mereka di kantor. Semua karyawan memberikn rasa hormatnya kepada mereka. Semua tampak normal. Tapi ketika di depan ruangan Kevin, Amira memberitahu, ada tamu yang sudah menunggu Kevin. Ajin membuka pintu ruangan Kevin, diikuti oleh Amira.
Seseorang duduk di kursi Kevin dengan membelakangi mereka.
Kevin mengetuk mejanya.
"Siapa anda?" tanya Kevin.
Tapi, orang itu tetap tidak menoleh ke arah Kevin, sampai akhirnya Kevin membalikkan kursinya.
"Bernika?" Kevin terkejut, saat perempuan bernama Bernika itu bangun dan memeluknya.
"Hei, apa-apaan ini, lepaskan" Kevin berusaha melepaskan pelukan Bernika.
Kevin memberi kode agar Ajin dan Amira keluar dari ruangannya.
Bernika mencium pipi Kevin.
"Long time no see.. Akhirnya aku bertemu denganmu lagi."
Kevin melepaskan tangan yang melingkar di lehernya. Perempuan bertubuh kurus tinggi itu, tetep memegang tangan Kevin dan duduk di meja Kevin
__ADS_1
"Ini kantor, bukan tempat sembarang, silahkan duduk dengan benar" Kevin membenahi dasi yang sudah acak-acakan, dan duduk di sofa tamu ruangan itu.
"Ada apa sampai kau harus kemari?" tanya Kevin.
"Kenapa kau tidak berubah, sejak perpisahan kita, kau masih begini saja, apa kau masih menaruh dendam terhadapku. Hei, itu sudah terlalu lama untuk dipendam. Aku ke sini ingin membicarakan masalah pekerjaan, dan aku merindukanmu, wahai mantanku" ucap Bernika mendekati Kevin.
"Kau diterima di sini, kalau untuk urusan bisnis, tapi selebihnya aku tidak bisa melayanimu." ucap Kevin sambil memainkan cincin pernikahannya.
Bernika menarik tangan Kevin. Dia tertawa.
"Hahaha, cincin ini apa? Apa kau mau bilang kalau kau sudah menikah dan bahagia bersama wanita lain, tapi hatimu masih sangat mencintaiku" ucapnya sombong.
"Apa? Besar kepala kau. Kata siapa aku masih mencintaimu. Aku bersyukur, ku pergi dari kehidupanku, jadi aku tau bagaimana menemukan wanita yang baik untukku" ucap Kevin sambil berdiri dan kembali ke kursinya, ia membuka laptop yang ada di depannya.
Bernika mendekati dan menutup laptop Kevin.
"Kau tidak begini kalau kau sudah tidak mencintaiku" Bernika menarik dasi Kevin, sampai hampir saja bibir mereka beradu, tapi terhenti, karena pintu ruangan itu terbuka tiba-tiba.
"Tidak apa-apa, Kevin tidak akan marah" suara Putri terdengar sangat jelas.
Betapa terkejutnya Putri, saat melihat kejadian di depan matanya.
__ADS_1
Kevin buru-buru melepaskan tangan Bernika yang sedang menarik dasinya.
"Hai, Put" Kevin gelagapan.
Bernika hanya tersenyum sinis dan kembali mendekati Kevin.
Kevin jalan menuju Putri yang masih membisu di pintu ruangan.
"Masuklah." ucap Kevin yang memeluk pinggang Putri.
Putri yang tidak tau harus berkata apa, hanya mengeluarkan ponsel milik Kevin yang tertinggal di rumah.
"Hai, kamu siapa? Pacarnya ya. Kenalkan, aku Bernika, mantan pacar Kevin, eh, maksud aku orang yang masih Kevin cintai. Kamu kalau perlu jauhin Kevin." ucap Bernika angkuh.
"Bernika!" nada tinggi sudah keluar dari mulut Kevin.
"Maaf, aku salah masuk. Aku pulang dulu." Putri keluar menahan tangisnya, tapi langkah Kevin tertahan dengan pelukan Bernika.
Kevin memberi kode kepada Ajin untuk menemani Putri.
Kevin menghempaskan tangan Bernika, dan menyusul Putri. Tapi, lagkah perempuan mungil itu langsung hilang dari pandangan Kevin. Kevin sangat marah dengan keadaan itu. Ia menendang vas bunga yang menghiasi kantor itu. Semua mata tertuju kepada Kevin, tapi mereka akhirnya menunduk dan seperti tidak melihat kejadian yang ada.
__ADS_1
Kevin kembali dengan raut muka yang kacau. Tidak ada lagi batang hidung Bernika di sana, kalau masih ada,entah apa yang akan terjadi.