
Walaupun Putri sudah memaafkan Kevin, tapi, Putri masih diam. Hati wanita mana yang melihat suaminya melakukan adegan seperti itu. Walau menurut pengakuan suaminya, ia tidak melakukan hal yang dituduhkan kepadanya.
"Sayang, aku berangkat ya." Kevin mencium kening Putri yang masih ada di atas tempat tidur. Namun tidak seperti biasanya, Putri mengantarkan sampai ke depan pintu rumah.
Kevin menarik nafas panjang.
Sampai di kantor, ia mengumpulkan petugas keamanan, para sekretarisnya, dan orang-orang yang berhubungan langsung dengan dirinya, di dalam ruangan.
"Ada apa, bos?" tanya Ajin.
Tapi Kevin diam saja.
"Terima kasih sebelumnya, kalian sudah dengan sigap hadir di ruangan saya. Untuk kantor ini, diperketat penjagaannya. CCTV selalu diperiksa. Saya tidak mau kecolongan. Setiap ada yang mencurigakan, bisa hubungi Amira atau Ajin sebagai sekretaris saya. Dan untuk Amira dan Ajin, lebih seleksi menerima tamu. Sekalipun itu keluarga saya." ucap Kevin.
"Saya takut, ada yang akan menjatuhkan perusahaan ini. Saya harap, kalian semua dapat mengerti maksud saya. Apakah ada pertanyaan?"
Mereka semua diam dan menunduk.
"Baiklah, kalau tidak ada pertanyaan lagi, silahkan kalian kembali ke tempat masing-masing. Ajin, kau tetap di sini"
Setelah semua keluar, dan yang tinggal tersisa, Ajin dan Kevin di ruangan itu.
"Bagaimana penyelidikanmu, masalah surat kaleng dan nomor yang tidak dikenal yang mengirimkan aku foto waktu itu" tanya Kevin serius.
"Aku sudah dapat semua info. Apakah kau siap dengan kenyataan ini?" tanya Ajin.
Kevin mengangguk.
"Maaf sebelumnya.Apa kau tidak pernah merasa, orang-orang yang berada di sekitarmu melakukan itu?" tanya Ajin.
__ADS_1
Kevin tidak mengerti maksud Ajin.
"Aku minta maaf sebelumnya harus mengatakan semua ini. Tapi, inilah kenyataannya. Sebenarnya aku tidak ingin membeberkan kasus ini, Karena masalah ini, semua ada di tangan kau dan Putri."
"Maksudmu?" tanya Kevin.
"Nyonya Rani O'Leary" Ajin memalingkan pandangannya.
"Mami? Maksudmu, semua dibalik ini mami yang merencanakan?" Kevin memukul meja yang ada di depannya.
Ajin diam.
Kevin membayangkan betapa hancurnya Putri kalau ia mengetahui dalang dari semua ini, ternyata maminya Kevin sendiri.
"Apa rencanamu untuk menyadarkan mamiku?" tanya Kevin.
Ajin membisikkan sesuatu.
"Bukankah ia sudah lama tidak kembali ke kampung halamannya?" tanya Ajin.
"Biarkan ia pulang sementara. Mungkin di sana, ia lebih aman dan tidak tertekan dengan keadaan ini" lanjut Ajin.
Kevin menggeleng, dan berpikir keras. Ia akan berpisah sementara dengan istrinya. Kalau memang jalan ini satu-satunya untuk menyadarkan maminya. "Apakah aku sanggup berpisah dengannya?"
"Kau kan bisa mengunjunginya, hanya sekali penerbangan dan kau akan tiba di Jogjakarta. Demi keutuhan keluargamu, Kau harus bisa berpisah dengannya dulu" saran Ajin.
Kevin menganggukkan kepalanya.
Hari itu, Kevin disuguhi berbagai jenis bahan rapat oleh Amira. Sedangkan Ajin masih dengan urusan lainnya.
__ADS_1
Setelah semua selesai, Ajin melaporkan.
"Tadi, Bernika kemari lagi, ia marah-marah karena kau tidak ada di tempat. Dan ia mencoba menghubungimu tapi kau tidak meresponnya"
"Biarkan saja perempuan itu. Aku belum tau maksud dari semua ini. Kalau ada dia lagi, bilang aku rapat di luar. Aku tidak akan membuat masalah yang akan menghancurkan keluarga aku dan Putri." ucap Kevin.
**Sampai di rumah, Kevin melihat Putri yang terbaring lemas.
"Kau sudah makan, sayang?" tanyanya
Putri menggeleng dan memalingkan pandangannya. Kevin tau, Putri masih kesal padanya.
"Kenapa isi tasmu belum dikeluarkan?" tanya Kevin.
Putri diam.
"Bagaimana kalau kita main ke kampung halamanmu?" tanya Kevin.
Putri sebenarnya merasa lega, akhirnya, ia bisa pulang. Tapi ia gengsi kalau ia harus menunjukkan rasa gembiranya
"Ayo ganti pakaianmu, kita cari makan. Apa kau tau, aku juga tidak makan seharian, karena memikirkan mu sendiri di rumah. Apa kau tidak melihat, badanku kurus hari ini"
Putri tertawa, pikirannya, bagaimana Kevin kurus, kalau baru sehari saja tidak makan.
"Sayang, pap lapar, tapi mom tidak memperdulikan pap." Kevin seperti mengadu kepada janin yang dikandung Putri.
Putri masih diam. Sebenarnya, dengan mencium aroma tubuh Kevin saja, sudah membuat dia tenang. Sangat tenang. Kevin menyandarkan kepalanya di atas paha Putri. Dan mengelus perut Putri, dengan pelan-pelan.
"Kau harus sehat, sayang. Pap sayang sekali padamu, nak. Pap cinta kalian berdua. Bagaimana pap jadinya, kalau tidak ada kalian dalam hidup pap"
__ADS_1
Hati Putri tersentuh, akhirnya ia mengelus rambut Kevin. Lelaki tampan yang ia nikahi itu menunjukkan bahwa ia sangat mencintai dirinya. Tapi, kenyataan yang dilihatnya, membuat ia kecewa.