
Nasi sudah menjadi bubur. Tapi ini adalah konsekuensi yang harus mereka tanggung.
Rani sangat terpuruk. Di saat ia membuka hatinya untuk Putri, ia harus kehilangan calon cucunya. Ia sangat merasa bersalah.
Rani memegang erat tangan kanan Putri, sedangkan ibunya ada di sebelah kiri Putri.
Putri membuka matanya. Ia kembali menangis. Ibu memeluk Putri.
"Sudah nak, ikhlaskan semua. Kalian akan segera mendapatkan gantinya."ucap ibu menenangkan diri Putri.
Putri melihat ke arah Rani.
"Put, maafkan mami. Semua salah mami"
Putri tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya diam dan melihat sekelilingnya.
Tampak semua hadir di sana.
"Vin" panggilnya.
"Ya sayang" Kevin mendekati Putri.
Ibu dan mami bangun dari kursinya.
"Maafkan aku Vin, tidak bisa menjaga anak kita" ucap Putri kembali menangis.
"Tidak, sayang, ini bukan salahmu" ucap Kevin menggenggam tanganmu.
__ADS_1
"Kau istirahat saja." ucap Kevin mengelus kepala Putri.
"Sweetie, semua sudah papi urus. Cepat pulih ya, sweetie. Papi ada sesuatu untukmu nanti" ucap Harry sambil duduk di bangku samping Putri.
"Ya, put. Kau tidak boleh banyak pikiran. Yang penting sekarang. Kondisimu harus segera fit. Kau harus mengurus kembali keluargamu. Semua sudah Kevin ceritakan ke ayah." ucap ayah menyentuh kaki putrinya yang tertutup selimut.
Rani dan ibu keluar dari kamar. Mereka mencari makanan yang hendak dibawa untuk semuanya.
"Apa kesukaan Putri ya Bu?"
tanya mami.
"Putri tidak cerewet kalau makanan." ucap ibu ramah.
"Maaf, Bu. Kalau saya boleh tau, kenapa tidak ada yang sama golongan darah dengan Putri?" mami membuka pembicaraan saat mereka diam.
"Putri bukan anak kandung saya. Saya merawatnya sejak dia berumur 2 tahun. Mbak saya meninggal saat ia masih butuh kasih sayang."
"Dulu, saya dan Ayudia, punya janji." Rani terdiam. Ia menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah pada Ayudia, karena tidak bisa menepati janjinya untuk menikahkan anak mereka.
"Wah, kebetulan sekali ya. Nama mbak saya juga, mbak Ayu. Ayudia." ucap ibu Putri sambil menyedot jus yang mereka pesan.
Rani tersedak.
"Ini foto mbakku" Ibu mengeluarkan foto ibu kandung Putri.
"Kami 3 bersaudara. Ibunya Putri nomor 2. Mas kami, yang semalam ikut ke rumah sakit juga.".
__ADS_1
Rani tidak bisa bicara sedikitpun.
Yang ia tau, ia ingin segera kembali ke pelukan Harry.
"Ayo, kita kembali ke rumah sakit" ucap Rani kemudian mereka segera bangun sambil menenteng belanjaan makanan untuk dimakan bersama.
Sampai di rumah sakit, Rani menenangkan dirinya. Kemudian ia mendekati Putri yang disuapi makanan oleh Kevin. Air matanya yang ia tahan, sudah tidak bisa terbendung, ketika langkah itu semakin dekat dengan Putri.
Kevin bingung melihat maminya yang mengeluarkan air mata.
"Honey, sudah. Jangan buat Putri makin sedih" Harry mendekati Rani yang berjalan meneteskan air matanya mendekati Putri.
Rani memeluk Putri.
"Maafkan mami, nak. Kau, kau anak Ayudia yang selama ini mami cari, nak. Maafkan mami, nak" ucap Rani sambil terus menerus menangis.
Harry terkejut dengan ucapan Rani.
Karena setau dirinya, Rani selalu menyebut nama Ayudia. Tapi ia masih bingung, ada apa yang terjadi.
"Honey, Putri adalah anak Ayudia, Ayudia sudah meninggalkan aku," Rani kembali memeluk Putri dan menangis.
Entah tangisan itu adalah tangisan bahagia, atau tangisan kesedihan.
"Ayudia, sahabatmu?" tanya Harry.
Rani mengangguk, sambil memegang pundak Putri.
__ADS_1
"Akhirnya aku menemukanmu, kau anak dari sahabatku yang selama ini aku cari. Maafkan kebodohanmu selama ini. Seandainya aku tau kau adalah anak Ayudia, aku akan lebih sayang padamu, put"
Kevin terharu, akhirnya, setelah semua terjadi, ada hikmah dibalik ini semua. Tetapi ia harus merelakan calon anak mereka pergi.