
Malam itu mungkin malam yang aneh bagi Kevin. Putri hanya mencium aroma kwetiau itu saja, tanpa memakannya sedikitpun.
"Sayang.. makan.. kan kamu yang mau kwetiau tadi." ucap Kevin.
"Udah.. aku udah kenyang"
"Kenyang apa?"
"itu, harumnya saja udah kenyang kok. Aku mau makan telur dadar buatan kamu aja, buatin ya" rengek Putri layaknya anak kecil yang harus dipenuhi keinginannya.
Kevin hanya melongo.
"Ya udah kalau tidak dibuatin tidak apa-apa, aku tidur aja" Putri semakin menunjukkan sikap aneh.
Ia keluar dan mencari sesuatu didapur.
"Telur, dimana telur?" ia mencari dan mendapatkannya kemudian segera membuatkan Putri telur dadar pesanannya.
"Sayang, ini telur dadarnya. Ayo cepat dimakan." Kevin membangunkan Putri.
Putri membuka matanya, dan melihat telur dadar dan nasi di piring yang sama.
Ia berlari menuju kamar mandi, dan memuntahkan isi perutnya.
"Sayang, bisa dibuang gak itu. Aku tidak mau lihat nasi" ucap Putri.
Kevin serba salah. Ia berlari meletakkan piring itu ke dapur. Dan segera menemani istrinya yang sedang muntah-muntah.
"Aku udah letakkan di dapur. Kamu kenapa?" tanya Kevin.
Putri membasuh mulutnya.
"Perutku geli melihat butiran nasi itu, sayang"
__ADS_1
"Ya Tuhan.. jadi gimana kamu makan, sayang?"
"Aku gak mau makan nasi" rengeknya.
"Lagian kan aku udah bilang, aku mau telur dadar buatan kamu, tapi kan tidak bilang pakai nasi. telur dadar aja. Kamu jahat" Putri menangis. Kevin sangat bingung.
"Sayang.. maaf. Aku tidak tau." penyesalan ada di diri Kevin.
"Aku mau telur dadar saja" ucap Putri sambil menangis.
Kevin buru-buru kembali ke dapur dan membuatnya lagi, tidak 1 tapi 3 butir telur.
1 butir dadar utuh, 1 butir dadar di potong-potong, 1 butir dadar di cacah. Ia membuat semua yang ia bisa. Dan kembali ke dalam kamar.
Putri tertidur pulas. Tapi mukanya pucat. Ia tau kalau istrinya itu belum makan sama sekali.
"Sayang.. aku buatkan dadar. Bangun sayang" Kevin menyentuh pipi Putri dengan lembut.
Putri meregangkan ototnya, dan mencium aroma dadar telur yang sangat harum.
Putri menyantap telur itu dengan hati gembira. Sesekali ia menyuapi Kevin.
"Sayang, asin" Kevin melepeh telur dadar yang ia buat.
"Gak kok, enak.. sumpah" Putri yang melahap telur dadar itu, seakan tak peduli apa yang diucapkan Kevin.
"Kenyaaaang" ucap Putri.
Kevin hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu aneh. Asin gitu tetap dilahap" ucapnya sambil mengambilkan segelas air hangat.
"Terima kasih, sayang" ucap Putri mencium bibir Kevin yang ada di depannya.
__ADS_1
Kevin kaget dan terdiam.
Melihat Kevin terdiam, Putri mencium lagi, lagi, dan lagi, sampai akhirnya Kevin kebablasan,
"Jangan salahkan aku ya" ucapnya sambil bermain di atas kasur mereka.
Nafas mereka tersengal-sengal.
Hasrat mereka sudah terpenuhi.
Yang ada, hanya sisa pertempuran itu.
Putri seakan mendapat tenaga full, setelah menyantap telur dadar buatan Kevin.
"Kau lelah?" tanya Kevin, sambil mengusap rambut Putri
Kevin menarik selimut dan mereka tertidur dalam keadaan penuh cinta. Putri tidak memperbolehkan Kevin untuk mandi. Nikmat mencium aroma tubuh Kevin, membuat ia nyaman untuk berada di samping Kevin.
"Sayang.. bangun.. sudah siang." Putri membangunkan Kevin yang masih tertidur tanpa busana. Ia memainkan jemarinya untuk membelai wajah laki-laki tampan itu, sesekali memainkan jemarinya di bibir Kevin yang seksi.
"Selamat pagi, sayang" suara berat itu keluar dari mulutnya.
"Sayang.. aku mau stroberi." ucap Putri.
"Iya nanti, kita beli ya, sekarang masih pagi. Supermarket belum buka, sayang".
"Aku mau sekarang. Kita belanja ke pasar tradisional aja ya"
Kevin terperanjat. Pasar tradisional? No.. tidak pernah terpikir olehnya akan masuk pasar tradisional, yang dipikirannya sangat kotor dan bau.
"Suruh si mbak aja sayang," ia mencoba mengelak.
"Aku mau pergi sama kamu"
__ADS_1
Muka Putri terlihat kesal. Tapi Kevin tetap tidak mau.
Ada-ada saja ulah Putri.