Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Taktik Bernika


__ADS_3

"Bagaimana rencanamu Sabtu ini, jadi kau akan melamar Vena?" tanya Kevin.


"Ya, Besok sore kita harus berangkat" jawab Ajin.


"Kita? Maksudmu?


"Apakah kau tidak akan menjadi saksi kalau aku bisa melamar seorang wanita untukku?"


"Hahahah, kau sudah mulai sombong. Vena bagaimana?" tanya Kevin.


"Dia sudah pulang duluan. Dari kemarin sudah di Bandung" jawab Ajin.


"Pantas saja, kau mengantar jemput aku" Kevin tersenyum kepada sahabatnya itu.


Sampai di rumah, Putri sudah menunggu kedatangan Kevin. Ia senang sekali karena Kevin sampai di rumah, sebelum matahari terbenam.


"Hai sayang, kenapa kau di luar?" tanya Kevin begitu turun dari mobil.


"Aku menyambutmu, apakah tidak boleh?" tanya Putri.


"Boleh, sayang. Sangat boleh. Aku senang, sampai di rumah, disambut oleh orang yang aku cinta" ucapnya sambil mengecup bibir Putri.


"ehem.. masih ada aku, kalian ini" Ajin berlalu dan masuk ke dalam rumah Kevin.


"Kau ini, buat aku malu saja." Putri mencubit lengan Kevin.


"Hahaha.. aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Tapi, aku tidak bisa menyentuhmu. Apa masih ada darahnya?" tanya Kevin nakal.

__ADS_1


"Viiin."


"Sayang, malam Jumat ini. Lagian kan aku sudah lama tidak menyentuhmu" Kevin ******* bibir mungil Putri.


"Viin" Putri melepaskan kecupan itu, dan menggandeng tangan Kevin masuk ke dalam rumah.


"Hi mam, dad.." sapa Kevin.


"Kemana si Andre?" tanya Kevin.


"Dia sudah pulang tadi siang, ada telepon mendadak yang mengharuskan ia kembali ke UK" ucap Rani sambil mengambil kue yang ia buat tadi.


"Kami besok akan segera menyusul Andre." lanjutnya sambil meletakkan kue itu di meja.


"Wah, Tante, om.. Sabtu kan lamaranku. Apakah Tante dan om tidak ikut mengantarku?" tanya Ajin.


"Maafkan kami, sudah terlalu lama aku meninggalkan urusan di sana. Aku yakin, kau dan Vena adalah best couple. Selamat." ucap Harry menepuk pundak Ajin.


"Mam, pap.. Aku ada cerita tadi siang. Sayang, aku minta pendapatmu juga." ucap Kevin menggenggam tangan Putri.


"Tadi, pengacara Bernika datang ke kantor, dan menyerahkan surat ini" Kevin menyerahkan surat itu ke Harry dan Rani.


"Ini hanya taktik dia saja." ucap Rani kesal.


"Tidak usah dipikirkan, biarkan saja dia membusuk di penjara" Rani menyerahkan surat itu ke tangan Kevin dengan emosi.


"Kau baca, sayang. Bagaimana menurutmu?" tanya Kevin menyerahkan surat itu ke tangan Putri.

__ADS_1


Putri membacanya. Ada rasa kesal di dalam hatinya. Dia yang menghancurkan impian Putri untuk menjadi seorang ibu. Tapi ia tidak menampakkan muka kesalnya.


"Ikuti kata hatimu. Karena, semua itu yang benar adalah kata hatimu." ucap Putri tersenyum kepada Kevin.


"Tapi menurut kalian aku harus apa?"


"Temui saja dia," ucap Harry.


"Honey, tapi dia, dia telah... honey, apa yang ada di pikiranmu? Dia.." Rani kesal mendengar ucapan Harry.


"Kita harus berpikir tenang, honey. Yang kita hadapi ini, adalah orang sakit. Bagaimana caranya kita menenangkannya." ucap Harry bijak.


"Tapi, bagaimana kalau ia menyakiti keluarga kita lagi?" tanya Rani


"Sudahlah, kita selesaikan masalah ini 1 per 1." ucap Harry.


Setelah perdebatan masalah Bernika, Ajin permisi pulang, dan Kevin melangkah menuju kamar pribadinya.


"Putri pamit, ke kamar, mi, Pi.." ucap Putri


Kedua mertuanya mengangguk dan tersenyum.


"Aku akan menambah penjagaan untuk mereka berdua" Harry menggenggam tangan Rani.


"Kau lihat saja, aku akan melindungi mereka."


pandangan mata Harry jauh menatap ke depan.

__ADS_1


"Aku percaya padamu, honey. Aku telah berjanji di depan makam almarhumah Ayudia, akan menjaga Putri dengan baik." kenang Rani.


__ADS_2