
"Mau dibawa kemana aku? Aku kan tidak sakit" tanya Putri yang mengikuti langkah bos gilanya itu dengan buru-buru.
"Kamu bisa cepat tidak jalannya. Lambat sekali. Atau perlu aku gendong seperti semalam?"
Astaga, apa yang ia bicarakan.
Tangan Putri digandeng Kevin.
"Kanapa jalanmu seperti keong, lambat sekali."
"Langkahmu yang terlalu cepat, kakimu kan panjang. his.. bisanya hanya menghina aku!" ucap Putri.
Dokter Fajar sudah menunggu di ruangannya.
"Istrimu harus menjalani medical check up."
Ucapan dokter Fajar itu mengagetkan Putri.
Ia melirik sinis lagi ke Kevin.
"Kamu betah sama bergajul ini, kata-katanya tidak pernah halus begitu" ucap dokter Fajar mencoba mengenal Putri.
Putri tersenyum dan mencubit tangan Kevin yang terus menggenggamnya.
"Jangan dengarkan dia. Lebih baik kita ke lab." mereka keluar tanpa perpamitan, hanya Putri yang menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Mau kemana lagi kita?" tanya Putri.
"Aku tidak mau kamu sakit. Kalau kamu sakit, siapa yang akan mengurus ruko itu. Aku akan rugi" ucap Kevin semauanya
cih.. hanya itu lagi ucapannya. Benar ucapan dokter Fajar, semua kalimat yang keluar dari mulutnya hanya cacian dan makian.
"Kirimkan semua hasilnya ke kantor," ucap Kevin kepada dokter Fajar.
"Kemana lagi kita?" tanya Putri.
"Kamu kan harus ke kantor, bos.. Turunkan aku di ruko saja. Kasian Vena mengurus tempat itu sendiri" lanjutnya
"Aku sengaja mengosongkan jadwalku untuk menemanimu, Sekarang, kau harus menemaniku. Tersenyumlah saat berjalan bersamaku. Kau bisa saja tertawa dan tersenyum dengan laki-laki itu." ucap Kevin geram.
"Bos.. kita ke kantor tadi dulu atau makan dulu?" tanya Ajin.
"Kantor lah, itu kan lebih penting dari makan" jawab Putri.
"Kau dengar dia, kita urus ke kantor yang kita bicarakan tadi. Dia sudah setuju" Kevin tersenyum kecil.
Ajin tertawa kecil melihat kebahagiaan bosnya, yang sudah lama ia rindukan. Selama 3 tahun, Bosnya selalu dingin dan tidak pernah bercanda lagi.
Ajin memarkirkan mobilnya di sebuah kantor. Tapi itu kantor urusan agama. Putri melirik ke Kevin dengan seribu tanya.
"Kau dulu yang masuk, kalau sudah beres, aku akan menyusul." ucapnya ke Ajin.
__ADS_1
"Kau lapar? Obatmu harus dimakan. Tadi Ajin membeli roti. Makan ya"
Tumben, dia perhatian sekali. Biasanya dia selalu mengeluarkan kalimat tidak menyenangkan.
Kevin membuka bungkus roti, dan menyuapi Putri. Sejenak Putri terhanyut akan kebaikan bosnya yang tampan.
"Bos.. masih harus menunggu seminggu lagi, Bagaimana?"
"apa... tidak bisa sekarang?" Kevin mengucek kepalanya sendiri.
Ajin meminta Kevin keluar dari dalam mobil. Menjelaskan hal apa saja yang ia tangkap dari sana.
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita pergi dari sini. Aku sudah kesal" ajak Kevin.
Mereka menuju Mall X, dan masuk ke sebuah toko perhiasan.
Naluri perempuan Putri keluar, ia melihat barang-barang yang cantik di sana. Dan ia melihat sepasang cincin yang sederhana, tapi elegan.
"Kau menyukainya?" tanya Kevin.
"Tidak.. aku hanya melihat. Seandainya saja aku punya pacar, itu akan menjadi hadiahku dari laki-laki yang aku cintai"
"Hei.. aku tidak suka kamu membicarakan laki-laki lain di depanku. Ingat itu. Ayo keluar." tapi matanya mengisyaratkan sesuatu ke Ajin.
Mereka berhenti di restoran kelas atas. Putri hanya mencoba melihat dengan kagum.
__ADS_1
"Alina!"