Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Tes kehamilan


__ADS_3

Putri yang hanya melihat-lihat ponselnya. Ia melihat Poto mesra mereka.


Sebuah pesan singkat dari Ajin masuk.


"Nona Putri, apa kau lupa, hari ini ulang tahun bos Kevin?"


Spontan Putri berdiri


"Bagaimana aku tidak tau kalau dia ulang tahun hari ini? Apa yang akan aku lakukan?" tanya Putri.


Kemudian ia keluar, dengan maksud untuk mencari kado kecil.


"Put.. mau kemana? Kenapa terburu-buru?" tanya Vena yang hampir saja menabrak sahabatnya itu.


"Ven.. Aku tidak tau, kalau Kevin hari ini ulang tahun."


"tidak usah terburu-buru seperti itu. Ayo masuk. Aku harus membuktikan rasa penasaranku"


Vena menarik Putri ke kamar mandi.


"Kau harus menadah air senimu di wadah ini, ingat ya sampai batas ini" Vena menunjukkan tanda batas merah


"Tapi.." Vena mendorongnya pelan ke kamar mandi.


Di kamar mandi, ia bertanya-tanya,


"Ini apa? Apa-apaan si Vena."


"Putriii... cepat. Lama bener" Vena berteriak dari depan pintu kamar mandi.


Mau tidak mau, ia mengikuti permintaan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Jangan sampai kena air" Vena berteriak


"Hissss... bawelnya orang itu" gerutu Putri.


"Ini" Putri menyerahkan wadah mungil itu.


Dengan hati-hati Vena meletakkan wadah itu ke atas meja. Ia mengeluarkan benda panjang dari tempat bertuliskan *S, Putri membacanya,


"Tes Kehamilan Akurat", ia membolak balikkan bungkus itu.


Vena memperhatikan dengan dalam-dalam.


"Kamu ini, jorok sekali, air seniku saja dilihat begitu"


"Diem kamu, entah bagaimana, Kevin mencintaimu yang amat polos ini, put" ucapnya pelan.


Garis menunjukkan 1, lama sudah Vena menantikan ada 2 garis, dan ternyata hanya 1 garis terang dan..


Putri terdiam, ia hanya menatap mata sahabatnya itu dalam-dalam.


"Put, ini kado terindah untuk Kevin. Kau harus memberitahunya." ucap Vena yang tampak bahagia.


Putri seolah tidak percaya dan melihat lagi hasil tes kehamilan itu.


"Apa ini benar, ven? Serius Ven?" tanya Putri.


Ia mengingat, betapa Kevin menginginkan anak, hampir setiap malam, Kevin menyentuh perut Putri, dan berdoa semoga rahim Putri kuat.


Putri tersenyum, ia ingin mengambil ponselnya.


"Tidak usah kau kabari, nanti saja, saat kau berjumpa dengannya, kau kasih tau. Pasti ini membuat Kevin bahagia, put. Selamat, Put. Kau harus menjaga keponakanku ya."

__ADS_1


Putri mengelus perutnya lembut.


"berkembanglah kau di sana ya sayang, aku akan menjagamu" Rasa itu langsung tumbuh dengan sendirinya.


"Put, Kevin tidak jemput?" tanya Vena, karena ia melihat jam di dinding menunjukkan jam 07.30 malam.


"Dia sedang menghadiri rapat penting. Aku akan dijemput dengan suruhannya." jawab Putri.


"Kalau begitu aku akan menunggu sampai kau dijemput" Vena dan Putri, menunggu di depan pintu.


Sebuah mobil mewah menghampiri mereka.


"Selamat malam." seorang menyapa mereka.


"Malam, ada yang bisa kami bantu?" tanya Vena.


"Nona Putri, kami disuruh menjemput nona"


"Oh ya, kalian suruhan suamiku ya. Baiklah. Ven. Aku duluan ya, kau kunci semua ya." Putri memegang tangan sahabatnya itu.


Mereka saling melambaikan tangan.


Putri masuk ke dalam mobil itu tanpa perasaan apa-apa.


Vena kembali ke dalam ruko, dan mengambil barangnya yang tertinggal di dalamnya.


"Ponsel Putri kenapa tertinggal di sini. Dasar perempuan ceroboh" gumam Vena


"Banyak pesan seperti ini, kenapa dia bisa lupa dengan ponselnya. Sudahlah, aku akan menghampirinya saja. Dasar Putri."


Vena keluar dan mengunci ruko,

__ADS_1


"Hai Ven. Mana Putri? Aku tidak terlambat kan?" Suara itu mengejutkannya.


__ADS_2