
"Papi ingin jalan keluar."
Putri melirik ke arah mami Rani.
Rani mengangguk.
Kevin membantu Harry bangun.
Lelaki yang dikenalnya 1 tahun yang lalu, kini lemah.
"Kalau kalian tidak datang, mana boleh aku keluar dari kamar, mamimu itu, galak sekali" ucap Harry.
Putri tertawa, dan melirik ke mami Rani.
Rani sangat bersyukur, kekhilafan yang sudah diperbuat olehnya, langsung diingatkan. Dan ia tidak lama-lama dengan keadaan yang tidak mengenakkan itu.
"Vin, siapkan pesta barbeque, aku ingin malam ini kita makan di sini. Aku ingin menghirup udara segar" ucapnya sambil menyandar di bangku yang ada di halaman itu.
"Tapi, Putri harus ke rumah sakit dulu, honey. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya." ucap Rani yang menyusul mereka duduk di taman.
Kevin menggenggam tangan Putri.
"Pergilah, sweetie, kau harus sehat. Kau harus menjaga ku sampai sembuh, kan?"
Putri mengangguk.
"Ya, Pi"
"Kalau begitu, pergilah kalian, kami akan menunggu kalian di rumah" ucap Rani.
Kevin dan Putri, berpamitan dan segera pergi.
Kevin terus menggenggam tangan Putri.
"Semoga kau tidak apa-apa ya sayang,"
Putri menyenderkan kepalanya di bahu lebar milik Kevin.
__ADS_1
Setelah pemeriksaan, dokter menyerahkan hasilnya ke tangan Kevin.
Kevin membuka hasil itu, dan membacanya.
Suasana hening.
"Is it true?" tanya Kevin.
"Yes"
Mata Kevin berbinar-binar, melihat Putri yang baru kembali dari kamar kecil.
"Thank you, doc" Kevin menyalaminya dan segera keluar sambil memeluk Putri.
"Apa hasilnya? Aku sehat kan?" tanya Putri.
Kevin tidak berkata apa-apa. Ia terus menggenggam tangan Putri.
"Vin, apa hasilnya" tanya Putri kembali ketika mereka masuk ke dalam mobil.
"Mana hasilnya, aku mau lihat"
Kevin membuka hasilnya.
Putri membelalakkan matanya.
"Ini serius?" tanya Putri.
Kevin mengangguk.
Putri meraba perutnya.
"Kau harus lebih berhati-hati, sayang."
Berulang kali Kevin mencium punggung tangan Putri.
"Aku akan menjaganya," Putri meraba perutnya.
__ADS_1
"Baik-baik ya sayang."
"Kau akan lebih lelah, sayang" Kevin mengecup kening Putri.
Saat sampai di rumah keluarga O'Leary, mereka sudah menunggu untuk makan malam.
"Hi, mam, dad. Kenapa tidak makan duluan" sapa Kevin sambil terus memeluk tubuh Putri.
"No, kami menunggu kalian. Bagaimana hasilnya. Kau sehat kan Sweetie?" tanya Harry.
"Putri sehat, Pi." ia memeluk mertuanya dari belakang.
Kevin menyerahkan hasil pemeriksaan Putri ke tangan Rani dan Harry. Mereka saling lihat, dan membukanya pelan-pelan.
"Sini, kak" ajak Andre duduk di sampingnya.
"Jangan sakit, kak. Aku sedih kalau kau sakit." ucapnya berbisik kepada Putri.
Harry dan Rani saling pandang setelah melihat hasil pemeriksaan Putri. Raut muka mereka berubah menjadi tersenyum lebar.
"Thanks God. Putri" mereka bangun dari duduknya, dan memeluk menantu mereka.
Putri sangat bahagia mendapatkan hasil itu lagi. Putri bisa membuat kedua mertuanya itu bahagia.
"Vin, kau harus menjaga istrimu. Jangan sampai ia sedih."
Kevin mengangguk sambil tersenyum melihat Putri.
"Kak, kau hamil lagi?" tanya Andre.
Putri mengangguk.
"Yeay... aku akan menjadi seorang paman lagi."
Suasana makan malam itu menjadi makan malam yang sangat mengaharu biru.
"Kau ingin makan apa, put. Nanti papi Carikan. Bilang saja. Pasti papi usahakan" Harry seperti melupakan penyakitnya. Semangatnya sangat terlihat malam itu.
__ADS_1