
"Hei, menjauh dariku"
seseorang berjalan menuju Vena yang sudah terdesak di dinding pagar.
"Kita akan bersenang-senang, nona manis. Kau cantik sekali."
"Jangan dekati aku, atau kau akan.."
"akan apa nona, di sini sepi, tidak ada orang lewat. Kita akan bermain sedikit" semakin dekat 2 lelaki yang tidak dikenal itu, membuat Vena menangis.
"Hei, hei, jangan menangis. Permainan ini akan membawa kita bersenang-senang sedikit." Dagu Vena diangkat.
"Hei" suara itu sangat dikenal Vena.
"Lepaskan dia, atau kalian akan menyesal" teriak Ajin yang mendekati 2 laki-laki itu.
2 laki-laki yang tidak dikenal itu saling pandang, dan mendekati Ajin. Ajin menghampiri Vena, dan menarik tangan Vena.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ajin.
Vena hanya menggeleng dan menangis ketakutan.
"Kalian banci, hanya berani dengan kelemahan seorang wanita." ucapan Ajin itu membuat 2 orang laki-laki itu tertawa.
"Siapa kau? Pacarnya? Huuuu... aku takut" ucap seorang dari mereka mengejek sambil tertawa.
__ADS_1
"Kalau iya kenapa? Hadapi aku!"
Kemudian seperti film action, Ajin menyelamatkan Vena dengan menghajar 2 orang laki-laki itu. 2 lawan 1, Vena hanya bisa berteriak ketika Ajin dipukul dari belakang, dan dipukul oleh kedua orang itu. Tapi, jangan ditanya, Ajin ahli dalam bertarung. Sehingga Kevin selalu aman kalau jalan dengannya.
Akhirnya 2 orang laki-laki itu lari meninggalkan Ajin.
Vena mendekati Ajin yang sedang menahan sakit di pipinya, dan terduduk lemas. Vena memapah Ajin berjalan menuju mobil.
"Maafkan aku, kau sampai seperti ini" ucap Vena menyentuh pipi Ajin.
Ajin yang terkejut dengan sentuhan itu menjadi gelagapan.
"Oh.. tidak apa-apa, terima kasih" ucap Ajin tanpa sengaja memegang tangan Vena.
"Ya bos.. Maaf bos, aku tidak mengangkat teleponmu. something wrong tadi. Ya bos, baiklah bos, oh.. begitu. oh.. Ok bos. Baiklah, bos. Tidak.. everything alright, ok bos. Kami akan segera sampai ke rumahmu, Baiklah bos" Ajin menutup telepon itu, sambil sedikit meringis kesakitan.
"Apa kau tidak apa-apa? Apa sebaiknya kita ke rumah sakit dulu? Luka lebammu harus segera diobati. Tanganmu juga berdarah. Sebentar," Vena menarik tangan itu, dan membersihkan luka yang ada di tangan Ajin dan meniupnya.
Ajin tersipu dengan perhatian Vena, saat Vena meliriknya, Ajin seperti tidak sedang melihatnya. Kemudian ia menarik tangannya.
"Sudah, aku bukan anak kecil yang kesakitan karena hal kecil seperti itu tadi" ucapnya kemudian menghidupkan mesin mobil dan jalan berbalik menuju rumah Kevin.
Vena yang merasa tidak enak, terus memperhatikan Ajin yang sesekali meniup tangannya.
"Bolehkan aku mampir ke apotik itu di depan sana?" pinta Vena, melihat ada apotek di depan mereka.
__ADS_1
Ajin menghentikan mobilnya tepat di depan apotek. Vena segera berlari mencari plaster luka, kapas dan alkohol untuk luka Ajin. Setelah membayarnya, kemudian ia buru-buru masuk ke dalam mobil lagi.
"Sudah?" tanya Vena.
Vena menarik tangan Ajin, dan membersihkan lukanya dengan kapas dan alkohol, ia meniup tangan Ajin. Dan terakhir menempelkan plester untuk luka Ajin di tangannya dan pelipis sebelah kiri.
"Aku letakkan di sini, kalau kau terluka kembali, kau bisa memakainya" ucap Vena meletakkan ke dalam dashboard mobil Ajin.
Ajin terdiam dan memandang Vena yang merapikan dasboard miliknya.
Ia melajukan mobilnya lagi.
Penjaga rumah itu, sudah hafal dengan plat mobil Ajin, dan langsung membukakan gerbang uang yang tinggi itu. Mereka langsung memarkirkan mobil di depan rumah utama yang ditinggali Kevin dan Putri.
Vena dan Ajin turun, dari mobil dan pintu rumah pun segera dibuka oleh asisten rumah tangga.
"Hai.. apa yang terjadi?" tanya Putri yang melihat Ajin memakai plester di pelipis dan tangannya.
"Kau tidak apa-apa, kan?" tanyanya lagi.
Ajin merasa tidak enak, karena Kevin meliriknya dengan sinis. Kemudian Kevin menarik tangan Putri.
"Kalau dia kenapa-napa, pasti dia tidak akan sampai di sini"
*wah wah wah, Kevin masih saja suka gitu deh sama Ajin.😅😅 Kasih obat buat Ajin kuy, dengan cara, vote yang banyak dan like, juga komen, oke... 😍😍
__ADS_1