Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Status Baru


__ADS_3

"Maaf.." Kevin berlari sambil mengangkat tubuh Putri ke kamarnya. Ia mencari obat luka yang ada di rumah itu.


"Maaf.." ulangnya lagi.


Putri menggelengkan kepalanya.


"Aku yang salah, tidak memegang gelas itu dengan benar" ucapnya sambil menyentuh pipi Kevin.


"Aku akan panggil dokter Fajar" tapi tangan Putri menarik tangan Kevin.


"Ini hanya luka kecil. Nanti juga akan sembuh" ucapnya lagi. Putri bangun dan mengambil sapu rumah itu.


"Tidak, biarkan si mbak nanti yang merapikan. Aku akan memanggilnya. Kau diam saja di kamar."


"Ini pekerjaan biasa, Vin.."


"Aku perintahkan kamu untuk kembali ke kamar" teriak Kevin.


Putri menatap laki-laki itu.


Dan pergi ke kamar.


Beberapa saat, ia kembali sambil mengambil jus untuk Putri. "Minumlah. Maafkan suaraku keras tadi"


Pintu kamar diketuk. Ajin masuk dari pintu itu.

__ADS_1


Ia menyerahkan berkas yang ada ditangannya.


"Aku sudah meminta pengacara untuk mempercepat proses ini" senyum puas Ajin tampak jelas.


"Sayang, baca ini" Kevin menuju kasur yang sedang di duduki Putri.


"Apa ini? Apa maksudnya ini?"


"Apa kau setuju kalau kita menikah?" tanya Kevin sambil memegang tangan Putri.


"Tapi... bagaimana orang tuaku, bagaimana orang tuamu? Aku tidak bisa begini." Putri menundukkan kepalanya.


"Pertanyaanku, Maukah kamu mendampingiku, menjadi ibu dari anak-anakku, menemaniku di saat susah maupun senang, mencintaiku di sisa umurmu?"


Putri menatap Kevin dalam. Ia mencari jawaban di mata Itu. Ia tidak mau menyesali keputusannya. Lama ia mencari jawaban itu, dan entah dari mana gerakan itu datangnya, ia mengangguk.


Putri meneteskan air matanya.


Ia mengambil ponselnya. Ia takut untuk mengabari orang tuanya. Pikirannya, ia akan di ocehi sampai kepalanya pusing. Ia melangkahkan kakinya menuju halaman belakang.


"Bu... dimana?" tanya Putri pelan.


"Di rumah, tumben kamu telepon ibu. Apa sudah dapat calon suami, sampai kau berani menelpon ibu. Kalau kau belum dapat, ibu sudah mendapatkan calon untukmu. Ingat.. Umurmu itu bukan muda lagi. Mau sampai kapan kau sibuk dengan pekerjaanmu"


Belum apa-apa, ibu sudah panjang lebar mencecer dia dengan pertanyaan.

__ADS_1


Keringat sebesar biji jagung keluar dari tubuhnya.


Kevin yang hanya bisa mengintip Putri dari balik jendela.


"Siapa yang dia hubungi, sampai harus menjauh dariku." Kevin menatap sinis.


"Bu.. Aku akan menikah, secepatnya" ucap Putri dari ponselnya.


"Hahaha.. becanda. Bawa saja suamimu kesini kalau kau sudah menikah. Jangan hanya omong kosong. Malu ibu dengan tetangga, disangka kamu gak laku." nada suara ibu melemah. Ia jadi sedih, setiap bertemu orang, yang menanyakan Putri, mereka semua mencemooh kalau Putri akan menjadi perawan tua.


"Ibu dan ayah akan merestui semua keputusanmu. Tapi, ibu dan ayah tidak bisa ikut menyaksikan pernikahanmu. Setelah kau menikah, baru bawa kembali suamimu"


Alih-alih ia ketakutan dengan rencananya itu, ibu malah berbicara seperti itu.


Tanpa ia sadari, Kevin berjalan mendekatinya.


"Terima kasih, Bu. Aku akan mengabari ibu setelah aku selesai" ucapnya buru-buru menutup telepon itu.


Kevin melingkarkan tangannya di pinggang Putri.


"Ibumu?"


Putri mengangguk.


"Bagaimana? Besok sebelum kita berangkat ke UK. Aku akan merasa nyaman bila pergi dengan status baru"

__ADS_1


"Tapi, bagaimana orang tuamu?"


"Serahkan semua kepada Ajin" dengan santai ia menunjuk Ajin yang ada di ruang tengah sedang menonton televisi.


__ADS_2