
Keesokan harinya, semua sudah menunggu di rumah Kevin. Harry dan Rani juga ikut menunggu di sana.
Mobil yang membawa Putri dan Kevin sudah sampai di depan rumah. Motor Putra yang menyusul pun ada di belakang mobil itu.
Wajah Harry sangat bahagia melihat menantunya sudah sehat kembali.
Putri mencium punggung kedua mertuanya itu, Harry mengelus pundak Putri, sedangkan Rani, hm.. Dia buru-buru menarik tangannya.
"Jangan terlalu senang, ya. Aku sudah tau siapa kau" bisiknya.
Putri terdiam, dan secepat kilat, tangan Kevin menarik Putri pelan, masuk ke dalam rumah.
"Wow.. what is this? Apa yang terjadi pada rumahku?" tanya Kevin.
"brengsek kecil, kau tidak akan sempat mengurus semua. Lihat saja, dari tahun ke tahun, kau tidak mengganti gaya rumahmu ini." ucap Harry.
"Tapi, pap."
"Kau harus berterima kasih pada Putri" ucap Harry.
__ADS_1
Kevin dan Putri saling pandang.
"Ya, karena di rahim itu, ada janin, cucuku ada di sana. Tapi kau harus menjaga dia dengan baik. Lihat ini, Putri, apalagi yang harus papi siapkan, agar kau tidak stress di dalam rumah ini" Harry merangkul Putri, dan melihat sekeliling rumah itu.
Ada 1 kamar kedap suara, sehingga Putri masih bisa mengolah vocalnya. Ruang keluarga dibuat seperti home teather, sehingga Putri bisa puas menonton. Kemudian mereka keliling lagi, ada kamar untuk bayi. Putri melirik Harry, meminta izin untuk masuk kamar itu. Harry menganggukkan kepalanya, dan Putri pun seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru, berjalan kesana kemari dengan rona bahagia. Kevin yang mengikuti mereka dari belakang pun turut senang, walau, ia harus kecewa, papinya terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangganya. Tapi, melihat Putri bahagia, membuat ia melupakan egonya itu.
"Apa kau tidak pernah melihat barang-barang mewah seperti ini? Kelakuanmu, menunjukkan siapa dirimu" ucapan ketus itu membuat semua orang memandang diri Rani.
"Mami... apa-apaan sih" ucap Kevin.
"Ya, istri kontrakmu itu, ia datang seperti Cinderella saja."
"Sudah dek" Putri meredakan emosi Putra.
"Tapi, kak" Putra menghentikan ucapannya, karena tangannya ditahan oleh Putri.
"Sudahlah, kau harus istirahat, kami juga akan segera berangkat ke UK lagi." Mereka kembali ke ruang utama.
"Ingat, Putri.. Gunakan uangmu, jangan kau tidak pakai. Kalau kurang, papi akan kirim lagi" Ucap Harry sambil memeluk menantunya itu,
__ADS_1
Putri mencium punggung tangan papinya dan menangis.
"Jadwalkan pertemuan kembali dengan orang tuamu ya, kalau perlu, kita ke kampung halamanmu, Papi juga ingin merasakan sejuknya udara perkampungan." ucapnya sambil melambaikan tangannya.
Di perjalanan menuju bandara, Harry memegang tangan Rani.
'apa yang membuatmu seperti itu, apa kau tidak merestui pernikahan mereka?" tanya Harry lembut.
"Ya, aku belum bisa menerimanya. Apalagi ini?" Rani menyerahkan dokumen tentang hubungan perjanjian antara Kevin dan Putri.
"Kalau benar isi surat ini, berarti perempuan itu hanya memanfaatkan anak kita saja, honey"ucap Rani menundukkan kepalanya. Ia tau, jalannya mencari kebenaran itu salah, tapi ia tidak suka dengan cara mereka.
"Kau salah, mungkin benar saat itu mereka hanya hubungan perjanjian, tapi, aku melihat cinta dimata mereka. Kita tidak dapat menjudge mereka seperti itu. Sudah, tenangkan dirimu. Aku mendukung hubungan mereka. Dan kau, sebagai ibu dari anakmu, cobalah mengerti perasaan anakmu. Kau tau sendiri, bagaimana Kevin yang lalu, sampai kau harus bolak balik menjodohkan dia. Sekarang, Kevin yang menentukan jodohnya. Kau harus menghormati keputusan itu" jelas Harry.
"Buang saja dokumen tidak penting itu. Jangan kau fikirkan masalah itu" ucap Harry.
*Makin gemes sama Rani? Sama, author juga.
Mau tau kelanjutannya lagi, ayo, buruan, kirim vote sebanyak-banyaknya ya.. Terima kasih 😍
__ADS_1