
Ajin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak mau terjadi sesuatu dengan Kevin.
"Dimana kau?" tanya Kevin
"Aku sudah berada di parkiran. Kau ingat pesanku. Jalankan semua rencana kita, ok. Aku tidak akan jauh dari tempatmu, dan akan terus mencari informasi. Ikuti permainan Bernika. Jangan membuat dia curiga"
Dari penyelidikan Ajin, Bernika sudah membooking 2 kamar hotel itu. Tapi entah untuk apa ia membooking 2 kamar tersebut.
Kevin sudah melihat sosok Bernika walau dikeremangan cahaya. Sikap liar Bernika membuat Kevin muak. Tapi, demi semuanya, ia harus melakukan itu.
Kevin mendekati Bernika, yang sedang menari.
"Sayang, kenapa baru sampai?" tanya Bernika sambil berteriak.
Kevin mengajaknya untuk duduk.
Bernika jalan sambil menari. Ia sudah terbawa suasana.
"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Kevin.
"Santai dulu, nanti kita bicarakan di kamar, berkasku di kamar. Ada hal yang aku tidak paham. Kau mau minum?" tanya Bernika.
Kehidupan bebas membuat ia terbiasa dengan suasana itu.
Bernika memesan minuman, yang sudah dipesan sebelum Kevin datang.
__ADS_1
Kepala Kevin mendadak berat.
Bernika membawanya ke kamar.
Ia mengabadikan saat dirinya dan Kevin berdekatan. Segera ia membuka baju Kevin dan mulai beraksi.
"Akhirnya, aku mendapatkanmu. Aku akan membalas dendam atas perlakuan keluargamu. Hahahha. Betapa bodohnya kau dan mamimu. Mau saja aku bohongi. Hahaha. Padahal sudah berulang kali aku menyakitimu, masih juga kau mau membantuku." ucapnya sambil menowel kepala Kevin.
"Dengan begini, kau mau tidak mau akan menikahiku, hahahaha, aku akan bilang anak dalam perutku ini adalah anakmu. Perempuan peyot itu akan bahagia walau aku bohongi lagi"
*Flashback
Malam itu, Harry mengajak Rani untuk jalan-jalan.
Rani tanpa curiga dan mengikuti langkah Harry.
Tapi, saat yang bersamaan, Televisi yang dinyalakan Harry ternyata memperlihatkan sebuah kenyataan yang harus diterima semuanya.
"Ini apa?" Rani terlihat shock.
Ia melihat putra kesayangannya, seperti ditiduri oleh Bernika dengan berbagai pose hanya untuk mendapatkan beberapa gambar.
Muka Rani tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa dan penyesalan terdalam.
"Aku akan mencarinya. Dimana perempuan itu?" Rani bangun dari duduknya.
__ADS_1
Harry menenangkannya.
"Itu perempuan pilihanmu, honey. Kau mengacuhkan menantu kita, Kevin memilih wanita yang tepat. Sudahlah. Kau jangan terlalu memikirkan semua ini."
Sebenarnya Harry sangat emosi, tapi mereka mempunyai bukti kuat. Untuk apa ia mengotori tangannya. Ia mengikuti alur cerita yang sudah dibuat.
Setelah Bernika puas mengambil foto mereka, ia keluar dari ruangan itu dan kembali ke kamar lainnya. Di sana, Roni sudah menantinya, dengan senyuman manis membuka pintu untuk kekasihnya.
"Bagaimana usahamu? Lancar?" tanya Roni yang sebenarnya tidak membenarkan ulah Bernika. Tapi ia tidak bisa mencegahnya.
Bernika membuka sepatunya, dan merentangkan tangannya di atas kasur. Roni mendekatinya dan membenahi rambut Bernika yang terurai menutupi sebagian wajahnya, dan ia mencium wanita itu.
"Ambilkan aku segelas air, aku haus" ucap Bernika. Roni seperti kacung yang harus menuruti kemauan majikannya.
"Terima kasih"
Bernika menarik tangan Roni.
Dengan ganasnya, ia seperti menerkam mangsa yang tidak berdaya.
** Ajin yang sudah berada di kamar yang dibuat untuk mengambil adegan sinetron yang dibuat Bernika, mematikan alat penyadap yang sengaja ia letakkan di kamar itu. Ia bersyukur, sekali bisa bekerjasama dengan pihak Hotel yang memang merupakan rekanan bisnis Kevin. Ia membangunkan Kevin.
"Pakai bajumu!" ucap Ajin.
"Wow.. aku diperkosa Bernika" Kevin masih bisa bercanda. Padahal Ajin ketakutan Bernika berbuat di atas batas pemikirannya.
__ADS_1