Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Papper bag


__ADS_3

Putri dan Kevin sangat bahagia bisa bersama lagi. Setelah 12 hari tidak bertemu, mereka saling berdekatan 1 sama lain.


"Sayang, apa yang kau inginkan selama aku jauh darimu?" Kevin memberikan pesanan Putri, kerak telor yang sengaja ia beli sebelum keberangkatannya.


Sambil menyantap pesanannya, Putri tak henti-hentinya memeluk Kevin.


"Sweetie, kau rindu papi?" tanya Harry.


Putri mengangguk, tapi ia takut menatap Rani.


"Hey, what's up. She's your mom.. Come on, apa kau tidak ingin memeluk mamimu?" tanya Harry.


Putri takut akan penolakan itu lagi.


Tapi, Andre memegang tangan kakak iparnya itu. Dan mendekatkannya kepada Rani.


Rani mendekati Putri, dan akhirnya memeluk menantunya yang selama ini ia abaikan.


"Maafkan mami, sayang. Mami egois, mami salah. Mami pantas mendapat hukuman darimu." air mata Rani menetes deras. Ia mengingat betapa kejamnya ia yang ingin memisahkan Putri dan Kevin.


Putri menghapus air mata mertuanya itu.


"Tidak, mam. Mami tidak salah. Putri yang salah. Maafkan Putri ya mam"


Harry dan Kevin sangat bangga melihat Putri yang sudah lama sekali tidak dipandang oleh Rani, akhirnya dapat saling memeluk.


**Di Jakarta yang masih dengan hiruk pikuk ibu kota, sepasang manusia sedang menikmati deburan air di pantai Ancol.


Ya, Ajin dan Vena sedang duduk bersama dari sore.


"Vena, aku sudah berada di depan kos-kosan. Cepatlah keluar" suara Ajin meminta Vena untuk menemuinya.

__ADS_1


"Aku harus bicara penting padanya" gumamnya dalam hati.


Vena yang terbangun karena suara ponselnya berdering, dan mengharuskan ia keluar dari kamarnya, terpaksa harus dengan rambut yang belum di sisir, menemui Ajin.


Ia mengucek matanya, dan memegang segelas air minum.


"Ada apa pak?" tanya Vena.


"His.. belum mandi" Ajin menutup hidungnya.


"Kau mengganggu istirahatku. Ini kan hari libur. Ada apa?" tanya Vena.


"Ini, ambil. Mandi sana. Pakai baju ini. Aku tunggu di dalam mobil" ucap Ajin, sambil menyerahkan papper bag, dan masuk ke dalam mobil.


Vena kesal dengan perlakuan Ajin.


Ia memukul mobil itu, dan masuk ke dalam mobil.


Setelah ia mandi, ia melihat isi dalam papper bag itu. Sebuah kaos dan rok panjang. "Apa-apaan ini. Kenapa harus rok panjang. Benar-benar tidak tahu mode ini orang"


Ia mencari cardigan yang sepadan dengan rok yang dibawakan oleh Ajin.


Ajin sudah tampak kesal menunggu Vena keluar dari kamarnya.


"Dasar perempuan" ucapnya kesal.


Hampir 1 jam, ia berada di dalam mobil, setelah bertemu langsung dengan Vena tadi.


Vena merapikan kamarnya, dan segera keluar dari sana.


Ajin melihat style yang digunakan Vena sangatlah serasi dengan bentuk tubuh Vena.

__ADS_1


Ia pun keluar dari mobilnya dan menyender di pintu mobil sambil bersedekap tangan.


"Aah.. aku tidak salah pilih" ucap Ajin sambil memandang Vena.


"Maksudmu?" tanya Vena yang mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ajin.


"Aah.. tidak. Ayo, masuk" Ajin membukakan pintu untuk Vena.


"Mau kemana kita?" tanya Vena.


"Aku mau ajak kau mengambil pesananku." Ajin melajukan kendarannya ke sebuah mall.


Vena yang masih bingung, harus mengikuti Ajin. Dan mereka berhenti di sebuah parkiran mobil di sebuah mall.


"Ayo turun." Ajin membukakan pintu mobilnya.


"Kau mau belanja?" tanya Vena.


Ajin tidak menjawab pertanyaan itu, Vena segera memakai cardigan yang ia bawa.


Setelah berputar-putar, Ajin menghentikan langkahnya di sebuah toko. Vena sangat senang, karena pemandangan itu sangat diimpikan oleh semua wanita. Ia hanya melihat-lihat, dan matanya tertuju di satu barang.


"Cantik sekali" ia tidak sadar berbicara sampai terdengar oleh Ajin yang tanpa ia sadari, Ajin memperhatikan gerak geriknya.


"Berapa ini mbak?" tanya Vena.


"Yang ini mbak?" tanya pegawai di toko itu.


"Ya" jawab Vena


"Ini hanya 5.6 mbak. Mau di ambil, mbak?" tanya pegawai toko itu lagi

__ADS_1


"Tidak mbak. Saya hanya suka modelnya saja" ucap Vena.


"Huft, nanti aku kumpulkan uang gajiku, baru aku beli." gumamnya dalam hati.


__ADS_2