
Bali adalah saksi bisu untuk Vena dan Ajin. Mereka menghabiskan waktu-waktu pertama sebagai suami istri di sana. Vena sangat bahagia. Ajin benar-benar membuktikan cintanya di sana. Tidak banyak tempat yang mereka datangi, karena, mereka banyak menghabiskan waktu bersama.
Terkadang Vena kesal terhadap Ajin. Yang suka tidur, setiap ditanya Vena,
"Yang, perasaan tadi baru bangun deh, kok tidur lagi?" Vena yang ingin sekali jalan mengelilingi pulau Bali, hanya diam.
Karena jawaban Ajin selalu,
"Yang, nanti ya, mumpung gak kerja, aku istirahat dulu. Ntar kalo tenaganya udah kumpul, kita jalan lagi ya" ucap Ajin berbicara sambil menutup matanya.
Vena mau tidak mau harus mengerti, kondisi Ajin yang memang sangat lelah dengan pekerjaannya. Sehingga, paling Vena jalan keluar cottage yang berhadapan langsung dengan pantai.
Malam itu, malam terakhir mereka berada di Bali, Vena sudah menyiapkan barang-barang yang akan di bawa pulang.
"Yang, sampai kita di Jakarta, kita langsung ambil peralatanmu di kos-kosan ya" Ajin mengingatkan Vena.
"Kita belum sempat untuk memindahkan barang-barang milikmu. Karena kita langsung ke sini" lanjutnya.
"Ya, yang. Aku udah kebayang, repot amat ya, yang. Tapi aku boleh tinggal di rumahmu?"
"Pertanyaan bodoh itu, yang. Rumahku sekarang adalah rumahmu juga. Barangku sekarang, adalah barangmu juga. Hatiku sekarang, adalah hatimu juga." Ajin memeluk Vena dari belakang.
__ADS_1
Vena tersenyum malu. Sejak mereka kenal, Vena sama sekali tidak pernah tau dimana rumah Ajin. Karena perkenalan ini sangat singkat. Seperti waktu yang tidak bisa dihentikan, terus saja berjalan.
"Kau, akan jadi permaisuri di rumahku, walau rumahku tidak semewah milik Putri dan Kevin, tapi aku yakin, nyaman untuk kita dan anak-anak kita nantinya. Nanti kalau kau tidak suka, kita akan rombak rumah kita" ucap Ajin memeluk Vena.
Muka Vena memerah. Setiap Ajin menyentuhnya, mukanya selalu memerah.
"Sudah ah, aku mau beres-beres dulu, besok pesawat kita jam berapa, yang?" buru-buru Vena melepaskan pelukan Ajin dan menepuk mukanya, sambil kembali menyusun barang-barang ke dalam tas koper.
"Kita berangkat jam 12 siang waktu Bali, yang." jawab Vena.
"Berarti paling lama, jam 9 kita sudah jalan. Ya kan, yang?" tanya Vena.
"Baju yang dipakai besok, sudah. Oleh-oleh juga udah. ah.. selesai sudah." Vena berdiri sambil menunjuk ke koper tasnya.
Ia meregangkan ototnya, dan tanpa Vena sadari, Ajin sudah siap memeluknya.
"Sudah malam, apa kau sudah lelah?" tanya Ajin seakan memberi kode.
Vena tersenyum.
"Sini" Ajin mengajak Vena untuk duduk di teras dan Ajin memijat pundak Vena.
__ADS_1
"Yang..." Vena merasa tidak enak.
Bukannya dia yang melayani Ajin, kenapa Ajin malah yang mengurusinya.
"Udah releks aja. Kau kan sudah lelah melayani aku seminggu ini, Maafkan aku ya yang, kita belum puas jalan-jalan kelilingnya. Tapi, nanti kita akan jalan-jalan lagi ke sini." ajak Ajin , ia merasa bersalah dengan Vena. Sebelum menikah kemarin, Ajin menyelesaikan banyak tugas kantor, hingga ia merasa sangat lelah, dan saat honeymoon dipakai untuk beristirahat.
"Tapi, aku maunya bareng Putri dan Kevin juga, jadi, saat aku sendiri, ada Putri yang menemani aku" ucap Vena, menyentuh tangan Ajin
"Kita main ke pantai, yuk. Bulannya sangat terang." Vena bangun dari duduknya dan mengajak Ajin.
Sepanjang jalan, tangan mereka tidak akan pernah lepas. Saat di atas batu, di saksikan bulan purnama, Ajin berkata,
"Yang, terima kasih sudah mau menerima aku sebagai suamimu, Aku berjanji, tidak akan meninggalkanmu."
Vena yang terbawa suasana, memandang suaminya itu, menatap dengan tajam ke arah Ajin, sambil memeluk pinggang Ajin.
*Berkat doa semuanya, perjalanan cinta Vena dan Ajin sampai ke tahap ini. Bahagianya..
Selamat weekend semua..😍😍
__ADS_1