
"Bagaimana kabar si penjahat perempuan itu?" tanya Vena geram.
"Sudah di tangan polisi. Biarkan saja dia merasakan ulahnya."
"Tapi, kemarin kau bilang, dia hamil. Apa benar anak Kevin?"
Ajin tertawa.
"Aku yakinkan, bukan anak Kevin. Kejadian malam itu sudah kami rekam semua. Dia hanya memanfaatkan tubuhnya untuk di foto saja."
"Tapi licik sekali perempuan itu" Vena menggenggam tangannya.
"Sudahlah. Ayo bersiap. Kita harus membicarakan masalah pernikahan kita." ucap Ajin bersemangat.
"Hah" Vena kaget mendengar ucapan yang keluar dari mulut Ajin.
"Tapi, kita kan baru"
Ajin langsung memutus pembicaraan itu.
"Kau tidak mau menikah denganku?" tanyanya
"bukan. bukan itu maksudnya. Tapi"
"Tapi apa? Cepat masuk dan ganti pakaianmu. Apa kau mau aku gendong ke dalam dan aku yang menggantikan pakaianmu?" ucap Ajin dengan alis dinaikkan sebelah.
"Hah" Vena langsung masuk ke dalam kamar, dan menguncinya.
Lagi-lagi, Ajin tertawa.
Dia terdiam. Sudah lama ia tidak tau rasa bahagia, dan sudah lama dia merasa jarang sekali tertawa.
aahhh
Yang ada di hatinya saat ini, ia sangat bahagia.
Vena keluar kamar dengan pakaian yang mini.
"Hey, ganti pakaianmu. Kecantikanmu itu nantinya hanya untukku. Cepat ganti."
__ADS_1
"Jadi, aku harus ganti baju lagi?"
Ajin mengangguk.
Vena kesal dan kembali ke dalam kamar.
Ajin buru-buru mengikutinya.
Ia mencari baju yang pantas dipakai untuk Vena
"Pakai ini saja."
Ajin menyerahkan celana kulot dan kemeja berwarna pink.
"Ya sudah, kau keluar dulu. aku mau ganti baju" Vena mendorong tubuh Ajin keluar kamar.
Selang 10 menit, Vena keluar dari kamarnya.
"Begini?" tanya Vena.
"Ya.. ayo kita berangkat, nona muda yang sebentar lagi menjadi nyonya muda"
Vena tersenyum, menatap calon pendampingnya itu.
Dan betapa terkejutnya, di sana bukan hanya mereka berdua. Ada 2 orang dewasa di sana.
Vena mencubit tangan Ajin.
"Siapa mereka?"
Ajin menepuk tangan Vena.
"Assalamualaikum, ma, pa."ucap Ajin.
"Wa'alaikumusalam" jawab mereka.
"Ayo duduk" ajak seorang perempuan yang dipanggil Ajin dengan sebutan mama.
"Ma, ini Vena." Ajin memperkenalkan Vena kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Vena, Tante, om" ucapnya menyalami keduanya.
"Ayo silahkan dimakan, udah hampir dingin ini" ajak mamanya Ajin.
"I. iya, Tante" ucap Vena.
"Ven.. panggil mama, bukan Tante. Kan sebentar lagi, kau akan menjadi menantunya"
Vena tersedak.
Ajin menepuk punggung Vena. Ini terlalu cepat. Bagaimana ia akan berbicara dengan keluarganya.
"Orang tuamu dimana, nak?" tanya mamanya Ajin.
"Mereka ada di Bandung," Vena menghentikan ucapannya.
"Ma"lanjutnya menatap Ajin.
Ajin tersenyum puas.
"Kapan kita akan ke Bandung?" tanya papanya Ajin.
"Nanti Ajin cari waktu yang pas, ya pa. Soalnya ada masalah kantor yang harus Ajin selesaikan."
"Kau ini, kerjaan saja, sampai kau lupa kalau kau harus menikah. Lihat umurmu. Apa kau tidak kasihan melihat mama dan papa. Anak cuma 1, dan belum memberi papa cucu"
"Paa.. ini kan Ajin sudah mendapatkan pasangannya. Insya Allah. Ven, mungkin kau terkejut dengan kedatangan kami. Tapi, begitu tau dari Ajin, kalau dia punya orang yang di cinta, kami rasa tidak perlu lama-lama untuk menjalin hubungan. Kalian langsung menikah saja ya. Berdosa kalau kalian pacaran."
Vena terdiam menatap kedua orang tua Ajin.
"Aku sudah bilang ma, aku tidak mau pacaran, tapi langsung menikah, ya kan Ven?"
Vena mengangguk.
"Terima kasih ya Ven, sudah mau menjadi teman Ajin. Semoga semua rencana kita lancar sampai nantinya" Ucap mamanya Ajin.
"Ya, ma." Vena memeluk tangan mamanya, ketika mereka berjalan menuju kendaraan masing-masing.
"Lihat, pa. Vena sudah mengambil hati mama" ucap Ajin pelan, yang berjalan bersama papanya di belakang para perempuan mereka.
__ADS_1
Papa hanya tersenyum.
Puas hati Ajin melihat Vena yang sudah mulai akrab dengan keluarga Ajin.