
Malam itu, Kevin memakai kaos oblong putih dan celana jeans, sedangkan Putri dengan santai memakai sweater rajut pink dan celana jeans.
"Tidak, kau dan aku memakai pakaian santai. Tak ada masalah, sayang." Kevin menenangkan Putri yang masih shock
"Huft, untung saja tadi aku melihat pakaianmu, jadi aku mengimbangimu" ucap Kevin dalam hati.
"Hi mam, pap.." sapa Kevin kepada kedua orang tuanya.
Putri menarik erat Kevin, tapi Kevin menepuk tangan Putri, seolah memberi tanda semua baik-baik saja.
"Kau tidak mau memberi pelukan ke papi mertuamu?" tanya Hary.
Putri menghampiri mertua laki-lakinya itu dan memeluknya.
Rani merasa keringatan di tengah dinginnya malam itu, ia pergi dari kehangatan itu dan menyapa teman-temannya.
"Hai, sayang. Kemarilah. Ikut papi, tidak usah pedulikan mamimu." ajak Hary kepada Putri.
"Wah, tidak mau melepaskan tangan Putri ya, dasar brengsek kecil. Sana kau sapa yang lain." Hary menggandeng tangan menantunya itu dan menyapa tamu yang datang, ia dengan ramah mengenalkan menantunya itu ke semuanya.
Berbeda dengan Rani, ia merasa risih, atas kedatangan Putri.
"Kevin, ikut mami. Kita sapa teman-teman mami, di sana" Rani menunjuk ke perkumpulan yang sedang tertawa bersama.
"Hai Kevin, makin tampan saja. Kau masih ingat Inggrid?" tanya seorang teman Rani.
Kevin hanya tersenyum.
"Permisi, saya mau mengambil air minum" ucap Kevin sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Buat apa papi mengadakan pesta ini"
Sementara itu, Putri tidak terlihat, hanya papinya yang ada di sana, kemana putri?
Ia mencari Putri,
"Apa kau melihat istriku?" tanya Kevin kepada salah satu pengawal keluarga O'Leary.
Tapi keberadaan Putri tidak ditemukan.
"Put... Putri..." teriak Kevin.
"Ia tidak tau jalan rumah ini, kemana ia" raut kecemasan terpancar di wajah Kevin, yang sesekali menyibakkan poni rambutnya.
Kevin melihat seorang memakai sweater pink. "Itu dia, kenapa ia membawa baki berisi minuman?" tanya Kevin.
"Kau bawakan lagi, itu kesana" ucap Rani.
Tanpa sengaja, Rani menabrak perempuan yang dikenalkan tadi padanya.
Air minuman yang di bawa itu, tumpah di dres perempuan itu.
"Hei, kau pelayan tidak tau diri, beraninya kau menumpahkan air ini ke dress ku? Apa kau tidak tau berapa harga dress ini?" perempuan itu menumpahkan air ke kepala Putri.
Rani tersenyum melihat kejadian itu, bukannya membela menantunya, ia malah menonton kejadian itu.
Kevin emosi melihatnya.
Ia berlari mendekati mereka,
__ADS_1
"Hei, cukup!" teriak Kevin menarik tangan Putri.
"Aku tidak sengaja" ucap Putri ketakutan, dengan rambut yang basah.
Rani melihat itu makin kesal.
Perempuan muda itu bergelayut di tangan Kevin.
"Lihat, Vin. Pelayan ini menumpahkan minumannya di bajuku. Dia harus diberi pelajaran. Pecat saja dia" ucapnya manja.
"Berapa harga yang harus aku ganti untuk bajumu?"
"Tidak, kalau kau bertanggung jawab, nikahi aku saja, maka aku tidak akan melaporkan ke pengacaraku"
Deg. Kepala Putri langsung berdiri karena terkejut dengan kalimat itu.
"Oh, kalau begitu, baiklah" ucap Kevin.
Putri melepaskan tangan Kevin, dadanya sesak. Ia tidak sengaja menabrak perempuan itu, dan sebagai hukumannya, suaminya harus menikahi perempuan itu.
"Mungkin ini yang terbaik. Pesta ini dibuat untuk menyambut kembalinya Kevin" ucap Putri dalam hati.
"Kita bertemu di pengadilan. Karena kau sudah melakukan kontak fisik terhadap istriku, baiklah, ayo sayang, kita pulang"
Semua yang hadir di sana, merasa kaget atas statement yang diucapkan Kevin barusan.
Semua orang berbisik-bisik.
"Menantu keluarga O'Leary membawa baki, dan dipermalukan di depan umum" bisik-bisik itu terdengar di telinga Rani, membuat Rani makin membenci Putri.
__ADS_1
*Author makin **deg-degan sendiri ngetiknya.
Ayo vote yang banyak.. vote, vote, dan vote lagi. Biar makin seru ceritanya.😍😍**