
"Put.. kau harus menjaga martabat suamimu ya. Harus saling menjaga cinta kalian. Ingat nak, Kamu tidak sendiri sekarang, di dalam tubuhmu, ada janin hasil pernikahan kalian."
Sambil membuatkan bakwan jagung kesukaan Putri, ibu menasehati Putri.
Putri mengangguk pelan.
"Ayah dan ibu tidak bisa lama di sini, nanti sore ayah dan ibu akan pulang. Kau harus menjaga diri baik-baik ya." suara ayah yang ikutan nimbrung di dapur.
Mereka terbiasa masak bersama kalau di rumah mereka. Dan saat-saat itu yang Putri rindukan. Tapi ternyata, mereka harus pulang lebih awal dari perkiraan Putri.
"Kalau kau butuh sesuatu, ada Putra. Kau bisa memintanya untuk menolongmu, Ingat putra.. kau jaga kakakmu," pesan ayah kepada putra ketika mereka hendak berpisah.
"Siap, yah. Tenang yah, aku kan bentar lagi bakal jadi uncle tampan" ucap Putra sambil tertawa.
**Kevin cepat pulang kantor hari ini, ia ingin sekali menemui istrinya itu.
"Sayang.. dimana?" Kevin memanggil Putri.
"Mbak.. kemana non Putri?" tanya Kevin kepada si mbak yang membantu merapikan rumah.
"Tadi ada di kamar, tuan muda. Saya baru saja membantu nona merapikan kamar."
Kevin segera masuk ke dalam kamar.
Putri berada di kamar mandi,
"huwek.." suara pelan itu terdengar di telinga Kevin.
__ADS_1
Kevin berlari menghampiri Putri sambil membuka jas dan melemparnya ke atas kasurnya.
"Sayang.. "Kevin menekan pundak Putri
"Kamu kenapa?" tanya Kevin.
Putri membasuh mulutnya.
"Aku mual. Kepalaku sangat pusing"
Putri menatap Kevin, mukanya sangat pucat.
Kevin mengangkat tubuh mungil itu.
Ia meletakkan di atas kasur,
"Kenapa sayang, kita ke rumah sakit sekarang ya" ajak kevin
"Sampaikan ke pak Hasyim, siapkan mobil sekarang" perintahnya. Si mbak segera menuju garasi bawah dan menyampaikan pesan kepada sopir rumah itu.
"Sayang, aku tidak apa-apa, hanya mual saja. Nanti juga hilang. Tadi juga ibu bercerita kalau masa kehamilan mudah seperti ini, akan merasakan gejala seperti ini" jelas Putri.
"Tidak, aku tidak mau melihat kau seperti ini. Ayo sayang" Kevin menjulurkan tangannya.
Putri yang enggan bangun dari tempat tidurnya, terpaksa mengikuti keinginan Kevin O'Leary untuk ke rumah sakit.
Sepanjang jalan, Putri menyender di bahu Kevin. Rasa tenang saat ia berada di samping lelaki tampan itu.
__ADS_1
"Vin, bagaimana kalau nanti semakin besar perutku, aku semakin gemuk" tanya Putri masih bersandar di bahu Kevin.
Kevin menepuk pelan tangan Putri.
"Aku sudah bilang, aku menikahimu bukan karena fisikmu, tapi aku menikahimu karena perasaan yang tumbuh di hatiku, aku mencintaimu karena sifat dan ketulusanmu"
Kevin mencium kening Putri, meyakinkan Putri kalau Kevin mencintainya bukan karena apa-apa.
"Kita sudah sampai. Ayo sayang," Kevin membukakan pintu dan meletakkan tangannya di sisi pintu mobil.
Mereka langsung menuju ruang pemeriksaan. Kevin meminta Putri untuk duduk di kursi dorong, ia tidak mau melihat calon ibu dari anaknya kelelahan.
Dokter Fajar yang mengetahui keberadaan Kevin, langsung menemui Kevin.
"Hai laki-laki tua, apa kabarmu?" sapa Kevin dengan gayanya.
"Brengsek kecil, ada apa kemari." tanya dokter Fajar.
"Bukankah orang tuamu ada di sini sekarang, aku belum sempat menemui mereka"
"Sok sibuk, apa kau harus turun jabatan agar bisa menyapa mereka" ucapnya berbisik.
"Aah.. terserah kau saja. Ada apa dengan perempuan itu"
"Entahlah, aku hanya ingin membawanya berjalan- jalan di rumah sakit ini saja, tapi aku sekalian ingin berkonsultasi dengan dokter kandungan"
"Maksudmu, istrimu itu sedang hamil?"
__ADS_1
"Sepertinya begitu. Lanjutkan tugasmu, jangan lupa menghampiri Hary, ia akan menunggumu"
Dokter Fajar mengikuti sampai depan pintu ruang periksa kandungan, dan menepuk pundak Kevin.