Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Haknya


__ADS_3

"Sayang... kenapa tidur di sini?" Putri memainkan jemarinya di rambut Kevin.


"Eeeh" teriak Putri karena tangannya ditarik Kevin, Kevin memeluk tubuh mungil itu.


Ia mencium tekuk leher Putri, sehingga Putri merasa bulu kuduknya sudah berdiri semua.


Tanpa berbicara, mereka melakukan seperti halnya pengantin baru yang sedang dimabuk asmara tingkat dewa. Sampai akhirnya mereka dapat mengatur nafas masing-masing.


"Kenapa aku malas pergi-pergi ya. Aku mau tidur seharian." Kevin memejamkan matanya.


Putri memainkan poni rambut Kevin yang menutupi sebagian mukanya.


"Apa kau tidak lapar? Kan kita harus belanja untuk isi dapur rumah kita" ajak Putri sambil membelai dada Kevin.


"Hm.. Kita pesan makanan saja ya sayang, aku masih mau tiduran sama kamu" tiba-tiba Kevin berlaku seperti anak kecil.


Putri membiarkan Kevin mengambil haknya.


Entah bagaimana mereka menikmati siang di ruko yang panas itu. Sampai akhirnya, mereka sangat-sangat kelaparan. Putri tertawa mendengar bunyi yang berasal dari perut Kevin.


"Ayolah, kita harus pergi, sayang. Ini sudah sangat siang" ajak Putri, sambil mengambil pakaiannya yang terpencar di bawah lantai.


"Kau duluan mandi, kakiku sangat lemas" ucap Kevin, dan Putri pun tertawa. Bagaimana tidak lemas, entah berapa kali mereka melepaskan rasa cinta itu.


Selesai mandi, Putri membereskan tempat tidur kecil yang sangat berantakan itu.


Bercak sisa air murni ada di sprei itu. Ia melepasnya dan segera membawanya pulang untuk di cuci.


Putri hanya tertawa, ia puas sekali dengan permainan Kevin.


"Sayang.. tolong ambilkan bajuku" pinta Kevin.

__ADS_1


"Viiiin... pakai handukmu," ucap Putri sambil membalikkan tubuhnya.


Bukannya menutup bagian tubuhnya, malah Kevin memeluk Putri.


"Viiiin... jorok ih"


Kevin terbahak-bahak melihat tingkat Putri.


"pakailah bajumu, aku udah laper" pinta Putri, sambil membuka lemari pakaiannya.


"Untuk apa kau membawa pakaian itu. Biarkan saja di sini. Nanti kan aku belikan baju baru untukmu. Nanti kalau kita minal di sini, kau tidak punya baju." ucap Kevin.


"Benar juga", ucap Putri dalam hati.


* Siang itu, Kevin memulai dengan makan siang, dan belanja keperluan dapur, dan berakhir di pakaian dan sepatu.


Kevin mengambil keperluan Putri.


"Kau coba dulu, aku tunggu di sini" pinta Kevin


"Tapi, terlalu banyak,"


"Tidak apa"


"Tidak sayang, ini berlebihan, bagaimana kalau aku gendut,"


"Tidak apa"


"Bagaimana kalau aku hamil"


Kevin terdiam.

__ADS_1


"Oh iya, kita belum memilih baju hamil untukmu"


"Sayaaang... tidak sekarang. Nanti." ucap Putri


" Bagaimana aku menjelaskan semua padanya." kini hatinya berbicara.


"Sayang, bolehkan aku memilih beberapa saja ya.. uangnya kan sayang, bisa kita tabung, untuk masa depan kita dan anak-anak"


Kevin terdiam mendengar ucapan Putri.


"Perempuan ini polos atau apa? Semua teman perempuan, ketika aku meminta mereka untuk mencari keperluan mereka, langsung mengambil pakaian yang banyak. Kenapa tidak terjadi pada istriku ini. Aku bingung" Kevin hanya menggelengkan kepalanya.


"Hanya 2 ini saja?" tanya Kevin.


"Ya sayang, uangnya ditabung saja"


"Terserah kau sajalah." Kevin mengeluarkan dompet dan membayar belanjanya.


Sampai di rumah, Kevin menyerahkan uang 15 juta,


"Ini uang bulananmu. Nanti aku beri uang jajanmu"


"Apa ini?" tanya Putri yang sedang memakai lingerie warna hijau tua.


"Kurang? Nanti aku tambah ya. Aku belum mengambil uang cash"


"Bukan. bukan. bukan. Ini terlalu berlebihan."


"Ini hanya uang bulananmu. Terserah padamu, mau kau apakan uang ini."


"Tapi, keperluan kita sudah terpenuhi."

__ADS_1


Kevin tersenyum dan mengangkat tubuh mungil itu ke atas tempat tidurnya, dan melepaskan tali yang terikat di lingerie itu.


__ADS_2