Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Tangisan Putri


__ADS_3

"Selamat sore, pak sekretaris. Apakah kau sibuk?" tanya Putri sore itu.


"Ada apa dengan suaramu?" tanya Ajin.


Kevin yang mendengar itu, langsung duduk.


"Apakah kau sakit? Apakah aku harus memberi tahu keadaanmu kepada tuan Kevin?" Tiba-tiba pikiran itu spontan keluar dari mulut Ajin. Ia sangat sedih melihat kondisi bosnya. Tidak ada senyuman, yang ada hanya muka murung dan murung.


"Hei, aku baik-baik saja" ucap Putri.


"Aku hanya ingin menanyakan kabar bosmu"


"Apa, kau flu berat lagi? Bagaimana kalau kau pingsan lagi? Maafkan tuan Kevin. Ia memang sedang sibuk sekali, demi masa depan kalian. Tidak.. kau seharusnya mengabarinya. Aku akan memberi tahu tuan Kevin. Kau jangan egois. Kau sakit."


Kevin yang mendengar Ajin menghawatirkan Putri sangat tidak senang. Ia bangun dari tempat tidur pasien itu, dan segera bergegas mengambil kontak mobilnya, tanpa menanyakan kepastian. Kevin sangat takut terjadi sesuatu pada Putri.


"Hati-hati bos" senyum puas terpancar dari bibir Ajin.


"Tanpa kau ceritakan kejadiannya, aku sudah tau.


*Flash back

__ADS_1


Ajin yang sudah tidak sabar dengan jawaban yang seharusnya ia dapat, menemui Putri.


"Aku tidak tau harus bagaimana. Karena status kami sangat jauh" ucap Putri.


"Bodoh. Cinta tidak memandang status" Ajin nampak kesal dengan jawaban Putri. Tapi ia juga tidak bisa melihat bosnya selalu dirundung duka.


"Sebenarnya, pak Kevin itu sakit apa sih?" tanya perawat yang berada di depan kamar Kevin. Tak seorangpun boleh masuk, tanpa panggilan darinya, tapi kali ini ia berlari menuju parkiran VVIP.


"Penyakit orang kaya" jawab perawat lainnya.


Kevin membelah jalanan itu dengan kecepatan tinggi. Ia sudah tau, bagaimana kalau Putri sedang sakit.


"Jangan-jangan James yang membawanya ke rumah sakit. Itu kan alasannya mengatakan kalau kami tidak sama. Tidak, sebelum semua terjadi, aku akan datang lebih dulu."


"Put, bolehkan aku masuk?" tanya Kevin lewat ponselnya.


"Dimana kau?" tanya Putri dengan suara berat.


Dia benar-benar sakit, suaranya sampai seperti itu.


"Aku di depan pintu"

__ADS_1


Putri berlari menuruni tangga. Ia melihat sosok yang sangat ia rindukan. Baru 5 hari, dan rasa itu sangat berat. Ia menepis air mata kerinduan itu ketika mendengar suara Kevin


"Masuklah" Putri menundukkan kepalanya.


"Kau.. Menangis? Kau menahan sakit sendiri? Kenapa tidak kabari aku? Kalau aku tidak mendengar pembicaraan dirimu dan Ajin, aku tidak tau. Maafkan aku" Kevin mendongakkan muka Putri.


Putri tidak dapat menahannya. Ia menangis memeluk Kevin.


"Kau jahat." Hanya kalimat itu yang terucap di bibir mungil Putri.


Kevin terdiam.


"Seharusnya kau mempertahankan aku, tidak pergi meninggalkan aku sendirian." Putri masih tetap menangis.


Kerinduannya dengan laki-laki itu terluapkan dengan air matanya.


Kevin tidak tau apa yang terjadi. Ia hanya diam mematung, dan membalas pelukan Putri.


"Apa kau tau aku sangat merindukanmu?" tanya Putri lagi.


Rasa haru Kevin mendengar kalimat itu.

__ADS_1


"Kau mengatakan bahwa kau menyukaiku sejak pertama kali kita bertemu di malam itu, tapi kau membiarkan aku dengan menyimpan rasa itu sendirian. Kau laki-laki jahat. Tidak punya perasaan" sesekali Putri memukul pelan dada Kevin. Kevin tetap diam membiarkan semua kekesalan yang ada dalam tubuh Putri.


"Kau pergi, tanpa mendengarkan penjelasan dariku" air mata itu dihapus oleh tangan Kevin.


__ADS_2