Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Kedatangan mami (2)


__ADS_3

"Kak.. ayo ikut aku ke belakang" ajak Andre.


"Mana belanjaan tadi, kak? Kue yang aku beli tadi, diletakkan dimana?" tanya Andre lagi.


Putri bingung harus berbuat apa. Ia mengikuti langkah Andre,


Andre menyusun beberapa kue ke atas meja,


Putri mengambil air minum untuk mertuanya itu.


"Bawa dan suguhi ia. Ini adalah kue favoritnya. Aku sengaja beli ini, karena bang Kevin dan mami mempunyai makanan favorit yang sama"


"Bolu pisang? Aku tidak tau kalau abangmu suka bolu pisang. Aku suka bikin itu."


"Lupakan hal itu, cepat kakak bawa ini ke mami" Andre mendorong Putri keluar.


"Silahkan" ucap Putri menunduk.


"Berdiri" ucap Rani O'Leary, nama mertua Putri. Perempuan itu sangat cantik. Ia memandang muka mertuanya yang mirip dengan suaminya.


"Siapa kamu? Bagaimana kamu memikat hati anak saya? Apa kamu sudah merelakan keperawananmu sehingga kamu dinikahi oleh Kevin? Karena tidak mungkin Kevin menikahi seseorang kalau ia tidak ingin bertanggung jawab"


"Ti.. tidak, Bu.. Aku tidak begitu"


"Jangan sok polos di depanku, aku tau kau mendapatkan ruko itu karena perjanjianmu dengan Kevin, iya kan? Kau hanya memanfaatkan keadaan. Berapa yang harus ku bayar agar kau menjauhi anakku. Kau tidak pantas untuk anakku"

__ADS_1


"Mami.. cukup. Mami keterlaluan. Bagaimana kalau bang Kevin dengar. Mami berjanji sebelum menemui kak Putri, mami tidak akan menghinanya. Mami lupa dengan perjanjian itu"


"Kakak? Wow.. baru 2 hari kau kenal dengannya, sekarang kau sudah memanggilnya dengan panggilan kakak. Hebat sekali pengaruh perempuan ini"


Deg.


Hati Putri sangat sakit.


Ia terpukul dengan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut mertuanya itu.


Ia mengusap air matanya


Yang ia takutkan terjadi.


Dimana Kevin saat ia dibutuhkan.


"Maafkan mami, kak. Mami sedang tidak sehat"


"Apa katamu, nak? Mami tidak sehat? Mami sehat kok. Justru kamu yang harus memeriksakan diri, mami takut kamu kena virus perempuan itu"


Putri menangis.


"Kak.." Andre serba salah.


"Maaf Bu, saya tidak seperti yang ibu kira. Saya memang orang miskin, tapi saya tidak serendah itu" ucap Putri sambil menepis air matanya.

__ADS_1


"Hah.. sudahlah.. jangan pakai air mata untuk mengelabui ku" ucap Bu Rani


"Kak.. sudah kak" Andre tidak tau harus berbuat apa. Yang ia lihat, Putri sudah berurai air mata.


"Tinggalkan anakku. Kau akan mendapatkan uang ini" Bu Rani mengeluarkan isi dalam tasnya.


"Maaf, Bu.. saya tidak bisa menerima uang ini"


"Apa ini kurang untukmu? Sam.. ambilkan cek."


Pengawal itu mengeluarkan cek kosong.


"Silahkan diisi. Kau mau berapa saja, asal kau tinggalkan Kevin. Aku yakin Kevin akan bahagia setelah kau tinggalkan dia."


Putri tidak bisa menatap mata perempuan yang melahirkan suaminya itu. Ia terus menunduk dan menangis.


"Tidak, Bu.. Terima kasih atas semua ucapan ibu. Saya yang tidak sadar, kalau saya menikahi anak ibu. Saya akan pergi, Bu." Ia menghapus air matanya, dan masuk ke kamar untuk mengambil tas dan ponsel yang sedang di charge di samping kasurnya.


"Baguslah kalau kau sadar akan statusmu. Ambil uang itu, dan cek itu untukmu."


"Kak.. jangan pergi. Nanti bagaimana kalau bang Kevin menanyakan dimana kakak? Aku harus jawab apa?"


Putri memegang tangan Andre, umurnya sama dengan Putra, adiknya.


"Tidak usah bilang kau tau kalau kakak pergi."

__ADS_1


"Tapi, kak..."


__ADS_2