
Senin siang, setelah dokter visit, Putri diperbolehkan pulang. Tapi, mereka minta izin kepada orang tua Putri untuk segera membawa Putri ke Jakarta.
"Tapi, Putri baru saja pulih" ibu menangis melihat keadaan putrinya.
"Saya yang akan menjaga Putri, Bu. Dia adalah anak yang selama ini saya cari" ucap Rani memeluk Putri.
Putri menepuk tangan ibu
"Putri baik-baik saja, Bu. Lagian, Putri harus mengurus Kevin. Doakan Putri sehat ya Bu, yah." ucap Putri meyakinkan kedua orang tuanya.
Kevin memeluk Putri, dan menggandengnya sampai di bangku pesawat. Kondisi Putri memang masih lemah. Tapi, Putri sendiri juga memaksa Kevin ingin segera pulang ke Jakarta.
"Are you ok, sayang?" tanya Kevin mencium punggung tangan Putri.
Putri membelai pipi Kevin, yang sudah mulai tumbuh rambut halus. Dan ia mengangguk.
Kevin mencium kening Putri. Dan Putri menyenderkan kepalanya di pundak Kevin.
Kevin menggenggam tangan Putri.
__ADS_1
Sampai di bandara Soekarno Hatta, beberapa pengawal pribadi Harry sudah siap menyambut mereka. Sehingga tidak perlu lama mereka menunggu.
Putri langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter Fajar sudah bersiap menunggu kedatangan keluarga O'Leary.
Ketika mobil berhenti tepat di depan pintu masuk rumah sakit, perawat yang bertugas malam itu dengan sigap mendorong kursi untuk Putri.
Putri langsung diperiksa, dan diminta istirahat dulu sambil pemeriksaan selanjutnya.
"Tidak akan lama, paling lama, besok sore sudah boleh kembali ke rumah, asalkan rahim Putri sudah bersih." jelas dokter Fajar.
"Hentikan muka melasmu itu, aku tidak suka" lanjutnya kepada Kevin.
Kevin hanya mengangguk.Ia tidak banyak bicara, hanya melihat Putri yang memang masih pucat.
"Tidak, sayang. Aku akan meminta mami membereskan pakaian untukku. Aku tidak akan meninggalkanmu." Kevin menyentuh kepala Putri.
"Ya, put. Biar Kevin di sini. Nanti mami yang akan membawakan keperluannya untuk besok kerja." ucap mami Rani
"Come on, honey. kita pulang, aku sudah merasa aman kalau Putri sudah ditangani di sini." Harry mengajak Rani pulang.
__ADS_1
Di ruang perawatan itu, tinggal Kevin dan Putri. Kevin menceritakan semua perjalanan sampai terjadinya kejadian yang tidak menyenangkan itu.
"Aku minta maaf, sayang. Ini semua karena aku belum sempat bercerita padamu, dan ternyata perempuan itu duluan mengirim foto itu." ucap Kevin dengan raut kesedihan mendalam.
Putri menyentuh pipi Kevin dengan lembut.
"Aku yang terlalu bodoh, dan terlalu percaya dengan foto itu, seandainya aku bertanya padaku lebih dulu, anak kita masih ada di perutku. Aku yang bersalah" Putri meneteskan air mata, ia mengingat getaran kecil yang sudah ia rasakan, dan belum sempat ia ceritakan pada Kevin rasanya mendapat getaran itu.
"Sudahlah, semoga kita masih diberi kepercayaan kembali untuk bisa menjadi orang tua lagi." ucap Kevin menenangkan Putri. Ia mengucapkan selamat istirahat dengan kecupan lembut di bibir Putri.
*Pagi itu, mami sudah mengantarkan pakaian dan keperluan Kevin lewat Ajin. Dengan setia, Ajin memeriksa barang, agar tidak ada yg tertinggal.
Sampai di kantor, Ajin melaporkan kegiatan kantor waktu Kevin masih di Jogja.
"Oh ya, bagaiamana Bernika itu?"
tanya Kevin.
"sudah diamankan, dan masih dicari siapa saja antek-anteknya. Kau tenang saja. Tidak usah terlalu dipikirkan. Fokus saja pada Putri." ucap Ajin memegang pundak sahabatnya itu.
__ADS_1
**Updatenya kemaleman ya guys..
Tapi, semoga tetap setia dengan cerita ini ya.