
Makanan di sajikan di meja mereka. Putri sengaja tidak masuk ke ruang VIP, ia duduk di tengah keramaian orang-orang biasa. Hiruk pikuk pengunjung mall terasa di sana.
"Mbak, saya pesan 2 porsi dimsum untuk di bawa pulang, ya" ucap Putri.
Mereka menyantap makanan itu, Vena menyiapkan kecap dan sambal untuk Ajin.
Perhatian Vena itu, makin membuat jantung Ajin berdegup kencang.
Putri dan Vena makan sambil berbicara tentang mereka. Ajin hanya tersipu mendengar pembicaraan antara 2 perempuan itu. Sesekali, Vena melirik ke arah Ajin.
Ia mencoba mengajak Ajin berbicara, tapi Ajin hanya senyum.
"Kau pulanglah, biar kami jalan kaki, itu ruko kami sudah terlihat. Aku titip ini untuk Kevin. Dia pasti suka." pinta Putri ke Ajin.
"Tapi," ucap Ajin
"Tidak usah tapi-tapi, kau pulanglah" ucap Putri lagi.
Ajin menyetujui permintaan Putri.
Putri dan Vena jalan menuju ruko tempat mereka mencari nafkah.
Tapi tanpa mereka sadari, ada mobil yang mengikuti mereka dari belakang.
"Ikuti terus mereka." pinta Kevin.
Sampai di depan ruko, dan memastikan bahwa kedua perempuan itu selamat sampai tujuan, barulah Ajin memutar balik ke arah kantor kembali, dengan perasaan yang masih tersimpan rapi.
Seperti biasa, siswa datang dan mengolah vocal mereka. Putri senang bisa berkumpul bersama mereka lagi. Tapi, ketika jam pulang, Putri sengaja menunggu di dalam kelas,
"kalau Kevin jemput, kabari aku ya, aku akan keluar, kalau dia sudah datang" ucap Putri kepada Vena.
Vena sudah tau apa maksud Putri.
Ia pun mengantarkan siswa sampai ke depan pintu ruko.
"Hai, Ven. Dimana Putri?" tanya Kevin begitu masuk ke dalam ruko.
"Ia masih di dalam kelas. Kau lihat saja sendiri" ucap Vena seraya tersenyum dengan penjemput siswanya.
Kevin masuk ke dalam ruangan kelas.
Ia melihat Putri yang berlatih sendiri, sambil memainkan alat musik piano.
Kevin hanya mendengarkan suara merdu istrinya, sambil bersedekap tangan. Putri masih belum menyadarinya. Sampai habis lagu itu, ia mendengar seseorang bertepuk tangan.
__ADS_1
"Viin.. sejak kapan kau di sana?" tanya Putri menghampiri Kevin.
Kevin datang memeluk Putri dan mencium kening Putri.
"Tidak penting kapan aku di sini, yang penting, aku melihat kau bahagia" ucapnya.
"Kau mau pulang?" tanya Kevin.
Putri mengangguk. Kevin mencium bibir mungil itu dengan penuh cinta.
Dan mereka tidak menyadari kalau Vena datang, dan melihat kelakuan mereka.
"UPS" Vena berjalan pelan-pelan menjauhi mereka.
Ia tidak tau, Ajin berada di belakangnya, dan ia pun menabrak Ajin, karena ia menutup matanya.
"aw" Ajin mendekap tubuh Vena yang hampir jatuh karena menabraknya.
"Oh, maaf. Aku tidak tau"
ucap Vena yang masih memegang tangan Ajin.
Adegan romantis itu terlihat oleh Kevin dan Putri.
"ehem" dehaman itu mengagetkan Vena dan Ajin.
Sadar akan ucapan Kevin, mereka melepaskan tangan dan pelukan satu sama lain.
"Kalau mau seperti kami" Kevin memeluk Putri dengan mesranya
"Kalian harus segera ke KUA" kemudian ia tertawa.
Ajin dengan muka datarnya, seolah tidak mau mendengar ucapan bosnya itu.
Ia mengambil majalah yang ada di meja tamu.
"Tidak sampai membaca dengan terbalik seperti itu, Jin. Kau tampak sangat grogi. Aku sudah lama tidak melihat kau seperti ini" Kevin tertawa lebar.
Putri memukul dada Kevin,
"Viin.. kasian, digodain terus" ucap Putri.
Kevin mencium tangan Putri dengan pandangan penuh cinta.
Ajin dan Vena yang lagi-lagi melihat ke uwuan mereka, jadi salah tingkah.
__ADS_1
"Sudah, ayo kita pulang. Aku akan memenuhi janji. Kita beli bajumu dulu ya." ucap Kevin.
"Ayolah Ven, ikut aku" ucap Putri.
Vena mengangguk, menyetujui usulan Putri.
"Apakah sudah rapi semua? Jangan lupa konci benar-benar. Ajin, kau periksa lagi, apakah tidak ada pintu yang terbuka lagi!" perintah Kevin.
Setelah memastikan semua rapi, mereka pergi menuju mall yang tidak jauh dari sana.
Putri dan Vena melihat-lihat baju yang indah-indah di sana.
"Sayang, kau coba ini." Kevin mengambil baju hamil dengan bahan jeans.
"Ya nanti, aku mau couple dengan Vena, boleh ya" ucap Putri meminta izin.
Sementara Ajin ikut melihat baju perempuan itu. Ia melihat dress, tapi kenapa semua akan terlihat pendek, karena Vena memiliki tinggi badan 168 cm, ia seperti mengukur badan Vena. Ia menyukai warna baju yang dipegangnya, sambil melirik ke arah Vena.
"hai.. akan kau berikan ke siapa baju ini?" tanya Kevin, dengan penuh keingin tahuan tingkat dewa.
"Kau kan tidak punya saudara perempuan" lanjut Kevin.
"Oh. ehm" Ajin meletakkan kembali baju itu.
"Tidak, aku suka saja dengan warnanya."
"Suka bajunya atau orang yang akan memakainya?" tanya Kevin lagi
"Ah, sudahlah" Ajin pura-pura tidak mendengar apa yang Kevin ucapkan.
"Vin.. coba lihat ini." Kevin dan Ajin melihat ke arah Putri dan Vena yang memakai baju yang sama warna dan modelnya pun sama.
"Noooo" suara itu terdengar bersamaan antara Ajin dan Kevin. sehingga banyak mata yang melirik ke arah mereka.
Kevin melirik Ajin.
"Hei, Putri tidak meminta tanggapan mu, kenapa kau ikut menjawab"
Sebenarnya, Ajin menjawab untuk Vena. Tapi Kevin salah sangka. Ia pun menyadari.
"istrimu kan sedang hamil, kalau pakai dress itu, akan terlalu memikat mata laki-laki lain" dalih Ajin.
Ajin melirik Vena, dan menggelengkan kepalanya, seolah ingin berkata, "aku tidak suka"
***😂😂😂 ada-ada saja kelakuan Ajin.
__ADS_1
aahh.. makin sayang dengan Ajin. Kalian sayang juga? Kalau sayang, jangan lupa vote, dan bintang 5 ya.. terima kasih kesayangan 😍**