Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Jogjakarta


__ADS_3

2 hari berlalu, tapi Bernika tidak dapat menjumpai Kevin ataupun maminya.


Penjagaan di rumah Kevin pun diperketat. Tidak sembarang bisa masuk ke kediaman itu. Rasa kesal Bernika sudah sampai di ubun-ubun. Ia menyebarkan fotonya kepada Rani.


"Tante, aku harus bagaimana? Aku sudah dapat garis dua ini?" tanya Bernika yang berpura-pura sedih dengan membagi gambar tes kehamilan.


Rani terkejut, dan membicarakan hal itu kepada Harry dan kedua anaknya.


Mereka tertawa. Hasil itu dari siapa? Yang memperkosa siapa? Baru saja sampai di Jogjakarta, mereka harus tertawa.


"Itu anak siapa? Kapan kau menikah?" Andre menjawab pesan itu dari ponsel Rani.


Bernika membagikan foto kemesraan palsu dirinya dan Kevin.


Bukannya iba, mereka makin tertawa.


Ponsel Rani berdering. Rupanya Bernika tidak sabar.


"Tante, bagaimana? Aku harus berbuat apa?"


"Apa kau sudah yakin akan menikah? Gaya hidupmu saja tidak seperti orang yang siap untuk mendapatkan keturunan" jawaban Rani membuat Harry dan kedua putranya merasa bingung.


"Aku siap Tante, lagian ini anaknya Kevin. Aku akan menjaga anak ini untuk Kevin"


"Kau yakin itu anak Kevin?" tanya Rani ketus.


"Tante. Bukankah Tante selalu mendukungku?" tanya Bernika.


"Ya, tentu sayang. Aku mendukungmu kalau kau memang berbuat baik terhadapku dan putraku. Tapi jangan kau buat aku kecewa lagi. Aku tidak ingin menimang cucu dulu. Gugurkan kandunganmu!" Rani mulai geregetan dengan perempuan murahan itu.


"Tante! Maksud Tante?"

__ADS_1


"Aku mau menikahkan anakku dengan perempuan yang masih suci. Apa kata orang-orang kalau perempuan pilihanku adalah perempuan yang sedang hamil. Gugurkan kandunganmu"


Bernika tampak shock.


Ia tidak tau harus berbuat apa.


Kartunya sudah mati.


Roni yang berada di sampingnya, menenangkan Bernika.


"Kau kejam, Tante. Lihat saja pembalasanku" ucapnya sambil menutup ponselnya.


"Wow.. mami keren." Andre bertepuk tangan.


"Pantas saja aku menjadi artis, ternyata, bakatku turun dari mami" Andre tertawa terbahak-bahak.


Rani tertunduk.


"Maafkan mami. Mami malu, mami salah terhadap kalian." ucapnya sambil menangis.


Harry memeluknya.


Kevin dan Andre ikut memeluk Rani.


Sampai di hotel, mereka mandi dan segera menemui Putri.


Di rumah Putri ternyata sudah ramai saudara-saudara dari pihak Putri.


Mereka mengadakan pesta kecil menyambut besan mereka.


Rani dengan perut yang membuncit dengan senyum yang lebar menyambut kedatangan suami yang sangat ia rindukan.

__ADS_1


Kevin memeluknya dan mencium kening Putri.


"Kau lelah?" tanya Putri.


Kevin menggeleng, dan ia mencium perut Putri.


"Lelahku hilang, setelah melihat kalian. Anak pap sehat?" tanya Kevin, membelai perut Putri.


Putri dan keluarganya mempersilahkan keluarga O'Leary masuk ke dalam rumah yang sederhana itu.


Di sana disuguhkan makanan khas Jogjakarta, yang membuat Rani rindu sahabatnya.


"Seandainya ada Ayudia," ia menghela nafas panjang.


Rani sangat suka dengan suasana di sana.


"Maafkan saya atas tindakan saya yang lalu ya Bu" ucap Rani kepada ibunya Putri.


"Ndak papa, Bu. Saya memaklumi. Namanya kami dari keluarga seperti ini, dan keluarga ibu dari keluarga sugih."


Rani memeluk ibunya Putri.


Pemandangan itu membuat Harry bangga terhadap istrinya.


Ia mendapatkan pelajaran hidup berharga dari kejadian ini.


Mereka diajak keliling melihat halaman rumah .


"Baiklah, karena sudah malam juga, kami kembali ke hotel untuk beristirahat." ucap Harry.


"Ndak bermalam di sini saja, pak?" tanya ayahnya Putri.

__ADS_1


"Terima kasih, pak. Tapi kami mohon izin, membawa Putri bersama kami. Kasian Kevin yang terlalu merindukan Putri." ucap Rani sambil tertawa kecil.


__ADS_2