
"Ini kenapa bisa dompet ketinggalan sih?" oceh Putri dalam hati.
Ia mengingat, kalau memang tadi pagi, Kevin buru-buru berangkat kerja.
Berkali ia mencoba menghubungi Kevin, tapi, tak kunjung diangkat.
"Selamat pagi pak sekretaris, maaf. Apakah Kevin sudah sampai di kantor?" tanya Kevin kepada Putri.
"Sudah non, maaf non, saya tidak bisa lama-lama berbicara, kami masih meeting. Nanti saya sampaikan kalau nona mencari bos"
Huft, lega sekali rasanya, mendengar Kevin sudah sampai di kantor dengan selamat.
Siang itu, ia kembali ke ruko, rasanya ia sudah rindu dengan suara siswanya yang merdu-merdu itu.
"Put, kenapa kemari?" tanya Vena.
"Kau kan harus istirahat" lanjutnya.
"Aku bosan sendirian di rumah, lagian, aku kan rindu tempat ini" ucap Putri memeluk sahabatnya itu.
"Put, kita punya siswa baru, dia keponakan James. Kau masih ingat?" tanya Vena.
"Oh ya, James. Syukurlah kalau begitu." mata Putri kembali terang mendengar ada siswa baru dan ia kenal keluarganya. Memang keluarga itu dari kalangan penyanyi.
"Kemarin ia sempat menanyakan keadaanmu, aku bilang kau sedang hamil muda" jelas Vena.
Tak berapa lama, siswa BV sudah mulai memasuki ruangan dan latihan bersama.
"Ini put, yang aku bilang. Keponakan James" ucap Vena pelan.
__ADS_1
"yayaya" Putri mengangguk pelan.
Mereka mengeluarkan suara merdu, dan tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.
"Sampai bertemu kembali" Vena dan Putri memberi salam perpisahan.
"Hai kalian, Put.. apa kabar?" suara ramah itu berasal dari suara laki-laki yang hampir ia lupa. Ia menoleh ke arah suara itu,
"Hai, James.. Long time no see, ya.. Aku baik. Kamu apa kabar?"
"Aku baik-baik saja, hanya kadang merindukan kamu" suara itu mengecil.
Vena dan Putri menoleh ke arah James bersamaan.
"Maksudku, aku merindukan kalian, dan bermain bersama kalian, mendengarkan musik sama-sama lagi" James mengalihkan pembicaraan.
"Sorry, uncle telat jemput, karena ada pekerjaan. Uncle janji tidak akan terlambat jemput lagi. Lagian di sini ada Miss Vena dan Mam Putri, mereka teman uncle. OK" ucapnya duduk di depan gadis kecil itu.
"Ok." jawabnya manis.
"Ok, aku duluan ya. Kasian gadis kecil ini, dia pasti lelah, kakakku memang terkadang kelewatan, gadis kecil ini, harus mengikuti banyak kegiatan" jelas James.
Mereka pun berpisah sambil melambaikan tangan.
Tanpa sepengetahuan mereka, sudah ada mobil yang memperhatikan gerak gerik mereka.
"Bagus sekali dia, di belakang Kevin, masih beramah tamah dengan laki-laki lain. Dasar tidak tahu malu" gerutu Rani.
"Kau sudah mendapat foto-foto itu?" tanyanya kepada pengawal pribadinya.
__ADS_1
"Sudah, nyonya." jawab pengawal pribadi Rani.
"Ayo kita jalan!" perintah Rani.
Putri dan Vena merapikan sisa latihan tadi.
"Selamat malam, apakah disini ada istri tercintaku?" suara Kevin sangat jelas di telinga mereka.
"Deuh.. mesra sekali.. Aku jadi iri." ucap Vena kepada Putri.
"Hai, sayang. Kau sudah pulang?" tanya Putri.
"Ya, maaf ya, hari ini aku sangat sibuk sekali. Apa anak pap tidak rewel?" Kevin membelai perut Putri yang masih datar.
Putri menggelengkan kepalanya.
"Malah aku tidak merasa mual, aku happy di sini. Apa aku boleh datang setiap hari, ke sini, sayang?" tanya Putri.
"Apa kau tidak capek? Serahkan saja kepada Vena. Lagian kan ada Putra, yang akan membantu Vena" Kevin takut kalau terjadi sesuatu pada Putri.
"Tidak sayang, aku tidak capek. Aku senang kok. Ya kan Ven" Putri menarik lengan sahabatnya itu.
"Baiklah, asal kau tidak aneh-aneh. Aku akan memberi izin" ucapnya menarik tangan Putri dan memeluknya.
"Oke, mari pulang, aku sudah capek sekali hari ini. Aku mau tidur memeluk kau dan anak yang ada di perutmu itu" ucap Kevin.
Putri mencubit tangannya.
"Dasar tidak tau malu, jangan dengarkan dia, ven" ucap Putri seraya keluar dari pintu ruko, dan akhirnya mereka berpisah.
__ADS_1