
"Bukankan itu pakaianku?"
Kevin melihat lebih dekat.
"Ia rela mencuci pakaian orang yang bukan siapa-siapa baginya? Luar biasa perempuan ini" tanpa sengaja ia menjatuhkan panci bekas merebus air.
Putri terbangun, dan ia beranjak dari tempat tidurnya.
"Bos.. Kau tidak apa-apa? Apakah yang kau lakukan?"
"Aku hanya merebus air" ucap Kevin cuek.
"Apakah kau kena air panas? Mana yang panas?" Putri memegang tangan, badan dan kaki Kevin
"Aku tidak apa-apa." Kevin berlalu dari dapur itu.
"Kenapa tidak memintaku membuatkan sesuatu untukmu. Maafkan aku bos" ucap Putri pelan.
"Kau saja tidur seperti anak bayi. Malah memelukku. Aku kan risih"
__ADS_1
mata Putri terbelalak lebar.
"Apa?" Ia benar-benar tidak menyadari kejadian itu.
"Maafkan aku, bos.. Aku tidak menyadarinya" ucap Putri.
"Duduk di sini" Kevin menepuk sofa yang sedang di dudukinya.
"Terima kasih, kau sudah dengan sabar merawat aku,"
"Tidak, bos. Aku yang bersalah, tidak tau kalau bos punya pantangan"
"Put.. Bisakah kau tidak memanggil aku, dengan kata BOS lagi?"
"Panggil aku Kevin, atau apa yang membuatmu nyaman. Umur kita hanya beda 6 bulan saja. Jadi panggil aku Kevin saja" ucap Kevin "Sebentar lagi juga, aku bukan bos buatmu. Ruko ini akan menjadi milikmu. Tapi seandainya aku main ke ruko ini, apakah aku diperbolehkan masuk?" nada suara Kevin pelan, ia sebenarnya tidak sanggup untuk mengatakannya. Tapi, ia harus bersiap berpisah dengan Putri. Ia takut untuk mengatakan kalau ia sudah menaruh hati untuk Putri.
"Bos" Kevin mendelik
"Maaf, maksudku, Kevin.. Maafkan aku. Tapi bisa tidak kita tidak membicarakan perpisahan itu. Terlalu menyakitkan. Kita masih bisa bertemu kan. Tapi seandainya pun kau sibuk, tidak bisa mengunjungiku, aku akan melihat foto kita saat kita makan bersama yang terakhir itu, itu tempat paling romantis untukku, seorang perempuan miskin"
__ADS_1
Putri tertunduk dan menangis pelan
"Bila aku bisa memilih, aku tidak ingin semua ini. Lebih baik aku tidak dipertemukan denganmu. Agar aku tidak merasakan sakitnya perpisahan itu." Putri mengusap air mata.
"Kau seorang diri, merasa sakit sendirian. Aku tidak menyalahkanmu atas sikapmu. Walau aku baru mengenalmu, aku tau, kau begini karena keadaan mengharuskanmu begini. Jadilah Kevin yang baik hati, jadilah Kevin yang selalu tersenyum" Putri menatap Kevin.
Kevin mengangguk. Seperti sebuah dongeng yang memisahkan 2 orang yang sedang merasakan getaran cinta.
"Put, bisakah kita tidak berpisah? Aku ingin menghabiskan waktuku denganmu."
"Apa maksudmu?" tanya Putri.
"Aku menyukaimu. Aku mulai merasakan itu saat aku pertama kali melihatmu, mengobatiku di malam penculikan itu"
"Tidak, Kevin.. Tak mungkin. Status kita sangat berbeda jauh. Aku dari keluarga petani, dan keluargamu. Ahh.. sudahlah, buang saja pikiran tidak benar itu"
Putri bangun dari tempatnya duduk.
Kevin menariknya kembali.
__ADS_1
"Kita akan jalani bersama. Aku akan mengatakan pada mami, kalau aku sudah memiliki seorang pacar. Dan mami tidak akan menjodoh-jodohkan lagi aku dengan siapa saja."
"Sudahlah Kevin, tidak usah memikirkan hal itu. Tenang saja, aku akan menjadi temanmu. Kau boleh menceritakan kesusahanmu kepadaku. Kau juga bisa mengajakku sebagai pacarmu ketika kau sulit untuk kabur dari kencan buta yang disusun mami. Kau masih bisa melakukan itu" Putri ingin berteriak, tapi ia memikirkan kebaikan Kevin