
"Kalau dilihat-lihat, mereka cocok ya sayang" Kevin berbicara sambil menutup pintu.
"Bagaimana kalau kita jodohkan mereka. Apakah Vena sudah punya pacar?" tanya Kevin lagi, menghampiri Putri yang tidur di tempatnya.
"Aku rasa, Vena tidak memiliki pacar, tapi aku kurang paham juga, dia agak tertutup untuk masalah pribadinya." jelas Putri.
Kevin mengupas pear untuk Putri, dan menuapi Putri.
Sementara Putri dan Kevin masih di rumah sakit, Harry dan Rani mampir ke rumah Kevin, mereka memeriksa apa saja yang kurang di rumah itu.
Harry dengan sigap meminta asistennya mencatat apa saja yang kurang, sedangkan Rani masuk ke dalam kamar Kevin dan Putri.
Ia sibuk mengeluarkan berkas-berkas yang ada di lemari Kevin.
Ia membaca tiap lembarnya, ada 1 berkas yang membuat ia penasaran.
"Honey, what are you doing? Ayo, bantu aku memilih perabotan untuk rumah ini" ajak Harry.
Rani cepat-cepat memasukkan berkas itu ke dalam tasnya. Ia merapikan berkas lainnya dan ia mengembalikannya ke dalam rak buku milik Kevin.
"Saya mau semua selesai hari ini. Semua harus diganti. Saya mau, menantu saya nyaman di rumah" ucap Harry, dan semua mulai membenahi rumah.
"Kenapa kau repot sekali, perhatian sekali sama perempuan itu" Rani berbicara menunjukkan bahwa ia tidak suka dengan Putri.
__ADS_1
"Kenapa denganmu. Ingat, dia istri dari anakmu, di perutnya mengandung calon cucu kita. Apa kau tidak bahagia?" Kevin menarik tangan Rani, sehingga Rani meringis menahan rasa sakit.
"Sudahlah, terserah kau saja. Mbak.. buatkan aku jus ya" perintah Rani.
"Maaf nyonya, nona muda belum belanja. Sekarang hanya ada air putih saja" si mbak mengambilkan sebotol air dan gelas, kemudian meletakkannya di depan Rani.
"Silahkan, nyonya" ucapnya menunduk dan kembali ke dapur.
"Kenapa sifat nyonya jadi seperti itu. Menyebalkan" gerutu si mbak.
Rani mengambil air dingin dan meminumnya.
"Rumah apa ini, tidak ada apa-apa." Rani meletakkan kembali gelas itu.
Rani segera memanggil si mbak dan pergi sesuai perintah suaminya itu.
Harry menyulap rumah itu, dengan memanggil design interior rumah. Dan saat Rani pulang belanja, rumah itu sudah rapi kembali.
"Wow.. " ucapan itu keluar dari mulut si mbak.
"Kau seperti orang kampung yang baru melihat barang-barang ini" ucap Rani ketus.
"Sudah, kau susun semua di dapur. Aku lelah, kalau bukan untuk Kevin, aku tidak akan pergi belanja" Rani masuk ke dalam kamar tamu, dan beristirahat di sana.
__ADS_1
"Honey, besok kita jadi pulang, kan?" tanya Rani.
"Ya, tapi aku mau melihat dulu rumah ini, apakah sudah siap untuk menerima Kevin dan Putri" Harry menyusun mainan di kamar yang dipersiapkannya untuk calon cucunya.
"Apa-apaan ini, honey. Tidak benar. Sebelum 4 bulan, kita tidak perlu repot-repot membenahi kamar untuk bayi. Pamali" ucap Rani.
"What ever, i don't care. Aku sangat suka dengan pernak-pernik ini. Bilang saja kau kau tidak suka dengan menantuku." Harry menatap kamar itu.
"Besok-besok belum tentu aku akan cepat kembali, dan mereka belum tentu kepikiran tentang ini. Kau lihat ini, cucuku akan bermain di sini" ucapnya sambil duduk berpangku tangan.
"Pergilah kau kalau tidak suka, aku masih ingin melihat-lihat sekeliling" Harry keluar dari kamar itu dan berjalan melihat keadaan rumah yang sedang di renovasi.
"Putri akan senang, dengan semua ini" batinnya berkata.
*Di rumah sakit, Putri menyantap gorengan yang dibeli Putra tadi.
"Put, sekali-kali, kau jaga kakakmu. Ya kalau kau tidak sibuk. Kasian kakakmu kalau hanya sendiri di rumah." Kevin terhenti bicara, karena dokter sudah datang.
"Semua baik, nyonya jangan terlalu stress ya, kasian janinnya. Baiklah, istirahat dulu malam ini, besok baru boleh pulang ya" saran dokter, dan mereka sangat senang mendengarnya.
**apakah Putri akan merasa tertekan lagi?
Aahhh.. Author juga jadi greget.
__ADS_1
Buat mood author jadi bagus ya guys.. Ditunggu kiriman vote cintanya ya..🥰