
"Honey, udah dimana?" tanya Harry kepada Rani.
"Oh, ok.. aku tunggu di rumah sakit" ucapnya lagi di ponselnya.
Pintu kamar diketuk, Ajin, Putra dan Vena kebetulan datang bareng, Ajin membawakan keperluan Kevin.
"Thanks, jin. " ucap Kevin
Ajin memberikan jempolnya. Dan kembali duduk di sofa tamu.
Mereka berbincang santai, dan saat Rani datang, mereka langsung terdiam.
Hanya Harry yang tersenyum melihat kedatangan istrinya.
"Lama sekali, kemana saja tadi? Itu, menantumu sudah menunggumu. Kasih pelajaran anak kesayanganmu itu, tidak becus mengurus istrinya." Harry menunjuk ke arah Kevin.
"Kenapa mesti dia yang disalahkan, seharusnya, tanya kepada menantu kesayanganmu itu, apa yang terjadi, kenapa anakku yang disalahkan" ucap Putri datang ke arah Kevin.
Kevin bingung, semua bingung. Apa maksud Rani berbicara seperti itu.
"Kalau menantumu tidak berbuat salah, mana mungkin Kevin kesal"
Kevin dan semuanya makin bingung.
Terlebih Kevin.
"Mami tau semua hal. Something wrong. Ada apa ini?" batin Kevin bertanya-tanya.
Kevin melirik ke arah Ajin.
Ajin paham maksud bosnya itu. Dan mengangguk.
"Ayo, honey, kita harus bersiap-siap, besok kita harus kembali ke London. Tugasmu di sana lebih penting dari pada di sini, biarkan semua Kevin yang urus kalau di sini. Ingat Kevin. Urusanmu banyak, bukan hanya menjaga istrimu itu" ucapnya ketus.
Putri menggenggam tangan Vena. Mertua Perempuannya itu belum juga bisa ramah kepadanya.
__ADS_1
"Ingat Kevin, perusahaan harus tetap berjalan" Rani mengambil tasnya dan memeluk putra kesayangannya itu.
Harry yang tampak kesal, hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan istrinya itu. Ia menuju Putri yang duduk di atas kasurnya itu.
"Jangan dengarkan mamimu. Mungkin ia lelah, jadi omongannya ngawur" ucap Harry menenangkan hati Putri.
"Ini cek untukmu, kau belilah keperluanmu. Aku tau, masa hamil ini, perempuan sering menginginkan sesuatu" lanjutnya memberikan cek dengan jumlah yang tidak sedikit.
"50 juta? Pap, ini berlebihan. Putri tidak bisa menerimanya" ucap Putri.
"Simpan saja, sweetie. Papi akan selalu mengawasimu, dan menjagamu dari kejauhan. Jaga baik-baik calon cucu papi ya. Kabari papi kalau terjadi sesuatu" ucapnya mencium kening menantunya itu.
"Honey, come on." suara Rani memanggil Harry yang masih berbicara kepada Putri.
Harry melambaikan tangannya kepada Putri.
Yang tinggal di sana, Kevin, Ajin, Putra, dan Vena.
Mereka menyantap makanan yang Kevin pesan untuk mereka.
"Kak.. apa yang kau pikirkan" ucap Putra melihat Putri terdiam di atas kasurnya.
"oh.. ehm.. tidak, dek. Kakak hanya melihat awan itu. Kakak rindu kampung halaman saja." ucapnya berbohong. Tapi Putra tau, kakaknya sedang tidak baik hatinya.
Kevin mendekati Putri.
"Kita akan mengunjungi ibu dan ayah, tapi kau harus sehat dulu, ok" Kevin memeluk Putri.
Putri menangis di pelukan Kevin.
"Terima kasih" ucap Putri.
"Tidak, kau tidak perlu berterima kasih kepadaku" Kevin mengelus punggung Putri.
Ia mendengar perut Putri berbunyi.
__ADS_1
"Vin, aku lapar" ucap Putri memegang perutnya.
"Apa yang kau inginkan?"
"Entahlah, tapi aku ingin sekali gorengan yang ada di dekat ruko." pinta Putri.
"Aku akan pergi membelinya, kak" ucap Putra menghampiri Putri.
"Ini uangnya, Put" ucap Kevin memberikan 2 lembar uang berwarna merah.
"Kebanyakan, bang. Aku masih ada uang kok. Tenang saja. Aku pergi dulu ya." ucapnya sembari mengambil jaketnya.
"Ven" panggil Putri kepada sahabatnya itu.
Vena mendekat, dan duduk di sebelahnya.
"Aku titip BV kembali ya." ucap Putri.
"Sebaiknya, kau tidak usah mengurusi Bv lagi, Put, nanti kita cari guru lain saja. Kau harus fokus ke calon anakmu itu." sarannya.
"Ya, sayang. Biarkan Vena yang urus BV. Kalau ada sesuatu di BV, kau kabari kami, begitu kan" Kevin memberi saran.
Vena mengangguk tanda setuju.
Ia melihat jam di tangannya.
"Aku harus segera ke ruko. Karena bentar lagi, anak-anak pasti sudah datang. Aku pamit ya" ucap Vena sambil mengambil tasnya.
"Naik apa kau kesana?" tanya Kevin.
"Aku sudah terbiasa naik bus, tenang. Aku tau jalan kok." Vena melambaikan tangannya.
"Ajin, apa kau tidak merasa iba, ada perempuan pergi sendiri. Pergilah, antarkan ia ke ruko, dan sekalian tugas baru yang tadi" Kevin memainkan matanya.
Ajin merasa kikuk, dan Kevin mendorong tubuh Ajin keluar kamar perawatan itu, sambil terkekeh.
__ADS_1