Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Aku rindu


__ADS_3

Putri menepuk tangan Kevin dan senyum Putri yang sangat cantik itu menenangkan Kevin.


"Tidak Put, kali ini aku serius."


"Maksudmu?"


"Aku ingin kau mendampingi hidupku."


Putri yang sedang meneguk air putih, menjadi tersedak.


"Put.." Kevin menepuk punggung Putri.


"Bukan hal untuk di bikin guyonan. Ah, sudahlah."


Putri menganggap itu semua hanya candaan Kevin.


"Tidak.. ini tidak mungkin. Gak usah ke ge er an deh Putri Anindita.. Itu hanya angin lalu saja" Putri mengelengkan kepalanya.


"Putri. Aku serius. Aku tidak main-main. Kalau kau menganggap semua bercanda. Ya sudah. Oh ya..aku sudah menyuruh Ajin datang menjemputku. Terima kasih untuk semua. Aku tidak akan mengganggumu." Kevin yang nampak kecewa, turun dari lantai 2 itu, dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


Kecewa. Cuma kata itu yang ia tangkap.

__ADS_1


"Aaahhh.. memalukan. Aku di tolak." Kevin memukul-mukul jok mobilnya.


"Bos, kita ke rumah sakit ya. Semalam dokter Harun hanya memberikan obat seadanya." ajak Ajin.


"Terserah kau saja" ucapnya ketus.


Sepanjang jalan, Kevin hanya diam tak bicara.


"Ada apa denganmu, wahai pemarah?" goda dokter Fajar.


"Kemana saja kau? Kenapa kau kirim dokter Harun?" tanya Kevin sinis.


"Apa kau sudah tidak mau merawatku lagi, apakah sudah tidak ada yang mau mencintaiku lagi karena sifatku?"


"Aku ingin istirahat di sini saja, percuma kalau aku sakit di rumah. Siapkan kamar biasa untukku." pinta Kevin.


"Baiklah, kau memang seharusnya beristirahat. Hubungi pacarmu, biar dia leluasa mengurusmu, tak satu perawatpun yang betah kalau kau sedang sakit" gelak tawa dokter Fajar tiba-tiba terdengar garing di telinga Kevin. Padahal, biasanya tidak pernah ada masalah bila mereka saling berbicara ketus.


Kevin dengan santai, jalan menuju kamarnya.


Rumah sakit ini milik kakeknya. Dan keluarga Kevin mempunyai prioritas di sini.

__ADS_1


"Jangan kasih tau siapa-siapa, aku ada di sini. Tidak siapa-siapa, paham?" Kevin mengancam dengan matanya.


Di dalam lubuk hatinya, tersimpan duka. Ia kecewa dengan jawaban Putri.


Putri, baru berapa jam, ia sudah rindu perhatian perempuan itu. Mata Kevin memancarkan kesedihan.


"Aku akan beristirahat di sini dulu, kau boleh pulang, aku akan menghubungimu, bila aku memerlukan sesuatu. Kosongkan jadwal untuk 7 hari ke depan. Aku tidak akan fokus bekerja. Pergilah. oh, satu lagi, bawakan aku keperluan secukupnya. Aku akan berisitirahat" Kevin menutup matanya. Ia tidak mau bisa menerima kenyataan, bahwa ia telah di tolak oleh Putri.


"Apa yang terjadi diantara mereka?" tanya Ajin.


*Hari Senin, Selasa, sampai Jumat, Kevin tidak mengabari Putri sama sekali.


"Kemana bosmu? Tumben ia tidak mengganggumu."


"Entahlah, mungkin ia terlalu sibuk. Aku tidak tau dimana ia berada. Pulanglah. Aku akan istirahat." Putri membuka pintu ruko, dan melambaikan tangannya kepada Vena sahabatnya itu.


Badannya dihempaskan ke atas sofa yang ada di depan TV. Ia melihat fotonya bersama Kevin. Dalam lubuk hatinya, ia merindukan suara itu. Sangat merindukannya.


"Kemanakah kamu? Apakah kau marah dengan pernyataan yang aku ucapkan itu?"


"Maaf" kata itu membuat Putri menitikkan air matanya.

__ADS_1


Ia melihat baju yang sudah di cucinya. Tersusun rapi di lemari miliknya. Ia mencium baju itu. "Aku rindu. Maafkan aku. Aku tidak pantas berada di sisimu, tapi aku mencintaimu"


__ADS_2