
Hary O'Leary tersenyum melihat ketulusan Putri.
"Sebaiknya, kau tinggal bersama papi. Mukamu sangat pucat, Nanti papi panggil dokter pribadi, papi"
Putri menggelengkan kepala,
"Tidak, Pi.. Putri takut nanti mami marah. Nanti mami sakit, kalau marah. Biarlah Putri di sini, sambil menunggu Kevin pulang" ucap Putri.
"Tapi, bukankah seharusnya seorang menantu, pulang ke rumah mertuanya. Bukan tinggal di hotel. Si brengsek ini juga, menikah diam-diam, tanpa mengabari orang tua, apa kau hidup sendiri?"
"Maafkan kami, Pi.. Bukan maksud Kevin seperti itu, Putri yang salah, tidak mengajak Kevin segera mengunjungi papi. Maafkan Putri, Pi" ucap Putri memohon.
"Baiklah, karena kau yang memohon, aku maafkan. Tapi papi mau, kalian segera keluar dari hotel ini dan pulang ke rumah, sebelum kembali ke Indonesia. Hai brengsek, kapan selesai urusanmu. Kabari papi, kalau kalian ingin tinggal di rumah, papi akan mengadakan pesta penyambutan untuk kalian." Hary O'Leary bangun dari duduknya, dan keluar dari pintu kamar itu, diikuti Ajin.
"Aku pusing, aku ingin istirahat lagi ya" ucap Putri membuang muka, ia tidak mau Kevin melihat sedikit rona bahagia setelah ia bertema dengan papi mertuanya.
Kevin membantu Putri jalan menuju dipan kasur.
"Apa sudah nyaman?" tanyanya. Putri mengangguk.
"Apa kakimu sakit kena sabetan tongkat tadi?"
tanya Putri.
__ADS_1
Otak usil Kevin kembali,
"Iya sayang, aku rasanya tidak kuat berjalan tadi, kalau tidak karenamu, aku tidak akan bisa kabur dari amukan papi. Papi kalau memukul bisa sampai mematikan" sebenarnya cerita itu terlalu dilebih-lebihkan, tapi ia ingin melihat, sebesar apa perhatian Putri kepadanya.
"Coba aku lihat." Putri menaikkan celana pendek yang pakainya.
"Tidak merah.."
"Di sini sayang" ucap Kevin.
Putri membuka baju Kevin pelan-pelan, ia takut tangannya menyentuh luka di dada Kevin" Putri meraba dada itu, sehingga Kevin merasa deg-degan.
"Papi juga menamparku, di sini" Kevin menunjuk bibirnya.
Kevin tertawa.
"Kau membohongiku" ucapnya sambil memukul dada Kevin yang berada tepat di depan mukanya.
"Awww... sakit" Kevin merintih kesakitan dan terlentang tidur menahan sakit.
"Maaf Vin, maaf.. aku tidak sengaja" Putri memohon pada Kevin.
Ternyata lagi-lagi, Kevin mengelabuinya, dan memeluk pemilik tubuh mungil itu dan kembali melakukan aksinya beradu bibir. Putri membalas dan sangat menikmatinya. Sampai akhirnya, Kevin sudah tidak sabar, Putri melepaskan genggaman tangan itu.
__ADS_1
"Tidak, Vin.. Jangan.." Putri bangun dari tempat tidur dan mengancingi bajunya kembali.
"Maaf, put.. Aku terbawa emosi." Raut muka Kevin yang kecewa terlihat saat itu.
Putri sebenarnya tidak tega, dalam hukum negara dan agama, mereka sudah sah menjadi suami istri. Tapi ketakutan Putri yang besar, membuat Putri menolak ajakan Kevin, dan menolak keinginan Kevin.
Perut Putri berbunyi.
Mereka saling pandang.
"Kau lapar?" tanya Kevin.
Putri tersenyum lebar, tanpa menjawab sepatah katapun.
"Apa kau kuat jalan? Kalau kuat, aku akan membawamu ke sebuah tempat makan yang indah. Tapi, kalau kau tidak kuat, kita pesan makanan dari restoran hotel saja"
tanya Kevin sambil memegang perut Putri.
"Sebaiknya kita memesan makanan saja, Vin. Aku takut merepotkan mu. Bagaimana?"
"Baiklah, sebentar ya, aku akan meminta mereka mengantarkan makanan" ucap Kevin, sambil melangkah mengambil ponselnya di ruang tamu kamar hotel itu.
****Waaahhh.... Berkat si papi, Kevin dan Putri baik-baik lagi. Tapi gimana kalau Putri ketemu si mami mertua ya??
__ADS_1
Ayo semua, kasih vote yang banyak, dan komen yang bisa jadi masukan author melanjutkan cerita ini. Terima kasih para pembaca terkeren. 😍**