Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Kurang Dasar


__ADS_3

Perjalanan malam itu menempuh waktu 3 jam lamanya. Sampai akhirnya mereka sampai di villa milik keluarga Kevin. Ini untuk kedua kalinya bagi Putri, Vena, dan Putra.


"Selamat datang, den Kevin" ucap pengurus villa.


Suasana dingin sudah mulai terasa menusuk tulang. Kevin segera memeluk Putri yang sedang memainkan tangannya.


"Pakai jaket, ya." Kevin memakaikan jaket tebal milik Putri.


Jam di dinding, sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, mereka segera masuk ke kamar masing-masing, dan tertidur pulas.


Pagi itu, Vena sudah bangun terlebih dahulu,


ia melihat pemandangan yang indah itu dari kaca jendela besar.


"Selamat pagi"sapa Ajin.


Vena tersenyum, "pagi. Baru bangun?" tanya Vena ramah. Kemudian ia ke dapur dan membuat teh hangat untuk mereka.


"Minumlah." Vena menyodorkan segelas teh untuk Ajin yang sedang duduk menghadap jendela.


"Apa kau merasa masih di ikuti oleh orang yang tidak dikenal lagi?" Ajin membuka pembicaraan.


Vena mengangguk,


"aku masih menyelidiki hal ini, yang aku takutkan kalau otak semua ini, adalah orang dalam." Ajin memandang tajam kaca besar di depannya, sambil meniup cangkir berisi teh panas itu.


"Sudahlah, jangan sampai hal ini terdengar oleh Putri. Aku tidak mau dia sampai kepikiran. Itu akan mengganggu kehamilannya" ucap Vena sambil melirik ke segala arah. Ia tidak mau Putri mendengar pembicaraan itu sama sekali.


"Ehem", suara itu tidak asing di telinga Ajin.


"Morning, bos. Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak?" tanya Ajin.


"Sampai tidurnya pun ditanya. Benar-benar.. Aku saja tidak diperlakukan begitu" gumam Vena.


"Apa?" tanya Ajin yang mendengar samar-samar.


Vena tersadar, dan hanya bisa menggeleng.


"Mana Putri?" tanya Vena.


"Sedang mandi. Kan habis kotor" Kevin jalan menuju dapur.

__ADS_1


Vena dan Ajin saling pandang.


Pikiran mereka sudah membayangkan apa yang terjadi pada Putri dan Kevin di malam yang dingin, supaya tidak terasa kedinginan.


Keduanya saling menggelengkan kepala, lalu tersenyum.


"Bang, kakak mana?" tanya Putra.


"Ayo kita jalan-jalan" lanjutnya


"Kau lihat saja, apa dia sudah selesai di kamarnya. Kita cari sarapan dulu ya. Kakakmu ingin makan asinan Bogor" ucap Kevin.


"Pagi begini, bang?" tanya Putra.


"Ya begitulah kakakmu, kan sedang ada calon keponakanmu, jadi maunya yang aneh-aneh." Kevin mengaduk teh yang ia buat.


"Kau mau?" tanya Kevin kepada adik iparnya itu.


Putra mengangguk.


Baru meminum teh, Putri keluar dengan pakaian lengkap.


"Apa? sepagi ini? Kami belom siap" ucap Vena dan Ajin bersamaan.


"Cieeee.. kami..." goda Putra.


"Sebentar ya, aku tidak akan lama" ucap Vena.


Mereka masuk ke kamar masing-masing untuk segera bersiap-siap.


"Pagi adik kesayanganku. Kau udah mandi belum?" tanya Putri.


"Belum, hanya gosok gigi saja." jawabnya santai.


"Pergi mandi atau aku" mata Putri melotot ke arah Putra.


Putra pun tau kalau ia membuat kakaknya kesal.


"Sayang, kemari. Aku sudah membuatkan mu susu panas" ajak Kevin yang duduk menggantikan posisi Vena dan Ajin.


Putri duduk di pangkuan Kevin,

__ADS_1


"Badanmu masih enteng, kapan kau terlihat seperti orang hamil." ucapnya sambil mengecup pundak Putri.


"Viin.. nanti di lihat mereka" ujar Putri, sambil bergidik. Kevin tidak memperdulikan Putri. Ia hanya tersenyum, dan mengelus perut Putri.


Vena keluar dari kamarnya, berbarengan dengan Putra. Tapi ternyata Ajin belum sama sekali keluar dari sana.


"Lama sekali dia itu." gimana Vena kesal.


"Kau baru tau kan," ucap Kevin tertawa.


Hampir 30 menit setelah Vena dan putra keluar dari kamar, Ajin datang menghampiri mereka.


"Hei, kita bukan mau ke kantor. Tidak usah formil begitu" ujar Kevin.


"Maaf, aku akan mengganti pakaianku dulu."


"Aaahh.. lama, keburu istriku kelaparan. Sudahlah. Vena, kau seharusnya mengajarinya untuk tidak terlalu serius" ucap Kevin seraya keluar dari rumah itu menggandeng tangan Putri.


Vena terdiam. Ia melirik laki-laki serius itu.


Vena yang hanya memakai kemeja dan celana pendek, melirik ke arah laki-laki itu.


"Kenapa kau memakai celana pendek itu. Suka sekali memamerkan bagian tubuhmu" ucap Ajin pelan ketika mereka sudah berada di tempat yang dituju.


"Kalian mau sarapan apa?" tanya Kevin.


"Aku mau makan lotek aja deh. Putra, kau mau ikut aku atau gabung dengan kakakmu?" tanya Vena.


"Aku akan bersama kak Putri saja. Lagian di sini ada makanan lain" ucap Putra.


Vena jalan menuju tempat yang ia lihat,


"Hei, laki-laki macam apa kau, itu, Vena sendirian. Ikuti dia" perintah Kevin.


Ajin salah tingkah, dan akhirnya mengikuti Vena dari belakang. Ia bermaksud untuk menutupi pandangan orang yang melirik Vena,


"Perempuan ini, selalu memakai baju yang kurang dasar" gumamnya sambil bersedekap tangan, berjalan sampai di tempat yang ia tuju.


"Hei, sejak kapan kau ikuti aku?" tanya Vena tersadar.


Ajin hanya diam, mukanya ditekuk, ia kesal dengan pakaian yang di pakai Vena.

__ADS_1


__ADS_2