Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Jus


__ADS_3

"Biar aku yang urus, kau tenang saja. Bukankah kau ada janji dengan Putri. Mungkin sekarang ia sudah menunggu." Ajin mencoba menenangkan sahabatnya sekaligus bosnya di kantor itu.


"Baiklah, seperti biasa, aku serahkan padamu. Aku tidak mau ada gosip, perusahaan ini akan down bila ada gosip seperti ini" Kevin menyerahkan tugas itu kepada Ajin.


"Percayakan padaku" ucap Ajin dengan percaya diri.


Setelah Ajin mengantarkan Kevin ke parkiran, ia lantas kembali ke tempat semula.


"Ra, bantu aku. Cari tau tentang orang ini" ucap Ajin menunjukkan foto kepada Amira.


Amira segera membuka akses laptopnya untuk melihat foto karyawan yang ada di kantor itu.


"Apakah ada kaitannya dengan foto Putri dan James saat itu?" ia terus berpikir keras.


Menjelang sore, Amira menyerahkan berkas.


"Ini pak. Namanya Abizar, dari divisi perencanaan. 1 lantai dengan kita juga. Bapak bisa mengecek langsung" ucap Amira.


"Good job. Terima kasih bantuannya. Rahasiakan semua ini dari siapapun." ucap Ajin, dan ia jalan menuju divisi perencanaan.


Siapa yang tidak kenal Ajin, tangan kanan Pemilik perusahaan, sekaligus sekretaris pribadi. Semua orang menunduk begitu melihatnya. Ajin tetap seperti biasa. Dan matanya tertuju pada salah satu lelaki yang tertunduk salah tingkah.


"Kalian lanjutkan pekerjaan kalian. Aku hanya lewat saja." ucapnya sambil menepuk pundak lelaki yang di duga tersangka utama.

__ADS_1


Menjelang malam itu, Ajin sudah berada di parkiran, ketika semua karyawan berangsur pulang. Ia melihat Abizar mengambil motornya di parkiran, dan tanpa ia curigai, ia jalan menjauhi kantor itu.


Abizar adalah karyawan sederhana, walaupun ia mempunyai gaji yang lumayan besar, ia tetap memakai motor sebagai kendaraannya.


Ia menghentikan motornya di sebuah rumah sakit.


Ajin menunggu agak lama di sana, sampai akhirnya Abizar keluar dari sana. Ajin turun dari sana dan mencari informasi, karena rumah sakit itu kecil, jadi sangat mudah ia mendapatkan informasi. Setelah mengantongi informasi itu, ia keluar.


Tugasnya menyelidiki Abizar, dirasa selesai hari itu. Ia mengendarai mobilnya, rasa hausnya menghentikannya pada suatu tempat terbuka. Ia jalan sendiri, dan duduk di alun-alun terbuka itu. Sambil minum jus yang dipesannya, ia melihat sekelilingnya. Ia mendengar alunan musik yang indah. Ajin jalan menuju arah suara. Karena terlalu ramai, ia menjauhi tempat itu, dan mendengar dari kejauhan saja. Tiba-tiba jus yang sedang dipegangnya tumpah membasahi bajunya, seseorang menabraknya.


"Aw.. Sorry."


Suara itu tidak asing di telinga Ajin.


Ajin melihat perempuan yang menabraknya itu. Ia terkejut, yang menumpahkan jusnya itu adalah Vena.


Vena salah tingkah, ia mengambil tisue di dalam tasnya dan mencoba membersihkan sisa tumpahan jus yang membasahi baju Ajin.


"Tidak perlu." Ajin memegang tangan Vena.


Saat tersadar, mereka melepaskan tangan masing-masing. "Maaf, aku tidak sengaja, aku.. aku.." Vena seperti ketakutan. kemudian ia melihat sekelilingnya, dan bersembunyi di belakang Ajin.


"Ada apa denganmu?" tanyanya dingin.

__ADS_1


"Ayo kita pergi dari sini" Vena menarik tangan Ajin yang tidak bisa berbuat apa-apa. Jantungnya berdegup kencang ketika Vena terus menariknya dan berlari.


Setelah sampai di parkiran, mereka langsung masuk ke mobil. Vena melihat 2 orang yang mengejarnya tadi, ia bersembunyi dengan duduk di bawah jok mobil. Dan menutupi tubuhnya dengan tasnya.


Kevin yang awalnya kasian, akhirnya tertawa.


"Kau tidak akan terlihat oleh siapapun di dalam mobil ini. Tenang saja, sudah, duduklah seperti biasa."ucapnya senyum melihat tingkah laku Vena.


"Oh.. kenapa tidak bilang dari tadi," ucap Vena sambil merapikan bajunya.


"Kau mau kemana?" tanya Ajin.


"Aku mau pulang, tapi 2 laki-laki itu seperti mengikutiku sejak keluar ruko. Aku tidak sengaja melihat mereka ketika aku keluar. Tanpa rasa curiga, aku pulang seperti biasa dengan angkot, dan aku ingin mencari angin segar. Tapi, aku melihat mereka lagi. Makanya aku lari tanpa melihat apa-apa lagi. Aku takut." jelas Vena.


"Apakah kau mau mengantarku pulang?" tanya Vena.


Tanpa jawaban dari Ajin, Ajin menjalankan mobil itu ke arah kos-kosan Vena yang memang tidak jauh dari tempat itu. Sesekali, Ajin membersihkan air jus yang membasahi bajunya.


"Ayo, ikut aku masuk sebentar. Aku punya kaos, kau harus mengganti pakaianmu." ajak Vena ketika sampai di depan kos-kosan.


"Tidak apa-apa. Aku bisa langsung pulang" ucap Ajin masih dengan pandangan lurus.


Vena melepaskan kontak mobil Ajin, dan segera turun.

__ADS_1


Ajin terkejut, dan akhirnya mengikuti langkah Vena, walau ia sedikit canggung.


__ADS_2