Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Akhir yang bahagia


__ADS_3

Kabar kehamilan Putri sudah sampai di telinga ayah, ibu, Putra, Ajin dan Vena.


Mereka sangat bahagia mendengar berita itu. Vena dan Ajin yang sangat tau pengorbanan cinta Kevin dan Putri, mulai dari pertemuan dengan luka tusuk, menandatangi kontrak, karena hanya itulah salah satu cara Kevin mendekati Putri, mengurus pernikahan yang terkesan mendadak, tragedi Bernika, hingga harus merelakan calon anak mereka pergi untuk selama-lamanya. Sebagai sahabat Kevin dan Putri, Ajin dan Vena adalah orang-orang yang selalu berada di samping mereka, selain keluarga.


Satu Minggu sudah mereka berada di sana. Kevin sudah rindu dengan pekerjaannya.


"Sayang, aku berencana untuk kembali ke Indonesia. Kasian Ajin harus mengurus semua sendiri. Kau akan ikut aku pulang, atau tinggal di sini, nanti aku jemput lagi." ucap Kevin yang tidur di paha Putri.


"Aku ikut pulang, Vin." pinta Putri.


"Apa kau tidak betah di sini, Put?" tanya Rani.


"Bukan begitu, mam" Putri serba salah.


"Honey, kau seperti tidak pernah merasakan hamil saja, kau ingat, ketika kau sedang hamil, aku harus berada di sampingmu" ucap Harry memeluk Rani.


"Baiklah, kalian boleh kembali ke Indonesia, tapi, kau harus ingat, jaga Putri baik-baik." Rani memegang pundak Putri.


"Aku akan berusaha sekuat tenaga, mam" ucap Putri.


Keberangkatan Kevin dan Putri menjadikan suasana kediaman keluarga O'Leary menjadi murung. Putri yang biasa bercanda dengan Harry sudah siap berpamitan kepada Hary O'Leary,


"Pi, papi harus sehat. Putri mau papi menemani Putri ketika lahiran nanti. Janji ya Pi" Putri menarik kelingking Harry.


Rani yang menyaksikan betapa sayangnya Putri kepada suaminya, hanya bisa menitikkan air mata.


"Ya, aku berjanji." Harry menatap menantunya itu.


Perjalanan kembali ke Indonesia, di saat kehamilan muda Putri, cukup baik. Calon bayi itu sangat mengerti dimana mereka berada, sampai akhirnya mereka tiba di Indonesia.


Merek langsung ke rumah sakit milik keluarga O'Leary. Dokter Fajar sudah menunggu mereka.


"Semua baik. Dan selamat ya tuan Kevin." ucap dokter Rania, spesialis kandungan yang bertugas saat itu.


Kevin hanya memastikan tidak terjadi sesuatu terhadap kandungan Putri.


Hari berlalu, ruko yang ditempati Putri, sudah beralih tangan, Vena dan Putri konsentrasi dengan keluarga masing-masing. Sesekali, Vena menemani Putri, karena Kevin dan Ajin kerja sampai malam.

__ADS_1


"Ven, kapan kau akan memberitahu Ajin, tentang kehamilanmu?" tanya Putri.


"Entahlah"


"Kenapa sampai sekarang, kau masih memanggil Kevin dengan namanya? kau ini, tidak romantis sekali" protes Vena sambil menghidangkan makan malam.


"Entahlah, ketika aku memanggilnya dengan Vin, saja. Aku merasakan cinta yang luar biasa padanya. Vin, itu adalah ungkapan cintaku untuknya" Putri mengelus perutnya yang sudah berumur 2 bulan, sambil berjalan mengambil daging balado yang ia masak.


"Bagaimana Ajin? Apa kau sudah menyesuaikan diri dengannya? Kau bilang dia tukang tidur" Putri tertawa.


"ya, tapi aku berpikir kembali, pekerjaan mereka sangat melelahkan. Tapi kadang aku kesal, kalau ingin keluar rumah menunggu sampai dia bangun"


"Pasti lagi gosipin kami" suara Kevin mengejutkan kedua sahabat itu.


"Hei.. kok tidak terdengar suara mobilnya" Vena menyambut Ajin dengan manja.


Ajin mencium kening Vena.


"Bagaimana mau mendengar, kalian sedang membicarakan aku ya" Ajin menggandeng tangan Vena,


"Ya, siapa lagi yang kami bicarakan, hanya kalian." jawab Putri.


Vena memandang keromantisan Putri dan Kevin.


"Kau juga akan segera mengandung, yang" Ajin yang memperhatikan istrinya melihat Kevin dan Putri, menghibur Vena. Ia belum tau apa yang terjadi.


"Vin, aku punya berita bahagia"


Kevin melirik ke arah Putri,


"kita tidak akan Konsul ke dokter kandungan berdua saja,"


"Maksudnya?" tanya Kevin.


"Ven, mana yang tadi"


Ajin melirik ke arah Vena, yang bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Yang.." Vena menyerahkan sesuatu kepada Ajin.


"apa ini?" tanyanya


Putri membisikkna sesuatu kepada Kevin.


"Stt"


Kevin juga bingung.


Dia hanya mengikuti alur permainan kedua perempuan itu.


Ajin melirik ke Vena.


"Ini.. ini.. ini gak bohong kan yang?" raut muka bahagia terpancar dari Ajin.


Vena menggeleng.


Ajin memeluk dan menggendong tubuh Vena.


"hei, hei, hei.. turunkan dia. Kandungannya masih baru" teriak Putri.


Ajin menatap Vena dan berteriak, menghampiri Kevin, dan memeluk Kevin.


"Aku akan punya anak" teriaknya, dan Kevin pun melompat seperti anak kecil, yang sedang kegirangan.


Putri dan Vena tertawa melihat mereka berdua.


"Aku berharap, tidak ada lagi yang mengganggu kebahagiaan kita" ucap Kevin.


"Jadi, dong. Kita besanan" Ajin tertawa bahagia.


Awal pertemuan yang aneh, berakhir dengan kebahagiaan.


*Terima kasih para pembaca setia novelku.


Semoga puas dengan novel ini.

__ADS_1


Sampai jumpa di novel terbaruku ya. Dan novelku yang berjudul Status Palsu, sudah menanti kalian.


__ADS_2