
...💚💚Happy Reading💚💚...
Deggggg!
Suara jantung Bening seperti ombak kejar-kejaran, begitupun Vian matanya melotot bahkan hampir keluar dari cangkangnya.
"Vi..Viannn!"
Bening sampai melongo tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Bening..? benarkah itu kamu?"
Vian terkejut sampai berdiri mendekat memastikan ini mimpi atau tidak.
"Haaahhh..Kok bisa nyampe sini?"
Bening masih seperti tidak percaya.
"Kamu putrinya om Handoko? " tanya Vian terkejut.
"I..iyaa.."
Sambil menganggukan kepalanya dengan semangat, sampai nampannya bergoyang, untung kopinya tidak tumpah.
"Tapi tadi om Handoko bilang putrinya bernama Ayu?" tanya Vian heran.
"Hehe..iya, nama lengkapku Bening Ayu Handoko" jelas Bening dengan senyum ceria.
"Aaaahhh yaa, dunia sesempit ini ternyata!" ucap Vian tersenyum takjub.
Vian sebenarnya terkejut senang sekali, tapi sepertinya rencana surprize nanti malam gagal total, padahal Vian sudah mempersiapkan acara dinner seromantis mungkin.
"Kamu kok tau alamat rumahku? dari mana?" tanya Bening heran.
"Ayahku yang memberitahukannya"
ucap Vian senyum.
Tiba-tiba muncul ayah Bening dari belakang.
"Kami sahabatan sejak kecil, dari ayahmu masih ingusan, kita sudah sering bermain bersama"
ujar ayah Bening.
"Benarkah? jadi Romo temanya Ayah Vian?waaahh...bisa kebetulan gitu yah?"
tanya Bening terkejut.
"Iya nduk, dulu kami tumbuh besar sampai remaja selalu berdua, sampai akhirnya ayah nak Alvian memutuskan untuk membuka usaha di Jakarta! nak Alvian, apakah rumahmu yang disini masih ada?"
tanya Handoko mengingat masa kecilnya dulu sering bermain kerumah Herlambang.
"Masih om, rumah itu kenangan dari oma, sampai kapanpun akan tetap kita jaga"
ucap Vian sambil tersenyum menceritakan rumah bersejarah itu.
"Oh yaa.. aku sangat merindukannya, emmmm...Nak Vian, boleh om tanya sesuatu? tapi kamu jangan tersingung yaa?"
tanya Handoko sedikit cemass.
"Tentu om.. dengan senang hati.."
jawab Vian penasaran.
"Ermm.. Apa kamu sudah memiliki kekasih?"
tanya Handoko langsung ke intinya.
Jantung Vian seakan mau copot..
Dia bahkan sampai melonggo mendengarkan pertanyaan Handoko yang to the point.
"Aaahhh romo.. kenapa tanya kek gitu?aahh...Vian, diminum kopinya ntar keburu dingin.. maaf yaa.. romo memang suka ngelantur, jangan dipikirin!"
ujar Bening menggilangkan rasa canggung Vian.
"Aaah..tidak apa-apa, makasih..saya minum kopinya"
Vian mengangkat cangkirnya, tenggorokannya tiba -tiba mengering karena terkejut dengan pertanyaan ayah Bening.
"Hhhmmm.. romo tidak ngelantur, tapi mumpung kalian berdua sudah mengenal satu sama lain, ayah akan memberitahukan sesuatu, huuftt...!!"
Handoko menghela nafas panjang, ia pun masih ragu untuk mengatakannya, tapi apa salahnya dicoba, toh..Keluarga Herlambang keluarga yang baik pikirnya.
__ADS_1
"Romo dan ayahmu nak Vian, kami... sudah sepakat untuk menyatukan keluarga kita"
ucap Handoko perlahan.
"Maksudnya romo?"
Vian pun sampai memiringkan kepalanya menatap ayah Bening, rasa penasaranya juga bergejolak.
"Eerrmmm.. Kami sepakat untuk menjodohkan kalian berdua.."
ucap Handoko agak ragu.
"Haaaahhhh!" kita? " mereka serentak menoleh bersama.
"Yaaaaah..Apa salahnya, kalian sudah dewasa, dan romo rasa kalian cocok"
ucap romo sambil menyesap kopi hitamnya.
Hening...
Mereka masih larut dalam pikiranya masing-masing, ada rasa tidak percaya, namun sebenarnya mereka merasa ada rasa lain yang tak tersirat.
"Ayu..Apa salahnya kamu coba mengenal nak Vian lebih dalam dulu, romo yakin nak Vian ini pantas menjadi imam kamu kelak"
ujar Handoko sambil tersenyum.
"Dan kamu nak Vian, om yakin, kamu bisa bertanggung jawab sepenuhnya terhadap putri om" jelas Handoko.
Vian tersenyum, sebenarnya dia senang sekali, bahkan dia berencana akan memberikan hadiah istimewa untuk ayahnya karena telah menjodohkan dia dengan gadis yang beberapa hari ini mengisi relung hatinya yang kosong.
"Bagaimana nak Vian ? apa kamu setuju? " Handoko kembali bertanya.
"Baik om saya setuju, saya akan menjaga putri om dengan sebaik-baiknya"
ucap Vian tersenyum senang.
"Om percayakan putri om kepadamu! jaga dia denan segenap jiwa ragamu, jangan pernah kamu sakiti dia"
ucapnya perlahan.
Vian tersenyum sambil menoleh kearah Bening yang tertunduk sambil malu-malu.
Sebenarnya Beningpun bahagia, seperti mimpi rasanya, ia bersyukur.
"Kalau begitu, om tinggal masuk kedalam ya nak Vian, om mau istirahat sebentar, kalian mengobrollah"
ucap Handoko pamit istirahat.
"Iya om, terimakasih"
ucap Vian semangat.
Hening.....
Mereka mulai canggung, seakan hilang semua text yang ada di otak mereka berdua.
"Eeermm.. Kamu tidak keberatankan dengan perjodohan ini?"
ucap Vian memecahkan ketegangan diantara mereka.
"Eh.. a.. aku.. aku ngak keberatan kok, sama sekali tidak, hehe.."
ucap Bening terbata-bata sambil malu-malu kucing.
"Kita bisa menjalankan rencana orang tua kita pelan-pelan, yang penting kita saling mengenal dan lebih dekat dulu, pasti semua akan terbiasa"
ucap Vian perlahan memberikan pengertian.
"Heemmm.. kita jalani saja perlahan, nikmati saja alurnya..hehe.."
ucap Bening tersenyum.
Clinggggg!
Terbesit satu ide cemerlang di otak Vian.
"E...Kalau gitu aku pamit pulang sekarang aja yah?"
ucap Vian terburu-buru.
"Loh kok jadi buru-buru? kenapa?"
tanya Bening heran.
__ADS_1
"Ada sesuatu hal yang harus aku urus dengan segera, jadi aku pamit dulu yaa.."
ucap Vian sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati dijalan, jangan ngebut tau!"
ucap Bening khawatir melihat Vian yang berjalan cepat.
"Cie.. yang udah mulai perhatian ni ye?"
Ledek Vian.
"Dih.. apaan sih"
Ucap Bening malu - malu.
"Tapi aku suka"
Senyum manis Vian terbit mengudara.
"Haiiis.."
"Owh yah..Ntar malam aku jemput ya, kita jadikan makan dikafe dekat mallioboro itu?"
ucap Vian menoleh kembali ke Bening.
"Jadi dong.. udah lama nggak nongkrong nih"
ucap Bening semangat empat lima.
"Yawda nanti jam 7 aku jemput yaa? tunggu aku yaa?"
ucap Vian sumringah.
"Asiapp boss! aku pasti menunggumu! jangan telat tau!"
ucap Bening tersenyum sejuta watt.
Selepas kepergian Vian, Bening berlari menuju kamarnya, Ditutupnya pintu perlahan dan bersandar dibalik pintu sambil tersenyum girang.
"Terimakasih yaa Alloh..kok aku seneng banget yaa.. huhu... yessss...yessss...yessss...!"
ucap Bening meloncat-loncat.
Gedubraaaakkkk...
Gedubraaakkkk....
Klontenggggg...!
"Awwww... awwww.. ya ampunnn, apa ini..awwww.!"
ternyata kakinya nyangkut di karpet kamarnya dan jatuh mengenai meja riasnya saking semangatnya.
"Astagaa...kaki ku sakit sekali,kenapa ini pake nyangkut segala sih! tapi its okeylah, yang penting aku bisa selalu dekat dengannya, yeaaayyyy...."
teriak Bening kembali.
Akhir-akhir ini dia memang selalu memikirkan pria tampan yang belom lama dikenalnya tapi sudah berlari-lari dipikiranya, dan melupakan kesedihan yang dia alami.
Mantan memang selalu seperti Hantu nyata, tapi untuk mendapatkan yang terbaik bukankah harus melewati yang buruk dulu.
Semua akan indah pada waktunya, jadi jangan terlalu larut mengenang masa lalu.
Kira-kira kenapa ya Vian buru-buru pulang?
Ada yang tau gaess?
Jangan lupa like,vote,dan tinggalkan komen kaliN ya gaess..
Jempolmu semangatku😘😘
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih😘😘