
...🌲🌲 Happy Reading 🌲🌲...
...*♡ Jangan biarkan cintamu dalam ketakutan, percayalah bahwa akhirnya kamu dan dia akan hidup bersama, saling percaya dan setia...
...itu kuncinya ♡*...
Disebuah kamar mewah sepasang suami istri itu sudah selesai berbuka puasa dan buka yang lainnya.
" Yank.."
Rengek Vian.
" Hemm.."
Sahut Bening yang menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
" One again."
" Aduuh.. duh Jo.. Paijoo.. Inem udah kagak kuat ini..!"
Ucap Bening sambil mencubit gemas pinggang suaminya yang nggak ada capeknya kalau soal pembuatan bibit unggul.
" Aww.. aww.. itu tangan apa kepiting sih, sakit yank..!"
Rintih Vian sambil cengengesan.
" Owh iya, Doni mana? jangan - jangan udah pulang lagi, aku harus menemuinya."
Ucap Bening langsung memunguti bajunya yang berserak kemana - mana.
" Yank.. kamu ya? baru aja di kasih yang enak - enak ama suaminya udah langsung ingat pria lain aja!"
Gerutu Vian.
" Astaga, calon ayah dari anakku, aku mau Sidang ini!"
Ucap Bening mencubit gemas pipi suaminya yang cemberut.
Vian yang mendengar ucapan Bening tentang calon ayah langsung bersemu wajahnya, tersenyum - senyum sendiri, ada kebahagiaan tersendiri menurutnya.
" Sidang apa?"
Tanya Vian yang senyumnya belum pudar.
" Sidang si Donnat itulah, enak aja dia mau dua in Alexa!"
Jiwa Bening sebagai wanita tersakiti.
" Perlu pengacara kagak?"
Ledek Vian.
" Nggak.. aku akan jadi Hakim merangkap sebagai pengacara!"
Ucap Bening sambil memakai bajunya kembali.
" SEMANGAT yank..!"
" Ayok?"
" Kemana?"
Tanya Vian heran.
" Jadi saksi lah, dalam persidangan harus ada saksi, buruan pake bajumu!"
" Astaga bumil yang satu ini dah!"
Vian menurut saja karena sudah dapet jatah.
Vian dan Bening menuruni tangga dan menuju ke ruang keluarga.
" Yank, tolong panggilin Doni sekarang."
Pinta Bening.
" Siap bu hakim yang terhormat."
Vian memberikan hormat pada istrinya.
Vian mencari - cari Doni yang sudah tidak ada di tempat makan tadi, dan ternyata Doni masih berbincang - bincang dengan rekan kerja kantor, dan ternyata Nay pun ikut bergabung di dalamnya.
" Don.."
Panggil Vian.
" Ya tuan muda."
Jawab Doni, yang lain pun ikut menunduk memberikan hormat pada atasannya.
" Aku mau bicara sebentar denganmu."
" Baik tuan muda."
Doni pun pamit dengan rekan - rekan kerjanya.
" Don.. kamu sudah makan?"
Tanya Vian.
" Sudah tuan muda."
Jawab Doni heran.
__ADS_1
" Good, kamu dipanggil Sidang sekarang juga!"
Ucap Vian dengan wajah serius.
" Sidang apa tuan muda?"
Doni terheran, mana ada sidang malam begini pikirnya.
" Pokoknya dengarkan saja ucapan ibu hakim, jangan membantahnya kalau tidak mau panjang urusannya!"
Vian menggiring Doni sambil menepuk - nepuk bahunya memberikan wejangan.
Doni makin binggung dengan ucapan bosnya, tapi tetap saja berjalan mengikuti arah bosnya.
Dan ternyata ibu hakim sudah menunggu sambil menajamkan pandangannya ke arah mereka.
" Semangat Don, kali ini aku tidak bisa membantumu, jadi berusahalah!"
Bisik Vian.
" Duduk..!"
Perintah Bening dengan mood marahnya.
" Iya nona, ada yang bisa saya bantu?"
Ucap Doni duduk mengikuti arahan Bening.
" Apa hubunganmu dengan wanita tadi?"
Ucap Bening tanpa basa basi.
" Wanita? wanita yang mana nona?"
Tanya Doni heran.
" Nggak usah drama deh? siapa namanya tadi yank?"
Tanya Bening berbalik pada suaminya.
" Naysia."
Ucap Vian yang dari tadi jadi saksi bisu.
" Owh Nay, dia kan sekertaris saya nona?"
" Hanya sekertaris saja?"
" Iya."
" Kamu tahukan kalau Alexa sudah saya anggap sebagai adek saya sendiri?"
" Iya nona."
" Tentu nona, saya serius dengan Alexa."
" Lalu kenapa kamu senyam - senyum dengan sekertarismu itu, kamu tebar pesona ya dengan dia, sok - sok an diambilin lauk sama minum segala, kamu nggak punya tangan untuk mengambil sendiri apa? gimana kalau Alexa tadi melihatnya? kamu mikirin perasaannya nggak sih? kamu mau selingkuh ya?"
Bening berkata panjang lebar sambil berkacak pinggang memarahi Doni yang sudah merem melek menahan serangan dadakan.
Sedangkan Vian menutup telinganya dengan kedua tangannya.
" Jawab Don..! jangan diam saja..!"
Bentak Bening.
" Tuh.. jawab Don!"
Vian menyenggol kaki Doni yang diam saja.
" Kami tidak ada hubungan apa pun nona, hanya sebatas kerja saja?"
Jawab Doni perlahan.
" Sebatas kerja kamu bilang? tapi kenapa sampai diambilin makanan segala?"
" Saya tidak memintanya nona, dia sendiri yang menawarkan."
" Harusnya kamu menolak..! jangan menikmatinya?"
" Maaf nona."
" Kenapa minta maaf sama saya?"
" Iya Nona."
" Iya apa? mau aku panggilin Alexa sekarang juga?"
" Dia sedang di Puncak nona, ada acara keluarga!"
Jawab Doni jujur.
" Owh.. jadi karena Alexa pergi kamu jadi bermesra - mesraan disini, kamu memang.. waah.. keterlaluan tau nggak Don! kamu lupa perjuanganmu mendapatkan Alexa? ha..?"
Bening kembali mengomeli Doni.
Vian memberikan isyarat untuk diam kepada Doni.
" Maaf nona, saya tidak akan mengulanginya lagi."
Doni cari aman saja.
" Jangan minta maaf pada saya, sama Alexa sana."
__ADS_1
" Baik nona."
" Kamu tau nggak kalau cewek perhatian seperti itu tandanya apa?"
Ucap Bening yang sudah menurunkan intonasi suaranya.
" Tidak nona."
" Itu tandannya dia suka sama kamu!"
" Tapi saya tidak menyukainya nona, kami hanya sebatas kerja saja."
Jelas Doni.
" Itu versi kamu, kalau versi dia gimana? kalau kamu menerima perhatiannya lama kelamaan kamu akan terbiasa dan bisa menerima perasaanya! atau kamu sengaja suka PHP in cewek - cewek ya? mau sok - sok an jadi play boy gitu? ciiih..."
Bening masih belum puas.
Doni diam saja, mendengarkan perkataan Bening.
Apa benar dia menyukaiku, tapi dia memang sering memberi perhatian lebih padaku, tapi aku kira itu masih tahap wajar, apa dia menggangapnya lain? apa karena kejadian ciuman di apartementku itu dia jadi punya perasaan lain? apa iya? masak iya sih?
Doni masih berdebat dengan pikirannya sendiri.
" Kalau sudah punya kekasih, jaga perilakumu, jaga pandanganmu, dan jaga jarak dengan sekertarismu itu! kamu denger nggak? kenapa diam saja?"
" Aah.. iya nona, mulai sekarang saya akan menjaga jarak dengannya."
" Kalau nggak ganti saja sekertarisnya Yank."
Ucap Bening kepada suaminya yang menjadi saksi bisu dalam persidangan malam ini.
" Maaf nona, tapi kami masih menangani proyek hotel di Lombok, sudah setengah jalan, kalau dia dipindahkan, harus mengulang dari awal nanti malah menunda proyek kita."
Jelas Doni.
" Haiiisss.. kamu alasan saja!"
Ucap Bening.
" Kalau proyek itu memang benar yank, mereka yang menghandle."
Ucap Vian membenarkan.
" Haiiss.. kamu serius nggak sih Don dengan Alexa?"
Tanya Bening.
" Serius nona."
" Kenapa belom kamu lamar? tunjukin kalau kamu serius, nggak gentle amat, kayak mas Vian tuh, nggak pake ba.. bi.. bu.. langsung lamar, itu tandanya nggak main - main!"
ucap Bening.
Yang merasa dibicarakan membusungkan dada, merasa bangga pada diri sendiri.
" Saya sudah melamarnya nona, dan dia sudah menerimanya."
jawab Doni.
" Kenapa aku tidak di undang? waah.. kalian benar - benar ya?"
Bening tidak terima.
" Benarkah? kapan? kenapa kau tidak memberitahuku? apa kau lupa, kau sudah diangkat cucu oleh kakek? brati aku ini kakakmu, harusnya kau meminta restu juga dariku?"
Vian pun tidak terima.
" Masih belum resmi tuan muda, nona, masih antara kita berdua, nanti kalau buat acara, kalian orang pertama yang akan saya beri tahu."
Ucap Doni perlahan.
" Jangan dadakan ya? aku mau buat kebaya sarimbit tauk! susah cari ukuran perut buncit gini kalau dadakan!"
Jiwa emak - emak keluar.
" Pasti nona."
ucap Doni tersenyum dan bersyukur, ada yang peduli sebagai keluarga untuk dirinya.
" Ya sudah, sidang ditutup, kamu bisa keluar sekarang, tapi jaga jarakmu ya!"
Ucap Bening tegas dan lugas.
" Baik nona."
" Saksi, antar aku ke kamar yuk!"
ucap Bening pada suaminya.
" Asiap ibu hakim.. apa mau nambah satu ronde lagi?"
Jawab Vian jahil.
" Aaah.. aku udah gempor ini yank, susah jalan ini, lanjut besok aja sih, tadi udah nambah mulu kok!"
Ucap Bening mengomel sambil menaiki tangga digandeng Vian.
Dan Doni?
Hanya bisa melongo hella hello..🤣🤣
Jempolllllll mana jempolllll kalian..
__ADS_1