CINTA INI TAK BERSYARAT

CINTA INI TAK BERSYARAT
160. Bonchap: Janji suci seorang Polisi


__ADS_3

...Happy Reading...


..." Ada saatnya kamu memperjuangkan dan diperjuangkan oleh seseorang. Bersabarlah dan fokuslah untuk memantaskan dirimu. Yakinlah Allah akan hadirkan dan tunjukkan penyempurna agamamu di saat yang tepat "...


Pagi ini Joe bangun lebih awal, sudah mandi, sudah wangi dan sekarang sudah duduk manis didalam mobil menunggu calon istrinya turun jaga, Eveline tadi malam mendapat jatah shif malam, dan besok dia libur.


Hari ini adalah akhir pekan, hari dimana banyak orang menikmati hari santainya, dan pergi jalan-jalan untuk sekedar refresing dan melemaskan otot-otot yang terasa kaku.


Begitu juga Eveline, walau dia tidak selalu libur diakhir pekan, namun kali ini ketika jadwal liburnya sama dengan kekasihnya, dia berniat untuk menghabiskan waktu seharian bersama.


Terlihat dari ujung Eveline berjalan bersama seorang pria berseragam sama sepertinya, namun kalau dilihat dari lambang yang menempel dibajunya, sepertinya jabatannya sudah tinggi.


Mereka berjalan sambil bercanda, saling pandang dan tertawa bersama, entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti wajah Joe yang tampan dan berseri tadi berubah tiga ratus enam puluh derajat menjadi suram dan menyeramkan.


" Kamu bawa mobil apa motor Lin?"


Tanya Pria disampingnya yang sudah hampir sampai diparkiran.


" Aku nggak bawa kendaraan pak."


Jawab Eveline tersenyum.


" Kalau begitu bareng aku aja yukk, aku anterin!"


Ucapnya berharap, Komandan Eveline yang bernama Alvin itu memang selalu memberi perhatian lebih dengannya.


" Terima kasih atas tawarannya pak, tapi saya sudah dijemput."


Eveline tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saat melihat Joe dari kejauhan yang sudah berkacak pinggang sambil mengetuk-ngetukkan sepatu mahalnya ke lantai dengan tatapan mata seakan ingin membunuh siapapun yang bersamanya.


Alvin menoleh kemana arah mata Eveline memandang.


" Ehermm.. Siapa dia Lin?"


Ucap Alvin langsung membetulkan kerahnya yang sebenarnya masih rapi, dan mengibas-ngibaskan tangannya diarea pangkat yang tertempel dibajunya.


" Dia... hehe, seseorang yang sangat berharga, kalau begitu saya permisi pulang duluan pak, marii..."


Eveline mempercepat langkahnya ke arah Joe, tanpa menoleh orang yang dibelakangnya yang merasa belom puas atas jawaban yang dia berikan.


Alvin hanya mematung ditempat, melihat kearah mereka, karena arah parkir harus belok, sedangkan Joe parkir didepan, walau masih penasaran, tapi dia mengurungkan niatnya untuk nguping, masih banyak waktu pikirnya.


" Haii kak... udah lama ya nunggunya?"


Eveline bertanya namun tidak mendapatkan jawaban.


" Anterin aku pulang dulu yuk, aku pengen mandi dulu!"


Pinta Eveline kembali memecah kesunyian.


Joe tidak menjawab apalagi menoleh, pandangannya fokus kedepan, wajahnya terlihat datar, raut wajahnya sedikit suram.


" Kenapa sih kak? ada apa? cerita dong?"


Ucap Eveline menyadari ada yang tidak beres ini.


" Kalau nggak mau ngomong loncat nie?"


Eeline memegang handle pintu mobil.


" Ckkk... kamu ini, udah ada yang punya masih aja ganjen sama cowok-cowok, mentang-mentang baju mereka ada pangkatnya ya? sedangkan kakak jasnya polosan gituh?"


Joe akhirnya tidak tahan juga diam membisu.


" Haiisss... kakak ini udah tua juga, masih aja baperan! heran deh!"


Eveline melipat tangannya dan bersandar di kursi mobil.


" Gantengan mana kakak sama dia tadi?"


Joe tiba-tiba memelototkan matanya ke arah Eveline.


" Haaaa? apaan sih kak, nggak jelas banget deh!"


Eveline malah tersenyum saat mendengar ucapan Joe.


" Diih.. kamu ini nyebelin banget deh, nyenengin calon suaminya dikit kenapa sih! kesel gue!"


Joe gemas sendiri melihat Eveline yang semakin cuek saat sudah menjadi polisi.


" Astaga kakak... iya okey, gantengan kakak lah pake banget lagi! puaaassss?"


Eveline menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut.


" Kagak ikhlas banget deh! sayang kagak sih sebenarnya?"


Umpat Joe makin kesal dibuatnya.


" Fuuuhhh... kakak, sayang dan cinta itu tidak harus diucapkan dengan kata, tapi bisa dengan perbuatan atau dengan perhatian gituh?"


Eveline memiringkan tubuhnya ke arah Joe.


" Ckk... Aku memang tidak bisa berjanji untuk menjadi yang terbaik, tapi aku berjanji akan selalu mendampingi kakak apapun yang terjadi."


Eveline menatap tajam kedua bola mata Joe.


" Masih ragu lagi?"


Tanya Eveline kembali.


" Kakak kan hanya butuh kepastian, bahwa kamu tidak boleh main-main lagi!"


Joe begitu takut kehilangan Eveline untuk yang kedua kalinya.


" Kepastian itu bukan satu-satunya jalan untuk bahagia, terkadang menjalaninya akan terasa lebih menyenangkan kak."


Eveline melirik ramainya hiruk pikuk jalanan, sebenarnya dia malas berdebat dengan kekasihnya pagi ini, karena sia-sia saja, tidak ada yang mau mengalah.


" Misalnya?"


Joe menatap kesal wajah Eveline.


Cup..


Eveline menyambar langsung bibir Joe agar diam dan berhenti mengomel seperti anak abegeh.


" Eheerrmm.. Lagi.."


Ucap Joe berdehem dan tersenyum malu-malu.


" Yang mana?"


Eveline menyangga wajahnya dengan satu tangan sambil melihat wajah sumringah Joe.


" Sini, sini, sini, sini, sini semuaaanyaaa!"

__ADS_1


Joe menunjuk semua organ tubuh diwajahnya.


" Malesss!"


Eveline menurunkan sandaran kursinya agak rendah, agar bisa sedikit tiduran.


Cekiiitttt...


Joe mengerem mobilnya mendadak dan menepikan mobilnya ditepi jalan yang terlihat sepi.


" Kaaakk... ada apa?"


Teriak Eveline terkejut dan segera ingin bangkit, namun Joe dengan sigab mendorong tubuh Eveline dan menindihnya, disambarnya langsung bibir mungil Eveline tanpa basa-basi lagi.


Dengan segera Eveline memukul-mukul bahu Joe, avar melepaskan pagutannya, Joe tidak peduli, dia masih asyik menikmati manisnya bibir Eveline.


Karena merasa gemas sendiri, Eveline langsung menarik pistolnya dan menodongkan kearah kepala Joe dari samping.


Joe terdiam tanpa melepaskan pagutan, perlahan tapi pasti, dia menarik tubuhnya keatas dan mengangkat kedua tangannya ke udara.


" Kamu mau bunuh calon suamimu sendiri?"


Umpat Joe sambil melirik pistol dikepalanya.


" Kakak lupa siapa calon istri kakak? apa kakak nggak bisa lihat aku masih pake seragam? mau aku borgol kedua tangan kakak sekarang? hemmm..?"


Eveline memainkan borgol menggunakan tangan kirinya.


" Habisnya kamu------"


Umpatan Joe terputus.


" Kamu kenapa? mau protes kek gimana lagi? hemm...?"


Eveline menajamkan tatapannya kearah Joe.


" Ckkk... jangan galak-galak dong yank, kesannya jadi kayak suami sien istri gitu?"


Joe menjalankan kembali mobilnya sambil memonyongkan bibirnya, tingkahnya sudah mirip seperti anak yang ketahuan mengambil uang jajan di dompet emak.


" Bodo amat!"


Eveline merapikan kembali baju seragamnya.


" Mau sarapan dulu kagak?"


Tanya Joe perlahan, tanpa menoleh kearah Eveline.


" Kagakk.. maless!"


Eveline malah memejamkan kedua matanya.


Joe tersenyum licik saat melihat mata Eveline terpejam, dia mengambil obat tetes mata yang ada dilaci mobilnya, dengan perlahan dia meneteskan obat itu kematanya, dia menaruh agak banyak agar terlihat seperti air mata sungguhan.


Joe memasang wajah melow, sambil pura-pura berdehem dan memberhentikan mobilnya kembali.


Eveline sontak kembali bangun saat merasa mobil itu berhenti berjalan.


" Ada apa lagi sih ka-------?" Eveline terbangun sambil berdecak kesal.


" Kakak? kakak kok nangis sih? ada apa?"


Eveline sontak menangkup kedua pipi Joe dengan wajah panik.


" Kamu Jahat..!"


" Astaga kakak, maafin aku, bukan maksud aku gitu? aku cuma nggak mau kalau nanti ada yang melihat kita dijalan kek gitu? bisa kena pasal aku nanti kak, maaf ya?"


Eveline seraya membawa tubuh Joe kedalam pelukannya.


Yeeessss... kena kamu yank! makannya jangan coba-coba bantah dan ngerjain calon suamimu yang tampan ini, haha...


Joe serasa menang lotre pagi ini, tukang jail kena jail, yaa nggak mungkin banget.


" Udah jangan mewek, malu dilihat orang!"


Eveline hampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


" Janji nggak galak-galak lagi ya?" Joe melirik ajam ke arah Eveline.


" Janji nggak genit-genit lagi jugak!"


" Emang siapa yang genit sih kak?"


Tanpa sadar dia menaikkan nada suaranya kembali, kebiasaan berucap dalam sekolah kepolisian, tegas dan lantang.


" Tuuuuuhhhh kannnn...!"


Joe mengoyang-goyang kan telunjuknya kekanan kiri.


" Fuuuhhhh... Buruan pulang kak, dari pada tensi darahku naik nanti pagi-pagi."


Eveline memejamkan matanya, udah ngantuk dibikin badmood, tau sendiri gimana rasanya.


Joe memang sengaja membuat kesal Eveline pagi ini, karena dia sudah menyiapkan sesuatu untuk calon istri tercintahnya.


Sesampainya dirumah, terlihat Mobil Doni sudah terparkir didepan rumah.


" Itu mobil A Doni kan? apa dia nggak kerja?"


Eveline turun dari mobil setelah Joe membukakan pintu untuknya.


" Ayok kita masuk..!"


Joe langsung menarik tangan Eveline dengan semangat.


" Yang punya rumah kan aku, kenapa kakak yang semangat ngajak masuk?"


Eveline merasa heran sendiri dengan tingkah Joe sedari tadi.


" Kamu akan tahu nanti, hehe..."


Joe tersenyum dengan manisnya.


" One.. two .. three..."


Bisik Joe.


Ceklek..


" SURPRIZEEEEEEEEE..."


" HAPPY BRITDAYS EVELINE...."


Teriak semua orang yang sudah berkumpul didepan pintu menyambut Eveline, dengan membaea puluhan balon berbentuk hati berwarna merah.

__ADS_1


" Paman... bibi?"


Eveline berlari memeluk keduannya, sudah lama rasanya tidak berjumpa dengan mereka, yang telah merawat Eveline sejak ditinggal ledua orang tuanya.


" Wuuuaahh.. kamu terlihat keren pake baju polisi sayang?"


Bibi memeluk kembali dengan erat.


" Akhirnya cita-cita kamu tercapai juga ya?"


Paman pun ikut memeluknya dengan erat.


Mereka akhirnya merayakan ulang tahun Eveline dengan suka cita, Doni bahkan ijin tidak masuk kerja untuk bisa berkumpul dengan keluarga tercinta.


Saat mereka sedang duduk santai, bibi memanggil Eveline untuk bergabung bersamanya sambil meminum teh hijau kesukaannya.


" Sayang.. sini sebentar, bibi mau bicara."


Eveline dengan cepat berjalan dan duduk disamping bibinya sambil memeluk pinggangnya.


" Ada apa bi?"


Tanya Eveline sambil bersandar dipundak bibi.


" Emm... bibi dengar, kamu sudah sudah bertunangan dengan Joe?"


Tanya bibi sambil mengusap kepala Eveline.


" Iya bi..."


Eveline tersenyum sambil menganggukan kepalanya mantap.


" Apa kamu benar-benar mencintainya?"


Tanya bibi perlahan.


" Hmmm..." Eveline mengangguk perlahan, pikirannya menerawang jauh ke dalam sosok Joe dihatinya.


" Ketika aku menutup mataku, aku melihatnya.."


" Ketika aku membuka mataku, aku merindukannya bi..."


Senyum Eveline selalu mengembang jika mengingat sosok calon suaminya.


" Benarkah? sepertinya kamu sangat mencintainya?"


" Hehe.. dia spesial dihatiku bi, dia bahkan lebih menyayangi diriku, dari pada aku sendiri, hehe.."


" Nak... Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna, jika kamu sudah menemukannya, jaga hati dan perasaannya, jangan sampai kamu melukainya.."


" Emm... karena kaca yang pecah tidak akan pernah bisa kembali seperti semula, walau drngan usaha apapun!"


Bibi tersenyum bahagia melihat Eveline mendapatkan sosok lelaki yang bertanggung jawab.


" Bibi.."


Tiba-tiba Joe berjalan mendekat kearah mereka.


" Kakak?"


Eveline terkejut melihat Joe yang ternyata sedari tadi dibelakangnya, mendengarkan segala obrolan mereka.


" Joe... mulai sekarang, bibi percayakan Eveline kepadamu.." Bibi menepuk bahu Joe dengan lembut.


" Tugas bibi dari almarhum ayah dan ibu Eveline sudah selesai sampai disini.."


" Bibi harap, kamu menjaganya seperti kamu menjaga nyawamu sendiri, sayangi dia, bahagiakan dia."


Bibi bahkan meneteskan air mata mengenang sosok kedua orang tua Eveline.


" Pasti bi.. itu adalah janjiku pada diriku sendiri."


Joe memandang dan mengusap rambut Eveline.


" Kapan kalian akan menikah?"


Tanya bibi.


" Sebenarnya Joe pengen nikah besok pagi bi.."


Ucap joe melirik Eveline.


" Belom boleh kak.."


Eveline langsung protes.


" Iya.. taukk! harus nunggu kamu selesai pendidikan lagi kan?"


Joe menoel hidung mancung Eveline.


" Asal kalian saling percaya, saling terbuka, saling memahami keadaan masing-masing, bibi percaya, tidak akan ada yang bisa memisahkan kalian kecuali maut."


Ucap Bibi memberikan wejangan.


" Terima kasih bibi.. terima kasih untuk semuanya!"


Eveline kembali memeluk bibinya dengan erat.


" Mau juga dong dipeluuuukkkk..."


Terdengar suara berat dari arah belakang, Doni dan Alexa berjalan mesra beriringan ikut bergabung dengan mereka.


Akhirnya mereka bercengkrama, bercanda tawa mengobrolkan sesuatu yang membuat mereka bahagia.


Cinta bukan tidak hanya mencakup perasaan pada lawan jenis. Namun cinta sejati juga tumbuh dari perasaanmu pada keluarga, begitu juga kebalikannya.


Keluarga adalah amanat dari Tuhan. Hendaknya segala yang kamu lakukan adalah untuk kedamaian dan kebahagiaan keluarga."


Banyak yang sibuk mengejar harta hingga melupakan keluarga. Padahal tanpa kita sadari, keluarga ialah harta yang tak ternilai, indahnya kebersamaan.


Bisa membuat keluarga bahagia adalah salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup ini. Memiliki tempat untuk pergi adalah rumah. Memiliki seseorang untuk dicintai adalah keluarga. Memiliki keduanya adalah berkah.


Sejauh apapun kamu pergi, keluarga adalah tempat kamu pulang.


Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.


Lebih baik hidup sederhana tapi bermakna, dari pada hidup mewah tapi mengorbankan cinta keluarga.Kesenangan bermula dari kebersamaan bersama orang-orang terdekat, terutama keluarga.


Keluarga adalah salah satu hal yang paling penting kita miliki, yang tak akan pernah berubah dan akan selalu ada saat kita membutuhkannya.


..." Keluarga merupakan mahakarya terbaik dari alam semesta."...


Akhirnya karya pertama Author telah selesai.


Terima kasih banyak yang sudah sudi meluangkan waktu untuk membaca karya author yang tidak seberapa ini.

__ADS_1


Sampai jumpa dikarya-karya baru selanjutnya.


πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2