
...Happy Reading gaessπ...
π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦
Vian yang sudah bangun dari tidurnya segera masuk kekamar untuk segera mandi dan bersiap kekantor, dilihatnya kamarnya sepi dan tidak melihat Bening disana.
Sejenak diterpaku melihat kasurnya, dan segera masuk kamar mandi, mungkin dia sudah dibawah pikirnya.
"Vian..Kamu sudah bangun? apakah istrimu muntah-muntah lagi?"
Vian hanya menggedikkan bahunya dan berlalu keluar rumah, dia malas sarapan dirumah.
"Vian..! kamu mau kemana? kamu nggak sarapan dulu?"
teriak ibu Vian.
Vian tidak mengeluarkan sepatah katapun dan segera melenggangkan kakinya kedalam mobil.
"Dasarr anak itu.. yahh.. Aku sudah tidak tahan dengan perangai anak itu, carikan pengobatan lain lagi yah, atau kita bawa saja dia keluar negri!"
kesal ibu Vian.
"Ayah pun sudah membicarakannya dengan Alberto, dan dia sudah merekomendasikan rumah sakit terbaik disana!"
ucap Herlambang.
"Kasihan Bening jika Vian masih terus saja begitu!!"
ucap ibu Vian.
"Oh ya? kemana Bening? dia tidak ikut sarapan?"
tanya ayah Vian.
"Mungkin Bening masih istirahat yah,badannya kan masih lemah, nanti kalau belum bangun sampai siang biar bibi bawain aja sarapannya ke atas"
ucap ibu Vian berasumsi.
Diruangan keluarga kediaman Handoko, orangtua Bening masih membicarakan menantunya yang berubah drastis itu.
"Bening? lalu apa rencanamu saat ini? apa kamu mau tinggal disini saja?"
tanya mami.
"Maa.. Apapun yang terjadi Bening masih istri sah dari Vian, dan dia itu masih sakit ma?"
ucap ayah Bening menyela.
"Lalu...Romo tega, melihat anak kita diperlakukan buruk seperti itu oleh suaminya? kita bisa membesarkan cucu kita sendiri dengan tidak kurang suatu apapun tanpa ayahnya!"
ucap ibu Bening berapi-api.
"Maaaa...!"
ucap bentak ayah Bening.
"Romo..Mami..Sudahlah, aku hanya ingin menenangkan diri saja dulu, bukannya meninggalkan mas Vian!"
ucap Bening makin pusing dibuatnya.
"Apa kamu sudah pamit saat kesini dengannya?"
tanya romo.
"Buat apa pamit segala, pria seperti itu dipamitin paling juga hanya nyakitin!"
sahut mami membayangkan keadaan putrinya.
"Maa...."
ucap romo yang melemah, saat melihat istrinya, dia paham betul dengan keadaan saat ini, karena terlalu sayang dengan putrinya.
Tulilutt..tuliluttt..hp Bening berbunyi.
"Haloo ma? assalamualaikum"
ucap Bening melihat layar hpnya dan menekan loudspeaker nya.
"Waalaikumsalam sayang..Kamu dimana? kirain masih tidur, saat bibi anter sarapan katanya kamu nggak ada dikamar?"
tanya ibu Vian panik.
__ADS_1
"Maaf ma, aku nggak sempat pamit sama ayah dan mama, soalnya takut ganggu tidurnya, aku sekarang berkunjung kerumah romo dan mami ma!"
ucap Bening merasa bersalah.
"Huuuh..Mama lega, kirain kamu hilang kemana nak! kapan kamu akan kembali?"
tanya ibu Vian.
"Hemm..Mungkin beberapa hari lagi ma, Bening ingin menenangkan diri dulu bolehkan ma?"
tanya Bening lembut.
"Tentu nak.. Kamu pasti sangat terpukul dengan keadaan seperti ini, tolong maafkan putra mama ya nak? jangan pernah tinggalkan dia, karna ini semua bukan keinginan dia untuk melupakanmu dan berbuat seperti ini terhadapmu!"
ucap ibu Vian menitikkan air mata.
"Iya ma, aku juga masih sangat mencintai putra mama sampai kapanpun."
ucap Bening sambil menangis.
"Ayah juga berencana membawa Vian berobat keluar negri, apa kamu mau ikut kesana nak? karna mungkin membutuhkan waktu yang tidak sebentar nak?"
tanya ibu Vian.
Mami Bening langsung mengambil hp dari tangan putrinya.
"Besan..Maaf ya, apa tidak lebih baik Bening biar tetap disini saja bersama kami, dia kan masih hamil muda, kami khawatir jika dia harus melakukan perjalanan jauh juga!"
ucap ibu Bening.
"Oh..Seperti itu ya, maaf ya besan, ini semua diluar kendali kami"
jawab ibu Vian.
"ya sudahlah..Semoga Vian cepat sembuh ya bu, biarkan Bening bersama kami dulu sampai semua keadaannya membaik"
ucap Ayah Bening ikut menjawab.
"Baik besan..tetap berkabar ya, assalamualaikum!"
tutup ibu Vian.
"Waalaikumsalam"
"Mi..Bening mau kekantor mas Vian ya, Bening mau pamit!"
ucap Bening kepada maminya.
"Ngapain sayang? nanti kamu malah dicuekin?"
tanya ibu Bening.
"Ma..Suaminya akan pergi keluar negri lho, dan bukan sebentar, biarkan dia melihatnya sebelum keberangkatan!"
ucap romo.
"Terserahlah!"
ucap mami Bening segera berlalu.
Herlambang sudah mempersiapkan segalanya, sore nanti mereka akan segera berangkat ke Amerika, walaupun Vian tadi sempat menolak, tapi karena ancaman orang tua Vian untuk tidak mengakuinya sebagai anaknya lagi jika menolak, mampu melemahkan keegoisan Vian, dan terpaksa menyetujuinya.
Tok..tok..
"Masuk..!"
ucap Vian.
"Mas..Bisa kita bicara sebentar?"
tanya Bening saat memasuki ruangan Vian.
"Ada apa lagi?"
ucapnya ketus.
Bening sudah sedikit bergetar, dadanya sudah mulai sesak karna bentakan suaminya yang terus menerus dia terima akhir-akhir ini.
"aku minta maaf mas, tidak bisa menemanimu berobat keluar negri"
ucap Bening pelan.
__ADS_1
"Bukannya kamu malah senang, kamu bisa bebas berbuat apa saja? kenapa kamu pasang muka sedih? pencitraan!
"bentak Vian.
"Huuuuhhh.. aku tidak ber...."
ucapan Bening terpotong disela helaan nafasnya.
"Nggak usah banyak drama, keluar kau, aku masih banyak perkerjaan!"
bentak Vian.
"Hiks..hiks..a.. aku..."
suaranya tersekat oleh tangisan yang tertahan.
"Hentikan air mata buayamu itu, aku malas melihatnya!"
ucap Vian membalikkan duduknya, dikursi putar kebesarannya.
"Huuuh.. haahh.."
Bening menahan sekuat tenaganya untuk tidak menangis dan segera mengelap air matanya.
"Pulanglah...kau hanya menambah moodku menjadi semakin buruk hari ini!"
ucapnya ketus tanpa melihat Bening.
"Baiklah.. hati-hati dalam perjalanan nanti, semoga kamu cepat sembuh!"
ucap Bening mendekati Vian ingin mencium tangannya.
"Aahh..Pulanglah, tunggu apa lagi!"
ucap Vian menepis tangan Bening.
Bening berlari keluar ruangan sambil menangis tersedu-sedu.
"Kenapa mas Vian jadi kasar seperti itu, aku hanya ingin berpamitan dan minta maaf saja, apa tidak bisa bicara baik-baik!"
ucap Bening lirih.
Doni yang sempat melihat Bening berlari dan menangis ingin mengejar Bening, tapi dia harus segera menemui Vian untuk menyelesaikan segala laporan, karena dia juga akan ikut pergi ke Amerika.
"Tuan muda?"
tanya Vian.
"Hemmm.."
jawab Vian sambil memejamkan matanya dan bersender dibahu kursinya.
"Apa yang terjadi dengan nona Bening? kenapa dia berlari sambil menangis?"
ucap Doni sambil meletakkan berkas untuk ditanda tangani.
"Haah..apa kamu juga mau menambah moodku menjadi buruk lagi!"
ucapnya malas.
"Maaf tuan muda, tapi anda tidak seharusnya membuat nona Bening seperti itu!"
ucap Doni pelan.
"Apa urusanmu!"
bentak Vian.
"Huuhh..Dulu, anda benar-benar mencintainya tuan muda, bahkan sangat menjaganya agar tidak lecet sedikitpun, apalagi membuatnya menangis dan terluka seperti itu!"
ucap Doni menjelaskan.
Vian tidak menjawabnya, dia hanya menajamkan pandangannya kearah Doni, melihat kejujuran dimatanya dengan segala pikiran kalut dikepalanya.
"Jangan sampai Tuan muda menyesalinya dikemudian hari, karena kaca yang pecah tidak akan bisa kembali seperti semula, walau disatukan dengan cara apapun itu!"
ucap Doni.
Keren nggak petuah babang Doniπππ
jangan lupa klik LIKE, VOTE dan COMENT kalian gaes, biar tambah semangat updatenya.π
__ADS_1
Terima kasihπππ