
...π₯π₯ Happy Reading π₯π₯...
...β‘β‘ Terkadang aku berharap menjadi anak kecil lagi, Lutut yang lecet lebih mudah disembuhkan dari pada hati yang patah β‘β‘...
Joe merasa usahanya selama ini sia - sia, dia berharap ketika Doni sudah bertunangan dengam Alexa, Nay akan menyerah dan sedikit demi sedikit mulai membuka hati dengannya.
Ternyata Ego dan kerasnya hati Nay sangat sulit dilumpuhkan.
Sepanjang perjalanan menuju tempat dia memarkirkan mobil, Joe mengumpat Perempuan yang dia dambakan itu, sambil menendang kerikil kecil yang berserakan di jalan setapak itu.
Pletaaakkkk..
" Awwww...!"
Joe clingak - clinguk melihat sekitar.
" Siapa yang berani melempar kerikil dikepalaku ini! cari gara - gara ini orang!"
Sesosok gadis yang masih menggunakan gaun panjang itu mulai menyingsingkan gaunnya dan berdiri dari bebatuan dibawah pohon cemara itu.
Dilihatnya samar - samar dibawah temaramnya sinar cahaya bulan purnama, sesosok pria dari belakang bertubuh atletis, tinggi dan gagah dan masih menggunakan setelan jas resmi.
" Hemm..terlihat perfect, dari belakang tapi?"
Umpat Gadis bergaun putih itu.
" Kenapa aku seperti mendengar orang berbicara? apa Nay mengikutiku? tapi kenapa tidak ada orang?"
Joe masih melihat sekeliling sambil mengusap lengannya yang terus merinding dari tadi.
Buuugghhh..!
" Heeiii.. siapa yang?"
Joe mengambil sendal high hils yang terlempar dan mengenai siku kanannya.
Saat dia berbalik kebelakang ingin memarahi si pelaku, dia malah terkejut sendiri.
" Ha.. hantuuuuu! aaahhh.. Kunti.. ada kunti.. to.. tolonggg..!"
Joe berteriak sambil berlari menuju ke arah parkiran dengan sendal yang masih dia bawa sebelah.
" Heii.. hantu.. hantu.. palelu peyang..! enak saja gadis cantik sepertiku dia bilang hantu, heeiii.. itu sendalku mau dibawa kemana, heiii..."
Gadis itu menenteng sendal satunya lagi sambil berlari mengejar Joe yang sudah lari ngibrit seperti cacing kepanasan.
Buuughhh..
Gadis itu kembali melempar sendalnya yang satu lagi.
" Berhentii.. itu sandalku mau kamu bawa kemana?"
Dia berhasil menarik jas Joe sambil ngos - ngosan.
" Ampun.. ampun Nyai Kunti, aku tidak bermaksud mengganggu tidurmu, aku hanya mencari udara segar, sebentar saja kok, ini aku mau pulang, tolong lepasin saya kali ini, ampun Nyai.. ampuuunn!"
Joe memejamkan matanya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya sambil ngoceh ngalor - ngidul.
" Bahahahaha... Nyai..? sejak kapan Mbak Kun berganti gelar jadi Nyai..?"
Umpat gadis itu terheran sendiri.
" Jadi apa dong?"
Ucap Joe gemetaran.
" Eh.. iya juga ya? jadi apa ya?"
Dia ikut bingung sendiri.
" Emang nama anda siapa Mbak? "
Tanya Joe malah jadi penasaran.
" Eveline..!"
Ucap Gadis itu polos.
" Wuaahh.. Kuntilanak jaman sekarang namanya keren ya? Eveline.. hemm.. bagus juga!"
Ucap Joe manggut - manggut tanpa berani menoleh.
" HAAHH..! kamu kira aku beneran hantu ya! enak saja.. sini.. sini.. buka matamu lebar - lebar! apa aku terlihat seperti hantu!"
Ucap Eveline sambil menarik telinga Joe menghadap kearahnya.
" Haah? jadi kamu manusia? bukan hantu?"
__ADS_1
Joe meraba wajah mulus Eveline.
" HEII.. berani - beraninya kamu nyentuh wajahku ya! mau gue gibeng nih?"
Eveline sudah mengangkat tangannya tinggi - tinggi.
" Waah.. ternyata kamu memang manusia, dalam dunia hantu mana ada kata - kata gibeng ya kan?"
Joe merasa lega.
" Dasar wong gendheng..! ( orang gila )
Umpat Eveline kesal.
" Habis bajumu putih memanjang gitu? dan rambutmu ini, panjang juga mirip banget dah sama punya mbak Kun!"
Ucap Joe memegang rambut panjang nan hitam yang tergerai itu.
" Enak aja kalau ngomong, mana ada baju mbak Kun modis dan banyak payetnya gini? mau beli dimana coba? payet mahal gini tauk!"
Ucap Eveline sombong.
" Mana tau ada Mall disana kan?"
" Benar - benar kagak waras nie orang! haah.. sudahlah, kemarikan sendalku aku mau pulang!"
Ucap Eveline menarik sendal dari genggaman tangan Joe.
" Emang kamu punya rumah?"
Tanya Joe masih penasaran.
" Jadi? kamu pikir aku tinggal di Kuburan gitu?"
Eveline kembali naik darah dibuatnya.
" Ya.. aku mana tahu ya kan? coba berputar? berlubang kagak pungungmu?"
Perintah Joe yang dibalas tendangan di lutut Joe.
Duuughh..
Eveline menendang sekuat tenaganya, sambil menyingsingkan gaun panjangnya.
" Awww.. awww.. sakit tauk!"
" Aku sumpahin, pulang nanti kamu bener - bener lihat hantu yang menyeramkan! dasar gendheng..!"
Eveline segera beranjak dari taman itu sambil menenteng kedua sendalnya mencari taksi di dipinggir jalan raya.
" Astaga.. kenapa sial sekali hari ini, udah di pesta kayak orang hilang, kagak kenal siapa - siapa, pergi kesini niatnya menghilangkan kebosanan malah dibilang Hantu, aaarrrgghh.. sial betullah!"
Umpat Eveline setelah menaiki taksi.
" Mau kemana ini mbak?"
Tanya Sopir taksi itu.
" Ke Perumahan jalan Timoho pak!"
Ucap Evelin menyandarkan kepalanya yang terasa berat.
" Baik mbak."
Ucap Sopir itu tersenyum.
Acara pesta pertunangan Doni dan Alexa berjalan dengan lancar dan meriah, walaupun hanya keluarga besar dan kerabat terdekatnya, tapi sudah membuat suasana menjadi meriah.
" Malam ini kamu sudah resmi jadi tunangan seorang Doni Setyawan, apa kamu bahagia malam ini sayang?"
Ucap Doni menyandarkan kepalanya di pundak Alexa.
Mereka berdua duduk di kursi ayunan panjang di taman samping rumahnya, masih dengan baju yang sama saat pesta tadi.
" Lebih dari kata Bahagia kalau ada bang, kalau mengingat perjuangan kita yang rumit untuk mendapatkan restu, rasa - rasanya ini seperti mimpi bang."
Ucap Alexa menitikkan air mata bahagia.
" Ini bukan mimpi yank, ini nyata."
Ucap Doni menegakkan kepalanya dan memegang kedua pipi mulus nan berseri itu.
" Terima kasih bang, karena tidak menyerah memperjuangkan aku sampai di titik ini?"
Air mata Alexa meleleh dengan derasnya.
" Saat itu aku hampir saja menyerah, tapi saat jauh darimu walau hanya sebentar saja, hatiku rasanya tidak tenang, bayangan wajahmu selalu saja menghantui abang, otak abang sudah terkontaminasi dengan namamu yank!"
__ADS_1
Ucap Doni tersenyum bahagia.
" Emang aku Virus apa? kenapa sampai terkontaminasi!"
Ucap Alexa menyembunyikan raut wajah malunya.
" Iyaa.. virus - virus cinta!"
Ucap Doni sambil cengar - cengir.
" Diih.. abang nggak cocok jadi tukang gombal deh!"
Alexa tertawa geli melihat wajah Doni saat ini.
" Cantik.."
Ucap Doni terpesona.
" Apa? siapa?"
Doni tidak berkedip menatap wajah cantik Alexa dibawah sinar bulan purnama itu.
Sorot mata cinta mereka saling bertemu, wajah Doni mulai mendekat, mengikis jarak diantara mereka, Alexa mulai memejamkan matanya pasrah menerima apapun yang akan terjadi, Doni sudah memiringkan kepalanya mengatur posisi ternyaman untuk mendaratkan ciuman manis di malam bersejarahnya malam ini.
Saat bibir mereka baru menempel seperskian detik, tiba - tiba...
" Aa"..aa" Doni..! aa' Doni dimana?"
" Haiiiisss.. si bocah itu menggangu saja!"
Doni menghela nafas panjangnya, baru saja dia mau melakukan penyerangan fase pertama sudah dibabat habis dengan suara bocah penggangu itu.
" Apa? siapa yang mengganggu, emang kalian sedang apa?"
" Ini urusan orang dewasa! kemana saja kamu tadi, ini bukan di kampung uwak, kalau kamu hilang bagaimana!"
Doni mulai mengomel sambil melampiaskan amarahnya karena aktifitasnya terganggu.
" Yaelah.. hari gini? hilang? hellooooo.. ada goggle maps aa"..! jangan katrok deh!"
" Ini bocah kalau dibilangin nglawan mulu! ada aja jawabannya! kamu udah makan belom tadi!"
Tanya Doni.
" Belom A' laperr!"
" Kalau laper kenapa malah kelayapan!"
Ucap Doni menjewer telinga adiknya.
" Ya sudah ayok kita kedepan, kakak juga belom makan, kita makan sama - sama yuk!"
Ucap Alexa sambil mengandeng dua lengan yang menjadi keluarga barunya saat ini.
Mereka bertiga duduk di meja makan, berbagai menu makanan sudah dihidangkan oleh si centil Bety.
" Silahkan makan Mas Al, makan yang banyak ya.. biar tambah ganteng, hihihi.."
Ucap Bety dengan tingkah centilnya.
" Sejak kapan nama Aa' jadi Al? Al siapa jadinya? masak AlDoni?"
" Mas Al.. yang itu lho, Aldebaran hatiku, hihihi.."
Bety tertawa seperti hantu.
" Jangan dengarkan dia dek, dia itu korban sinetron! semua yang dia rasa ganteng dipanggilnya Al..!"
Sahut Alexa sambil tersenyum miring melihat tingkah asisten rumah tangganya.
" Ya nggak semua non, nah... kalau itu.. mas Rendy..? mas.. udah makan belom? mau Bety siapin juga nggak?"
Ucap Bety melihat Joe yang baru saja kembali.
" Rendy siapa lagi?"
Ucap Adek Doni semata wayang itu sambil menajamkan pandangannya ke arah Joe yang mendekat.
" KAMUUUUUUUUU...!"
Teriak mereka berdua bersamaan.
Aku siapa ya? hehe..
Jangan lupa berbagi VOTE dengan author ya?
Semoga dimudahkan rejeki kalian semua π
__ADS_1