CINTA INI TAK BERSYARAT

CINTA INI TAK BERSYARAT
153. Kangen kamu yang dulu.


__ADS_3

...πŸƒπŸƒ Happy Reading πŸƒπŸƒ...


Memang benar, mencintai seseorang secara berlebihan menandakan bahwa kita sangat takut kehilangannya. Namun bukan berarti kamu harus mengekangnya, bukan berarti kamu mengambil alih kehidupannya. Apakah kamu tahu bagaimana perasaan orang yang kalian cintai itu? Apakah dia senang dengan sikap berlebihanmu itu? Pasti jawabannya tidak!


Di balkon kamar Joe, memang didesain khusus agak lebar, karena memang dia sering menghabiskan malam disitu dengan segelas kopi hitam dengan view bintang - bintang yang bertebaran dilangit, dan ditambah kerlap - kerlip lampu kota.


Disana juga ada berbagai tanaman yang sengaja dia taruh agar suasana menjadi lebih adem dan menyenangkan.


Walaupun kamar itu jarang Joe pakai, karena dia juga punya apartement sendiri disini, namun kamar itu selalu dirawat oleh asisten rumah tangga Alexa.


Saat Joe menyambar bibir Eveline yang mengerucut dan terlihat menggemaskan, tiba - tiba terdengar suara dua gadis berseragam sepertinya sedang melotot kearah mereka berdua.


" Evelineeeeeee....!"


Sontak Eveline langsung melompat dari pangkuan Joe, sampai kepala mereka terhantuk dengan begitu keras.


" Aaaw.."


Joe memijit kepalanya sendiri yang sedikit nyeri, sedangkan Eveline langsung merapikan seragamnya tanpa memperdulikan nyeri dikepalanya.


" Eeh.. kalian, kenapa bisa sampai disini?"


Eveline tersenyum canggung dengan kedua sahabatnya itu.


" Bukannya dia.. yang kamu bilang pamanmu itu?"


Siska teman Eveline menajamkan penglihatannya pada sosok tampan dibelakang Eveline yang sudah tersenyum kearahnya.


" Hehe.. iya, tadi mataku kelilipan, jadi paman bantu niup - niup aja itu, hehe.."


Eveline menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Gitu? masak cuma niup doang? kayaknya enggak deh tadi?"


" Sudahlah, ada apa? kenapa kalian mencariku?"


Eveline mengalihkan pembicaraan.


" Kita harus kembali ke asrama, komandan memanggil kita!"


Dewi mencoba menghilangkan rasa penasarannya, toh nanti dia bisa menginvestigasinya kembali.


" Gilak Lin..? dia tersenyum ke arah gue? aaah.. klepek - klepek hati gue!"


Siska memegang dadanya yang dag dig dug tanpa menghiraukan perbincangan mereka.


" Astaga ini bocah! tutup matamu, ayok kita turun!"


Eveline langsung mengusap wajah Siska dan mendorongnya keluar dari kamar Joe.


Saat menuruni tangga, Joe mengekori langkah Eveline.


" Moy.."


Joe mencolek pinggang Eveline sambil berbisik.


" Apa?"


Eveline terus saja melangkah, tanpa menoleh ke arah Joe.


" Dimaafin kagak nie?"


Joe menarik sragam Eveline seperti anak kecil yan minta permen.


Eveline diam saja tanpa menjawab pertanyaan Joe.


" Yank.. gimana?"


Joe memilin rambut pendek Eveline sambil berjalan.


Eveline masih enggan membahasnya.


" Till.. kuntilll...!"


Joe mencubit gemas pipi Eveline dari belakang, kesal karena omongannya tidak ditanggapi sedari tadi.


Tiba-tiba...


Seetttt..


Eveline mengambil pistol dari pinggangnya dan mengarahkan tepat dikening Joe.


" Allohuakbarrrr..!"


Joe dengan reflek mengangkat kedua tangannya ke udara sambil memejamkan matanya karena terkejut.


Dia lupa gadis yang didepannya ini, sudah beralih profesi.


" Paman tahu, berapa nilai ketepatanku dalam membuat lubang dipapan latihan menembak?"


Eveline memain - mainkan pistol itu di wajah Joe.


" Mana kutahu!"


Joe menajamkan pandangannya kearah Eveline dengan senyum terindahnya.


" Sembilan puluh sembilan koma sembilan persen!"

__ADS_1


Eveline tersenyum miring sambil bergaya didepan Joe.


" Owh yaaaa?"


Dengan gerakan kilatnya Joe menyambar pistol dan menarik kedua tangan Eveline kebelakang tubuhnya sendiri, bahkan seperti menangkap penjahat sungguhan.


" Awww... lepas paman!"


Eveline yang terlena dengan sorot mata pria yang sudah mengobrak abrik jiwanya ini terkejut sendiri, niatnya hanya main - main malah dia yang dimainin.


" Panggil aku sayang! baru aku lepas!"


Joe berbisik dengan suara erotis ditelinga Eveline.


" Malesss... paman jeleeek!"


Ucap Eveline masih memberontak.


" Masih mau ngelawan ya? okey kalau gitu? aaahh.. kita coba ya? bagaimana reaksi orang - orang disini kalau melihat seorang abdi negara berseragam lengkap berciuman didepan umum? kira-kira seperti apa reaksinya ya? Viral pastinya!"


Tangan kiri Joe masih stay mencengkeram kedua tangan Eveline dan tangan kanan memutar - mutarkan pistol dengan wajah sudah bercondong kedepan.


" Paman..! jangan main - main ya? paman lupa siapa aku sekarang?"


Ucap Eveline dengan mengeratkan giginya, bisa saja dia menendang bagian intim Joe untuk bisa lepas dari cengkraman Joe, namun dia tidak ingin membuat kacau dan gaduh di acara pernikahanh kakaknya.


" Gemoy kesayangan Joe yang tampan sejagad rayalah! hehe.. kakak kangeen! kangen kamu yang dulu!"


Joe menyandarkan kepalanya dibahu Eveline dari belakang.


" Paman aku----"


Cup


Satu ciuman berhasil mendarat dipipi Eveline bagian kanan.


" Astaga Paman jangan----"


Cup


Ciuman kedua berhasil mendarat dileher mulus Eveline.


" Okey.. okey.. sa.. sa.. sayang."


Eveline menyerah, daripada dia menjadi tontonan ya kan?


" Yang bener manggilnya!"


Senyum licik Joe mulai terbit.


" Sayang."


" Yang mesraa dong?"


Joe berbisik ditelinga Eveline dengan akhiran gigitan kecil diujung telinganya.


" Sayanggggku..."


Ucap Eveline jengah.


Cup


" I love you.."


Joe menyambar bibir ranum Eveline sekilas dengan senyum kemenangan dari dirinya dan sontak melepas cengkraman kedua tangan Eveline.


" Kakak iiihhh... jangan gitu!"


Terlihat pipinya sudah merona karena kelakuan nakal Joe yang sebenarnya memang sangat dia rindukan selama ini, hanya Joe lah yang selalu membuat hari - hari Eveline penuh dengan senyuman, penuh dengan gelak tawa karenanya.


Bukankah jatuh cinta itu berjuta rasanya?


" Bilang Too dong!"


Joe masih saja menggoda Eveline sepanjang perjalanan turun dari tangga.


" Maless iiihh kak.. kakak ini nggak ada malu-malunya ya kek gitu? kalau tadi ada yang liat bagaimana?"


Bibir tipisnya sudah mulai mengerucut kembali.


" Dari dulu malah! haha..."


Tanpa merasa bersalah Joe tertawa dengan renyahnya sambil mengekori langkah Eveline mendekati gerombolan temannya.


" Lin.. kamu maen gila ama pamanmu sendiri ya! gilak loe, cari yang laen napa? dia buat gue aja!"


Ucap Siska lirih yang tadi sempat menoleh saat ada adegan live yang Joe ciptakan, walau dari kejauhan, tapi Siska si polwan ratu julid itu yakin tadi melihatnya.


" Apaan sih Sis? udah ayo kita balik, kalian pergi ke mobil duluan, aku pamit dulu sama kakakku bentar!"


Eveline malas meladeni omongan Siska yang pasti tidak akan puas dengan satu jawaban.


" Teh.. aa' aku pamit balik ke asrama ya? kami sudah ditunggu komandan!"


Jawab Eveline mendekati kursi pelaminan.


" Entar malem kesini lagi kan Moy?"

__ADS_1


Doni yang ingin bertanya hal yang sama malah jadi melongo saat melihat Joe sudah berdiri tegak dibelakang Eveline dengan suara beratnya.


" Iya.. kesini lagi kan dek, entar malam masih ada acara lho?"


Akhirnya Alexa yang bertanya.


" Emm.. lihat nanti ya teh, aku usahain deh! kalau masih sempat tapi?"


Ucap Eveline yang tidak yakin entah masih sempat atau tidak, soalnya dia harus mengurus perpindahan tempat Dinas.


" Kakak jemput ya Moy?"


Joe langsung menawarkan diri dengan sigap.


" Nggak..! kayak kakak tahu aja tempat pendidikan ku!"


" Ciiihhh... kakak hafal jalannya diluar kepala, bahkan kakak tahu jalan tikus agar bisa cepet sampai ditempatmu itu!"


Joe menjentikkan jemarinya didepan wajah Eveline yang terheran.


" TIPUUUU...!"


Eveline menjulurkan lidahnya.


" Beneran tuh dek, kemarin kan hampir tiap hari, selama ini, dia bolak balik ke asramamu biar bisa lihat kamu, padahal sekali aja nggak pernah lihat, haha.."


Alexa tertawa mengingat tingkah gila pamannya.


" Masak sih?"


Kedua mata Eveline menjeling ke arah Joe merasa belom percaya.


" Tukang Somay deket asramamu jadi saksi perjuangan kakak!"


Ucap Joe santai, seakan itu jadi pembuktian cintanya.


" HAH? kasian banget nasipmu paman!"


Ledek Eveline tanpa merasa bersalah.


" Kamu panggil aku paman lagi aku nikahin kamu sekarang ya!"


Kedua bola mata Joe sudah melotot hampir keluar dari cangkangnya.


" Hahaha... A'.. Teh aku pamit ya!"


Teriak Eveline sambil berlari turun dari panggung, sontak Joe langsung mengejarnya, mereka seakan lupa, berapa umur mereka sekarang.


Doni dan Alexa hanya geleng - geleng kepala saja saat melihat tingkah mereka berdua.


Saat sampai didepan pintu Eveline menghentikan larinya.


" Stooop.. aku harus pergi sekarang!"


Eveline mengatur deru nafasnya.


" Kakak anter aja napa Moy?"


Joe masing ingin berlama - lama melihat gadis yang sangat dia rindukan itu.


" Aku pake mobil Dinas kak, tuh udah ditungguin!"


Dagu Eveline yang tirus itu menunjukkan mobil dinasnya ditepi jalan raya.


Brekk


Joe mendorong tubuh Eveline kesudut tembok dan mengungkungnya diantara dua lengan kokohnya.


" Kak?"


Eveline dibuat terkejut dengan aksi Joe kembali.


" Kamu udah maafin kakak kan? kamu nggak menghindar lagi kan dari kakak?"


Joe mendekatkan wajahnya dengan ekspresi ancaman.


" Astaga kak.. iya.. iya dimaafin!"


Eveline malas meladeni Joe, daripada kelamaan, padahal ada banyak hal yang harus Joe pertimbangkan untuk tetap bersama dengannya sekarang, dia tidak sebebas dulu lagi, ada peraturan dan kewajiban yang harus dia jalankan setelah pendidikan awal dia selesaikan, bahkan dia ragu bisa melanjutkannya lagi atau tidak.


" Kamu masih menjaga hatimu untuk kakak kan? tidak ada nama lain yang terselip dihatimu selain nama kakak kan yank?"


Tatapan Joe berubah menjadi tatapan sendu, bahkan matanya sudah memerah.


" Kak aku-----"


" Sayangg.. Tolong jangan tinggalkan kakak dengan alasan apapun! kakak sudah menerima hukuman darimu selama beberapa bulan ini jauh darimu, kakak tersiksa selama ini kamu tinggalkan tanpa penjelasan, kakak mohon jangan seperti ini lagi sayang, kakak sayang banget sama kamu?"


Joe memegang kedua bahu Eveline.


Eveline hanya bisa menghela nafas panjang, kata - kata terakhir dari mulut Joe membuatnya sedih, seperti luka sobek yang berdarah dan terkena air jeruk nipis.


Perih.. itu yang dia rasakan.


Akankah Eveline berubah pikiran?


Akankah Joe kembali ditinggalkan?

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya sayang?


__ADS_2