
...Happy Reading...
⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘
..."Jangan mengikuti ego yang membawamu terlalu jauh pergi, lalu lupa caranya untuk kembali sebab, yang menanti seringkali lelah sendiri."...
Joe yang sudah tidak sabar ingin berbicara dengan Eveline memutuskan untuk mendekati gadisnya yang tengah bercanda ria dengan teman satu angkatannya.
Dia sudah tidak perduli lagi dengan tanggapan Eveline, dia hanya ingin menjelaskan apa yang menganjal dihati dan pikirannya saat ini.
" Dedek.. kakak ingin bicara sebentar!"
Ucap Joe disela - sela obrolan mereka, terlihat mata teman - teman Eveline melihat kearahnya semua.
" Nanti saja paman, aku lagi nemenin mereka ngobrol."
Bisik Eveline masih merasa canggung dan akhirnya Eveline hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah teman lainnya.
" Ayolaah Eveline.. ada sesuatu yang harus kakak jelasin!"
Joe masih berusaha membujuk Eveline dengan tatapan syahdu dari wajah tampannya.
" Nanti kan bisa paman, masih banyak waktu sebelum aku balik ke asrama lagi!"
Eveline masih enggan memandang sorot mata Joe saat ini, entah kenapa dengannya.
Joe menghela nafasnya perlahan, mengatur emosi yang sudah akan memuncak menghadapi sifat keras Eveline.
" Moy.. ini penting, dan kamu harus mendengarnya sekarang!"
Joe berucap sambil menggengam tangannya mencari energi disela - sela emosinya.
" Paman nggak liat apa? aku lagi ngobrol nie ama temen - temenku!"
Eveline makin keras kepala dibuatnya.
" Kuntiiiilllllll... ikut aku atau aku gendong kamu sekarangggg!"
Dari sebutan paling lembut yaitu dedek, nama, Gemoy, sampai Kuntiiiilll dan sampai titik itulah kesabaran Joe habis, tanpa menunggu lagi yang entah dijawab atau tidaknya, Joe sudah megendong Eveline ala bridal style.
Semua teman dari Akpol melihat kearah mereka sambil terbengong, dan saat melewati beberapa tamu yang sempat menoleh ke arah mereka dengan senyum yang sulit diartikan, Joe bahkan memasang wajah tebalnya, tanpa merasa malu dengan apa yang dia perbuat, emosinya sudah memuncak menghadapi sifat Eveline yang susah diajak bicara pelan.
Terlihat Doni yang sedikit cemas ketika melihatnya.
" Yank.. itu Eveline mau diapain?"
Doni berbisik ditelinga istrinya sambil terus menajamkan pandangannya kearah Joe pergi.
" Biarlah bang.. biar mereka selesaikan urusan mereka yang tertunda."
Alexa menggenggam erat jemari Doni menyalurkan sebuah ketenangan.
" Tapi kenapa harus kayak gitu sih?"
Raut wajah Doni terlihat cemas.
" Abang tenang saja, tidak akan terjadi apa- apa dengan adek kita, aku tahu siapa uncle Joe, dia tidak akan berbuat melibihi batasannya, percaya deh!"
Eveline kembali meyakinkan Joe yang terlihat gusar, walau dia tahu siapa Joe tapi kalau khilaf siapa yang tahu ya kan?
" Abang.. santuy aja, biar mereka paham apa itu pengorbanan dan perjuangan Cinta, jadi kelak saat mereka bisa bersatu tidak akan mudah terpisah lagi walau dengan beribu rintangan yang menghadang! lagi juga adek abang itu jago taekwondo kayak istrimu ini, apa lagi yang abang khawatirkan, bahkan dia punya pistol sekarang di pinggangnya, kalau uncle macem - macem tinggal dooorrr!"
Alexa berucap panjang lebar dan Doni akhirnya menghela nafasnya, mencoba menghilangkan pikiran buruk tentang mereka.
Joe membawa Eveline ke balkon kamarnya, karena hanya disitu tempat yang terlihat sepi tanpa gangguan, dengan angin yang berhembus sepoi - sepoi dari pohon yang meliuk - liuk disamping kamarnya.
__ADS_1
" Sayang?"
Joe meraih kedua jemari Eveline dengan lembut.
" Aku bukan sayangnya paman lagi!"
Ucap Eveline tanpa memandang ke arah sorot mata Joe yang memandang.
" Kenapa?"
Joe masih bersikap lembut selembut sutra dan kapas putih.
" Kita kan udah putus sejak saat itu!"
Eveline menunduk sambil mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
" Siapa yang bilang?"
Joe merasa tidak pernah mengikrarkan mereka putus, tidak pernah dan tidak akan pernah terjadi.
" Ya.. itu.. itu kan otomatis paman! ketika paman bersama wanita lain, kisah kita selesai cukup sampai disitu!"
Eveline tetap dengan keputusannya.
Joe menghela nafas panjang sambil menerbitkan senyuman tertampannya.
" Sayang? dia itu sekertaris kakak? pastilah kita selalu bersama, saat itu kita mengerjakan proyek yang sama, kamu tahu sendirikan? proyek hotel yang di Lombok itu?"
Joe mencoba meraih wajah Eveline agar melihat kearahnya.
" Tapi kan nggak harus kek gitu!"
Eveline melepas kasar tangan Joe dari wajahnya.
Joe memicingkan matanya dan menatap wajah cemberut gadis didepannya sambil tersenyum menggoda.
" Diiihhh.. pertanyaan bodoh apa itu! sudahlah.. awass! aku mau pergi!"
Eveline segera memutar badannya untuk meninggalkan balkon dengan wajah kesal bercampur marah bercampur emosi yang menganjal dari beberapa bulan yang lalu.
Greeeppp!
Joe memeluk Eveline dari belakang dengan erat.
" Sayang... maafkan kakak, kakak memang bersalah, tapi saat itu kakak tidak punya pilihan, Nay tiba - tiba memeluk kakak tanpa permisi, dia sedang ada masalah keluarga, dan saat kakak ingin mengejar kamu, tiba - tiba dia pingsan, dan kakak membawanya ke rumah sakit moy!"
Joe menjelaskan semuanya sambil menitikkan air mata, lega bisa menjelaskan semua dan bisa memeluk tubuh Eveline yang sangat dia rindukan.
" Tapi kan paman bisa telpon aku setelahnya! sampai malem juga kagak ada kabar sama sekali!"
Eveline kesal ketika mengingatnya.
" Kamu nungguin ya?"
Joe malah kembali meledek Eveline, rindu sekali rasanya, sudah lama dia tidak meledek wanita yang sangat dia sayangi ini.
" Diiiihhh.. nyebelin banget sih paman tua! gendruwo nyebelin, jelek!"
Umpat Eveline ngasal.
" Hehe... ponsel kakak tertinggal di ruang meeting, dan saat kakak kembali, nomormu sudah tidak aktif, kakak hampir gila tau mencarimu?"
Joe membalikkan tubuh Eveline menghadap kearahnya.
" Kenapa nggak jadi gila!"
__ADS_1
Eveline mengerucutkan bibirnya sambil berucap ketus dengannya.
" Kalau kakak gila nanti kamu nggak mau lagi nikah sama kakak?"
Senyum manis dari wajah tampan Joe seakan menyihir mata Eveline.
" Emang siapa yang mau nikah sama paman tua kayak kamu!"
Eveline melengoskan pandangannya sambil bersidekap.
" Panggil kakak? jangan kamu, apalagi paman! kakak mau jadi suami kamu bukan paman kamu!"
Joe tersenyum sambil menyentil hidung mancung Eveline.
" Ogaaah!"
Eveline memalingkan wajahnya, walau hatinya berdesir hebat mendengarnya.
" Sayangggg... lihat kakak!"
Joe berusaha membalikkan tubuh Eveline.
" Malesss..!"
Tanpa aba - aba Joe mengendong Eveline dan membawanya duduk dikursi santai sambil memangkunya dengan mesra.
" Lepasssss.. iiihh paman jelek ngapain sih aah!"
Mulut Eveline meronta namun tubuhnya seakan menerima semua perlakuan hangatnya.
" Biarkan seperti ini dulu, Kakak kangen yank! beberapa bulan ini kakak sulit tidur mikirin kamu, bahkan kakak tidak bisa bekerja karena selalu teringat kamu sayang!"
Joe memeluk erat tubuh gadis kesayangannya itu.
" Bohooongg!"
Ucap Eveline menyangkal.
" Beneran yank, kamu bisa tanya kakakmu itu, sekarang kakak sudah tidak melanjutkan lagi proyek itu, kakak nggak mau kamu salah paham lagi dengan Nay, dulu memang kakak pernah menaruh hati dengannya, tapi saat bertemu denganmu rasa itu pudar dengan sendirinya, cuma kamu sayang yang selalu memenuhi hati dan pikiran kakak sekarang dan untuk selamanya!"
Joe menatap mata Eveline sambil menjelaskan apa yang ada dihatinya saat ini.
" Kalau paman bohong, jangan harap bisa lihat aku lagi?"
Eveline mengancam dengan tatapan tajamnya.
" Jangan panggil paman lagi dong sayang?"
Joe mengerucutkan bibirnya kesal dengan panggilan Eveline dari tadi.
" Paman jelek.. paman jelek..!"
Lidah Eveline sudah menjulur dengan gemasnya.
Hup..
Disambarnya bibir Eveline dengan gerakan tercepat dan terkilat.
" Evelineeeeeeeeeeeeee.....!"
Siapa sih yang ganggu?
Othorlah... siapa lagi ya kan?
Jangan lupa bagi Vote buat othor dong
__ADS_1